Tampilkan posting dengan label tulis saja. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label tulis saja. Tampilkan semua posting

PINDAH ALAMAT

Saya telah berpindah alamat. Untuk segala ide, pemikiran, dan bentuk tulisan terbaru akan saya posting ke:

http://jalaluddin-rumi-p.blog.ugm.ac.id/

terima kasih,
Hormatku

Jalaluddin Rumi Prasad

Posting saja dulu (walaupun ngelantur tanpa arah)

Sudah lama rasanya saya tidak melakukan postingan atau melakukan update terhadap blog-ku ini. Sepertinya keberadaan facebook (fb) telah menguras lebih banyak waktu dan pikiran, serta ruang untuk mencatat atau berbagi pikiran dengan orang lain ketimbang mengupdate blog. Dampak dari kondisi tersebut adalah, menurunnya trend grafik pengunjung pada blog ini.

Oh iya, blog ini memang sama sekali di desain dan di update TIDAK BERMAKSUD untuk meningkatkan grafik pengunjung, tapi untuk membagi atau sharing perasaan dan pengetahuan bagi siapa saja yang mempir dan berkunjung di blog ini. Satu hal juga yang membuat berbeda blog ini dengan blog lainnya adalah, blog ini hampir-hampir tidak memiliki iklan (adsense), kecuali yang memiliki fasilitas widget standar yang dibutuhkan oleh sebuah blog.

Saat ini ingin rasanya saya mengupdate apa saja kedalam blog ini, apakah tentang piala dunia yang sedang berlangsung, tentang teori-teori geografi, aktifitas yang sedang rutin kulakukan, ataukah sekedar perasaan yang sedang kualami yang orang lainpun juga pernah/sedang alami, yang jelas harus ada. Tapi pikiranku saat ini lagi blenk/kosong/atau mungkin terlalu banyak pikiran sehingga tidak bisa berkonsentrasi menyusun satu topik pembahasan yang terstruktur dan sistematis.

Sekedar informasi, blog ini baru saja berulang tahun yang ke-2 sejak mulainya 7 juni 2008 lalu, tapi aktifitas nge-blog bagi saya dilakukan sebelum lahirnya blog ini dan blog pertama tersebut sudah benar-benar terlantar. Apalagi yang harus kuucapkan dalam blog ini? Sepertiya waktunya untuk tidur. Sekedar untuk mempermanis postingan ini saya coba untuk menambahkan video saja walaupun sebuah iklan produk rokok dimana sampai saat ini tema dari iklan ini masih sangan saya sukai.



Kutipan kasus Ibu Purita Mulyasari

dari DETIKNEWS.COM

Prita Mulyasari didakwa bersalah melanggar Pasal 27 ayat (3) junto Pasal 45 ayat (1) UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Selain itu Prita juga dikenakan Pasal 310, 311 KUHP tentang pencemaran nama baik dengan ancaman hukuman 1 tahun 6 bulan.

Kasus ini berawal ketika Prita meminta kepada RS Omni International untuk memberikan hasil laboratorium terhadap apa yang dideritanya. Pihak RS tidak
memberikan tanggapan.

Merasa tidak puas dengan pelayanan RS, Prita membuat email pada tanggal 15
Agustus 2008 dengan judul 'Penipuan OMNI Internasional Hospital Alam Sutera
Tangerang' yang dikirimkan kepada beberapa orang temannya.

Email berisi ketidakpuasan Prita terhadap pelayanan RS dan buruknya pelayanan dokter yang merawatnya. Dalam hal ini nama Dokter Hengki dan Grace disebut, Prita meminta agar berhati-hati terhadap dua dokter ini.

Baca email ibu Purita yang kemudian mengantarkan beliau ke jalur hukum di:
http://suarapembaca.detik.com/read/2008/08/30/111736/997265/283/rs-omni-dapatkan-pasien-dari-hasil-lab-fiktif

tentang google...


Pada awalnya, Google adalah nama sebuah proyek riset yang dilakukan oleh dua pendirinya, yakni Larry Page dan Sergey Brin. Proyek tersebut dilakukan ketika mengambil gelar Ph.D di UNiversitas Stanford, California.

Saat kedua pendiri itu membuat hipotesis tentang search engine, mereka menganalisis bahwa adanya keterkaitan antara situs-situs web akan menghasilkan performa pencarian yang lebih unggul apa bila dibandingkan dengan search engine yang menggunakan teknik konvensional saat itu. Teknik search engine yang ada saat itu hanya merangking urutan berdasarkan beberapa banyak kata-kata kunci pencarian yang ditemukan di halaman tersebut.

Google awalnya, diberi nama “BackRub” dikarenakan mereka membuat system yang melaukan pengecekan pada blacklinks untuk mengistemasi tingkat kepentingan sebuah situs.
Awalnya prototype dari search engine google di letakkan di websaite Universitas Stanford, dengan nama domain google.stanford.edu. stelah berkembang, domain google.com baru didaftarkan pada 14 september 1997.

Ketika google.inc didirikan pada tahun 1998 di Menlo Park California, infestasi awal yang ditanamkan adalah 1,1 juta USD, termsuk didalamnya sebuah cek dari Andi Bechtolsheim-salah seorang pendiri Sun Microsystem-senilai 100 ribu USD.

Pada bulan Maret tahun 1999, perusahaan ini memindahkan kantornya kesebuah kompleks perkantoran di 165 University Avenue di Palo Alto. Kompleks ini juga merupakan markas dari beberapa perusahaan strat-up Silicon Valley lainnya.

Adapun gedung Amphitheatre Parkway, yang merupakan tempat yang digunakan oleh Google Inc. saat ini, mulai ditempati pada tahun 2003. Kompleks ini sekarang terkenal dengan nama Googleplex atau sering juga disebut Google Campus.

(dari berbagai sumber)

Menulis Itu Memang Susah

Sudah lama lagi saya tidak melakukan postingan di blog-ku ini, padahal sebenarnya saya senang melakukan posting sesuatu ke dalam blog-ku ini tanpa pernah mau memperdulikan apakah postinganku ini nantinya bermanfaat atau tidak. Mungkin karena kesibukan menangani proyek perencanaan Kota Terpadu Mandiri di Wajo atau kesibukan lainnya di Makassar sehingga saya tidak pernah lagi sempatkan diri untuk menulis bebas. Saya tahu bahwa saya ini tidak punya bakat untuk menulis, karena struktur gramatikal di IQ saya termasuk buntu, padahal segala sesuatunya kadang telah upersiapkan matang-matang mulai dari membaca berbagai macam buku sampai menyediakan kopi dan sebungkus rokok didepan komputer sampai telpon hanyku untuk mencari inspirasi, tetap saja menulis itu adalah hal yang sulit.

Mungkin suatu saat ketika kehidupan keseharian saya sudah mulai mapan (amin.... ya Allah) baru saya bisa mulai menulis secara serius. Soalnya selama ini khan kalau inspirasi sudah mulai hadir, selalu saja ada aktifitas yang menghalangi. Apakah itu cuman Nongkrong di trotoar pettarani (PK-5) atau sekedaran nongkrong di kantin kampus (dg. Lu). Terkadang saya punya ide untuk menulis apa saja yang digosipkan oleh teman-teman di tempat nongkrong trus memposting ke dalam blog-ku ini tapi tetap saja itu menjadi hal yang sulit.... pernah juga suatu hari saya melakukan surfing ke beberapa blog teman-teman bloger untuk mencari referensi yang tepat guna bagaimana saya dapat menulis, tapi sekali lagi ternyata itu adalah hal yang sulit.

Aneh, ya... padahal kalau seingatku pada saat aktif di perkuliahan, setiap tugas yang diberikan oleh dosen untuk diketik, selalu saja bisa saya selesaikan di laptopku ini. Tapi koq untuk menulis bebas seperti apa yang sedang saya rasakan ataupun apa yang sedang menjadi konflik pemikiran pada wilayah inhern dalam diriku tetap saja sulit untuk kutuangkan dalam bentuk tulisan. Saya sering berharap kalau suatu saat saya mampu menuangkan isi kepala saya dalam blog-ku seperti saya menuangkan kopi kedalam gelas lalu di minum oleh para penggiat blog... tapi itu tetap sebuah harapan. Sepertinya IQ memang buntu walaupun seingatku waktu SMU dulu saya pernah ikut tes IQ dan mendapat predikat IQ Superior, tapi koq sekarang tidak seperti apa yang dikeluarkan oleh dokumen penilaian IQ itu lagi yah... Apakah memang saya benar-benar IQ bengkok atau menulis itu memang hal yang sulit????

Tanpa perlu menyalahkan diri sendiri, saya simpulkan saja bahwa ternyata menulis itu memang SusaH...


Ekologi versus Ekonomi

Kajian tentang lingkungan hidup merupakan sesuatu yang komplek, karena melibatkan begitu banyak dimensi, yang satu sama lain saling berhubungan. Dimensi-dimensi tersebut secara sederhana meliputi antara lain : sosial, ekonomi, politik, hukum, religi, dan iptek.

Antara ekonomi dan ekologi biasanya dikonotasikan sebagai dua konsepsi yang satu sama lain tidak mungkin berjalan bersama. Ada anggapan sementara kalangan, bahwa jika ingin mengembangkan ekonomi masyarakat maka sudah seharusnya jika aspek ekologi harus dikorbankan. Begitu juga sebaliknya, gerakan pelestarian lingkungan dianggap sebagai penghambat pembangunan ekonomi, sehingga di negara kita ini enviromentalis pernah dikejar-kejar karena dianggap sebagai virus pembangunan.

Anggapan seperti ini sebenarnya, bukan hanya kecenderungan Indonesia, akan tetapi pernah menjadi anggapan dunia, sampai dikejutkan oleh laporan penelitian MIT (Massachusetts Institute of Technology) 6 Maret 1972, melalui laporannya kepada “Club of Rome”. Hasil penelitian ini merupakan peristiwa monumental karena dengan laporan tersebut telah membuka mata para negarawan, politisi, dan ilmuan, akan adanya bencana yang dihadapi oleh dunia. Dalam laporan MIT kepada Club of Rome tersebut antara lain disebutkan : jika kecenderungan – kecenderungan dalam mengelola sumberdaya alam dalam rangka pertumbuhan produksi tetap diteruskan seperti pada masa-masa yang lalu, maka bumi yang mempunyai batas-batas daya dukung, dalam waktu yang tidak lama kehidupan manusia akan mengalami bencana. Dikatakan bahwa, untuk memperbaiki keadaan ini masih ada waktu dengan mengadakan perubahan pada “tujuan hidup manusia”, salah satunya dengan menganjurkan “Zero Growth”, dimana baik penduduk maupun produksi tidak perlu mengalami pertumbuhan”. Suatu konsep yang banyak ditentang terutama menyangkut pertumbuhan ekonomi, karena ada anggapan, apabila pertumbuhan tidak terjadi maka yang akan terjadi adalah justru degradasi kualitas hidup manusia.

Laporan MIT inilah yang kemudian direkomendasikan oleh Club of Rome kepada PBB, sehingga lembaga ini tanggal 5 Juni 1973 memprakarsai Komprensi Lingkungan Hidup sedunia yang pertama di Stockholm – Swedia. Dengan penyelenggaraan konprensi ini benar-benar membuka era baru dalam gerakan pelestarian lingkungan di dunia, sejak saat itu berbagai aktivitas pembangunan selalu dikaitkan dengan aspek pelestarian lingkungan, antara lain : investasi, bantuan luar negeri, perdagangan, dll. Sebab pada dasarnya, tidaklah benar anggapan para pembangun bahwa upaya pelestarian lingkungan merupakan hambatan untuk pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang tidak berdasar pada pengelolaan sumberdaya berkelanjutan adalah pertumbuhan yang semu, yang pada akhirnya akan mengakibatkan menimbulkan kesengsaraan bagi generasi selanjutnya.

Bagi Islam temuan temuan yang kemudian direkomendasikan oleh MIT ini dan kemudian ditindaklanjuti oleh PBB ini bukanlah sesuatu yang baru, Allah telah memberikan peringatan dalam firmanNya : “ telah tampak kerusakan dilaut dan dibumi (lingkungan) disebabkan oleh tangan manusia, sehingga Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat yang mereka lakukan agar mereka kembali ke jalan yang benar” (Q.S. Ar Ruum: 41).

Beberapa penyebab degradasi lingkungan antara lain :
1. Ledakan Pertambahan Penduduk
2. Orientasi kepada Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi
3. Eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan (over exploitation)
4. Perkembangan IPTEK.

Kesejahteraan versus Keserakahan

Dalam sebuah buku karangan Mubiyarto “Moral Ekonomi Petani” dilukiskan bahwa para petani di pedesaan kita dalam berusaha mengelola tanah-tanah pertaniannya adalah bersifat subsisten; yang artinya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanaman utama adalah tanaman untuk bahan makanan (padi, jagung, sayuran dan buah-buahan). Jadi bukan suatu bentuk ekonomi kapitalis yang berorientasi pasar untuk mengejar keuntungan dengan mempertimbangkan dan meperhitungkan selisih biaya produksi dengan keuntungan yang dapat diraup. Perekonomian kebanyakan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, didominasi oleh sektor pertanian. Perekonomian yang didominasi sektor pertanian sulit maju, maka langkah awal yang perlu dilakukan ialah memacu industrialisasi.

Karena itu pula, maka pemerintah Sulawesi Selatan, di era Ahmad Amiruddin, mencanangkan program perubahan pola pikir dan program petik – olah – jual, suatu program yang mengantar masyarakat Sulsel yang mayoritas petani ini agar dalam usaha pertaniannya berorientasi pasar. Agar para petani mulai berpikir tentang tanaman komoditi ekspor, tanaman bahan industri yang bisa laku di pasar luar negeri dengan harga yang menguntungkan. Program yang menghendaki agar petani tidak menjual hasil pertaniannya dalam bentuk mentah-mentah sebelum diolah, agar harganya lebih tinggi, meningkatkan nilai tambah komoditi petani. Pewilayahan komoditas menunjuk pada lahan-lahan mana yang cocok untuk pengembangan tanaman perkebunan guna menunjang pengembangan industri dalam negeri. Di wilayah mana saja di Sulsel yang tanah-tanah pertaniannya cocok untuk dikembangkan tanaman coklat, cengkeh, kopi, merica, tebu dan lain-lain. Juga di wilayah mana saja di Sulsel yang harus mempertahankan tanaman pangan untuk ketahanan pangan dalam swasembada beras. Kecocokan antara kemampuan lahan dengan jenis tanaman yang akan dikembangkan berdampak positif pada efisiensi teknik dan efisiensi harga faktor produksi, pengurangan biaya pupuk misalnya. Semuanya tertuju untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sulsel yang mayoritas petani.

Sejalan dengan program-program pemerintah itu, lahirlah pula saudagar-saudagar Bugis-Makassar yang benar-benar pengusaha sungguhan, pengusaha yang bekerja keras dalam berbagai bidang produksi pertanian, perikanan, peternakan, pertambangan, industri, perdagangan dan jasa. Mereka berusaha menciptakan barang dan jasa yang tidak semata-mata mengejar keuntungan (profit) belaka, tetapi juga benar-benar memuaskan para konsumennya. Semboyan “Resopa temmangingngi naiya naletei pammasena Dewata” benar-benar menjiwai para saudagar sungguhan ini. Mereka kerja keras, karena kerja keras adalah “panggilan bathinnya”, sebagai makna dari “resopa temmanginggi”. Cara yang dilakukannya pun adalah cara berusaha yang benar, wajar, karena dalam cara yang benar itu akan menjadi titian “pammasena dewata”, yaitu ridho Allah SWT.

Namun di balik itu, lahir pula pengusaha-pengusaha pemangsa (predator, kanibalis, sianre bale) yang semata-mata mengejar keuntungan (profit, laba) belaka, tanpa mempertimbangkan halal-haramnya cara berbisnis. Berbagai macam trik-trik licik dalam berbisnis dilakukannya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa kerja keras. Tragedi Kospin di Pinrang dan KSU Milik Bersama adalah contoh yang paling nyata; dan akan banyak contoh yang lain-lainnya lagi bila diperhatikan. Ciri-ciri pengusaha predator (pembunuh usaha orang lain) ini antara lain:
  1. Bermain kongkalikong dengan penguasa untuk menghidar dari tagihan pajak dan tuntutan hukum atas pejahatan bisnisnya.
  2. Bekerja sama dengan militer untuk mengamankan bisnis monopolinya.
  3. Berkantor di gedung dengan perabot mewah dan bemobil mewah untuk memamerkan seakan-akan perusahaannya adalah perusahaan yang bonafid.
  4. Membanting harga barangnya untuk mematikan usaha pesaingnya.
  5. Menyembunyikan barang dan mengurangi pasokan barang untuk menaikkan harga.

Dan masih banyak lagi ciri sebagai pengusaha di mana uang atau modal dipandangnya lebih kepada alat mengeksploitasi keuntungan daripada sebagai asset yang seharusnya dikelola secara efisien untuk memuaskan kebutuhan konsumen. Mereka tidak peduli apakah perilaku ekonominya merugikan orang lain atau tidak.

Kita pun akan banyak melihat para petani kita di pedesaan yang memeras keringat demi tuntutan cita-cita orang tua dan biaya pendidikan anaknya yang sedang sekolah di Makassar atau di Jawa sana, atau cita naik haji ke Tanah Suci menyempurnakan rukun ibadah Islamnya. Ranting-ranting pohon dan sesemakan ditebas untuk diolah menjadi tanah-tanah kebunnya demi cita kesejahteraan hidup yang ingin diraihnya. Cucuran keringat kelelahannya terlupakan dengan membayangkan onggokan-onggokan padi atau jagung di kamar, atau hamparan biji-biji coklat dan cengkeh yang dijemur di halaman.

Tetapi juga di balik itu, kita akan menyaksikan gaung-gaung senso para konglomerat yang menyapu bersih hutan-hutan lindung tanpa memperdulikan siapa lagi yang akan menjadi korban banjir, kehilangan jiwa dan harta bendanya. Di laut, kita akan menyaksikan para pengusaha ikan dengan pukat harimau, cara membom dan meracun ikan-ikan yang ikut menghancurkan ekosistem terumbu karang (potasium sianida, kalium sianida, KCN) “Cucuran keringat kelelahannya” terlupakan dengan membayangkan onggokan-onggokan uang di kamar atau tumpukan kartu kredit (credit card) di dompet. Kitapun dapat menyaksikan bagai mana manusia wanita bukan lagi dipandang sebagai faktor produksi tenaga kerja yang bekerja meningkatkan produksi, tetapi sudah lebih sebagai barang komoditas yang diperjual-belikan dalam bungkus kemasan ruangan berlampu remang-remang, berkelap-kelip, dan dalam alunan musik aliran barat. Sementara di depan rumah-rumah karaoke itu terpampang gambar dan merek-merek minuman bergengsi, kehormatan manusia modern, merek dan gambar minuman keras.
Cobalah kita saksikan sebuah contoh lagi, misalnya mengikuti konvoi mobil-mobil truk pengangkut kayu dari Luwu, dari tepi danau Towuti, dari DAS Malili, DAS Kalaena; dan perhatikan apa yang terjadi di setiap singgah di suatu pos penjagaan antara sang sopir dengan sang penjaga pos. Apakah itu rahasia umum? Hati-hatilah menegur mereka, karena mereka dikawal oleh anggota koramil dari kecamatan “Negeri Entah Berentah”. Belum lagi jika memeriksa, misalnya, SAKO-nya (Surat Angkutan Kayu Olahan) yang diterbitkan oleh Dinas Kehutanan setempat, Anda akan dibuat “tercengang”. Lalu bagaimana kelak dengan nasib DAS Malili, DAS Kalaena, DAS Kobo dll-nya, maka pasti akan sama dengan nasib DAS Walanae, DAS Bila yang telah dan akan banyak menyubangkan atau memberi kontribusi, antara lain, musibah banjir bagi penduduk Wajo dan Soppeng.

Kini generasi muda dan juga generasi dewasa kita sedang larut dalam jaringan bisnis para pengusaha predator kesejahteraan masa depan bangsa. Sebuah trik bisnis baru yang semata-mata mengejar uang; yaitu bisnis komoditi sabu-sabu, narkotika, obat-obat psikotropika dan lain-lain nama labelnya.
Dan akan banyak contoh, banyak contoh lagi jika kita mau mencermati para pelaku bisnis, pengusaha predator kita yang terhormat karena mampu menyumbang untuk bangunan mesjid, pesantren, isi amplop di pesta perkawinan dan lain-lain.

Demikian pula dalam perilaku konsumen, kita akan menyaksikan ada dua macam pola konsumen. Ada konsumen yang secara wajar ingin memperoleh manfaat atau kepuasan yang sebesar-besarnya dari tiap barang yang dikonsumsinya. Mereka menikmati dengan penuh rasa syukur apa yang diperoleh dengan kerja kerasnya. Mereka menggunakan barang (harta) secara wajar, tidak boros, tetapi juga tidak kikir. Tetapi ada pula yang tidak wajar, yaitu mereka yang menkonsumsi barang hanya untuk pamer. Di Amerika misalnya, seperti yang dilukiskan oleh seorang ahli ekonomi Amerika, Thorstein Bunde Veblen dalam bukunya yang terkenal berjudul The Theory of the Leisure Class (1899); yang diperhatikan masyarakat sekarang adalah uang. Segala sesuatu juga dinilai dengan uang. Sekarang orang tidak peduli apakah perilaku ekonominya itu merugikan orang lain atau tidak. Orang beramai-ramai mencari dan meperebutkan harta tanpa peduli akan cara. Hal ini tidak lain karena adanya anggapan bahwa hanya harta yang mampu menaikkan status, harga diri atau gengsi seseorang dalam masyarakat.

Jika harta telah terkumpul, orang punya banyak waktu untuk bersenang-senang (leisure). Dengan demikian pada masa sekarang, kemampuan utnuk hidup bersenang-senang juga dijadikan sebagai alat untuk memperlihatkan derajat atau status seseorang. Makin mampu ia tidak bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan produktif (leisure), makin tinggi derajatnya dalam masyarakat. Penyakit pamer banyak berjangkit terutama di kalangan perempuan-perempuan kita, tulis Veblen, banyak dapat kita saksikan mereka memakai gaun mode mutakhir berharga mahal, bahan-bahan kosmetik dari merek yang dipamer di TV oleh para selebriti kenamaan. Kehalusan wajah, kulit tubuh dan kehalusan jari-jemarinya seakan mengumumkan bahwa ia tidak pantas atau tidak cocok lagi untuk bekerja di sawah atau pada pekerjaan-pekerjaan produktif lainnya. Perhiasan emasnya seakan toko emas berjalan, dan terkadang harus minum obat antalgin dulu agar beratnya gelang emas di tangan dan kaki serta kalung di leher tidak terasa mengganggu gaya penampilannya.

Dengan harta melimpah orang berlomba-lomba membeli barang-barang mahal yang digunakan untuk pamer. Kecenderungan perilaku konsumsi seperti itu disebut Veblen dengan istilah conspicuous consuption dan oleh Duesenberry dengan istilah demontration effects.
Apa dampak perilaku konsumer seperti itu bagi pengelolaan sumberdaya alam? Seperti telah disebutkan di atas, dampaknya ialah melahirkan pengusaha-pengusaha predator; yaitu pengusaha yang tidak peduli lingkungan, tidak peduli sumber-sumber daya bumi ini adalah titipan anak-cucu yang harus dijaga kelestariannya, keberlangsungannya. Yang ia pedulikan adalah uang atau modal untuk mengeksploitasi sumber-sumber daya yang ada. Mereka adalah pengusaha yang membunuh pengusaha-pengusaha sungguhan yang bekerja keras dalam produksi dan distribusi yang juga menikmati dengan penuh rasa syukur setiap barang dan jasa yang diperolehnya dari hasil kerja kerasnya sendiri. Sementara di kalangan penguasa memunculkan pejabat-pejabat koruptor sebagai rekanan dan mitra usaha para pengusaha predator tersebut.

Jika kemudian lahan-lahan DAS, sumber-sumber daya alam lebih banyak di kuasai oleh segelintir orang dari kelas pengusaha predator, sementara para petani mayoritas pekerja keras berubah status menjadi buruh tani saja, maka kelak Insya Allah, akan terjadi kecemburuan sosial, akan terjadi pertentangan kelas dalam tragedi pertumpahan darah. Dan pada gilirannya negeri ini akan berkeping-keping dalam kerusuhan berkelanjutan seperti pada masyarakat Maluku, masyarakat Aceh, masyarakat Papua, Kalimantan, Poso dan lain-lain.

Bapakku bicara tentang ospeknya...

Dekade Tahun 1960-an: Mencabut Hak Kemanusiaan

Di depan barisan cama-cami (panggilan untuk mahasiswa/I baru) ketua seksi acara Perpeloncoan (penerimaan mahasiswa baru), sambil memegang mike/megafon mengumumkan (antara lain),

“Mulai malam ini hak kalian sebagai manusia dicabut. Cama-cami diharuskan tertunduk di depan senior/seniorita, dilarang menatap mata dan muka senior/seniorita. Tatapan mata kalian ke bawah, ke tanah, ke atas tidak boleh lebih tinggi dari mata kaki senior dan seniorita. Kalian dengaaaar???!”. “Dengaaaar!!!”, sambut cama-cami serentak. Sementara di luar barisan cama-cami, berdiri para senior/seniorita dengan tampang dibengis-bengiskan, turut pula teriak, “Dengaaar itu!!!”. Ketua Seksi Acara melanjutkan, “Jika ada senior/seniorita lewat di depan kalian, semuanya harus tunduk terbungkuk hormat ala hormat Jepang. Semua cama-cami harus tunduk patuh pada perintah senior/seniorita. Barang siapa yang melanggar perintah, akan dihukum dengan hukuman yang berat”. Senior/seniorita pun teriak, “Dengaar itu!”. Sang Ketua Seksi Acara melanjutkan, “Sebagai acara pertama, yaitu acara pemanasan, maka corong saya serahkan kepada Seksi Olah Raga”.

Ketua Seksi Olah Raga maju mengambil bendera Pelonco untuk dijadikan tongkat komando. “Dengar kalian semuanya. Bila bendera ini diangkat naik-turun tinggi-tinggi, maka kalian harus pula ikut lompat-lompat di tempat tinggi-tinggi; bila bendera diangkat miring ke kiri atau ke kanan, ke depan atau ke belakang, maka lompat-lompatan kalian harus miring pula sama dengan ke arah mana miringnya bendera. Sekarang kita mulai, satu-dua, satu-dua, satu dua tiga empat, teruuuus …teruuus……”, dan seterusnya.

“Acara pemanasan dilanjutkan dengan acara kereta api berjalan. Semuanya duduk, tangan kiri dimasukkan ke bawah pantat sambil tangan kanan memegang tangan kiri teman yang ada di depannya; …. segera …. laksanakan. Senior koordinator masing-masing Jurusan diminta memegang tangan cama/cami yang paling depan sebagai lokomotifnya. Kereta api berjalan keliling lapangan ini; mulai, …. ayo mulai jalan”. Setelah tampak semua rata-rata kecapean, kereta api pun dihentikan. Selanjutnya cama-cami diperintahkan mengambil buku tulis masing-masing untuk acara perkenalan dengan senior/seniorita, disebut acara senior/seniorita.
Acara malam itu berlangsung sampai jam 02.00 dinihari. Dan besoknya, cama-cami wajib apel paling lambat pada jam 04.30 pagi. Demikian seterusnya hingga berjalan 3 minggu atau 1 bulan penuh.

Ada 3 (tiga) buah buku tulis yang disiapkan oleh cama-cami. Satu buku catatan tentang ceramah, satu buku perkenalan dengan dosen dan pejabat lembaga, dan satu buku lagi untuk perkenalan dengan mahasiswa senior (senior/seniorita). Pada buku catatan sudah dibuatkan tabel dengan kolom-kolom nama, jurusan, alamat dan tanda tangan. Buku catatan harus rapi dan bersih, bila tidak harus diganti baru. Cama-cami diwajibkan mengumpul sekian ratus tanda tangan dari senior/seniorita dan panitia, dan 100% dari jumlah dosen jurusan, serta tanda tangan pimpinan fakultas dan universitas.

Tanda tangan senior/seniorita dapat diperoleh di kampus, tapi tanda tangan dosen dan pimpinan fakultas/ institut/universitas harus diperoleh di rumahnya, atau diruang kerjanya. Dengan segala macam hambatan (bentuk tugas) yang harus dilalui, barulah tanda tangan itu dapat diperoleh satu per satu. Hambatan/tugas yang diberikan bermacam-macam; yang paling ringan adalah jika disuruh menyanyi, baca puisi, menterjemahkan kalimat bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah masing-masing. Tugas-tugas lainnya berupa membersihkan got/WC, menyapu halaman, mengangkat/ memindahkan barang, memijit-mijit kaki dan punggung senior/seniorita. Perintah-perintah senior/seniorita dilakukan dengan sikap serba bentakan yang tidak nyaman didengar. Hukuman kengkreng, push-up …x, bahkan ada diantaranya buku tandatangan dirobek.

Ringkasnya perpeloncoan di tahun-tahun 1960-an, dengan pencabutan hak sebagai manusia, berarti pembentukan mental penjajah.
Ada kelompok yang berperan sebagai penjajah dan ada kelompok yang berperan terjajah.
Dengan berlindung dibalik mengubah kebiasaan perilaku dunia SLTA untuk masuk ke kebiasaan perilaku baru di dunia kampus perguruan tinggi; sesungguhnya acara-acara yang ditampilkan mengarah kepada pembentukan perilaku penjajahan.

Senior/seniorita sebagai penjajah dan cama-cami sebagai kelompok terjajah. Hasilnya ialah, ketika para mahasiswa itu menjadi alumni dan memegang jabatan atau pemimpin masyarakat, maka mental mereka terbawa ke masyarakat menjadi mental penjajah yang selalu mau dilayani oleh mereka yang bernama rakyat atau bawahan dan bukan sebagai pejabat yang berkewajiban melayani kepentingan rakyat.

Biskal tentang Ospek

Setiap ajaran baru lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan khususnya di tingkat perguruan tinggi membuka pintu kampusnya untuk penerimaan mahasiswa baru. Dimulai dengan pendaftaran dan ujian seleksi hingga pengumuman lulus masuk dan pendaftaran kembali bagi yang dinyatakan lulus tes. Sebagai anggota baru dalam masyarakat kampus, mahasiswa baru (disingkat: maba) itu kemudian diharuskan mengikuti serangkaian acara pengenalan kampus. Ada bermacam-macam model acara yang diselenggarakan sesuai dengan kebijakan di kampus masing-masing.

Selama beberapa dekade yang lalu, di tahun-tahun 1950-1960-an, acara pengenalan kampus oleh maba disebut dengan perpeloncoan. Salah satu ciri perpeloncoan yang amat menyakitkan maba adalah “pencabutan hak sebagai manusia” dengan segala konsekuensinya, antara lain pembentukan mental penjajah. Ada kelompok yang berperan sebagai penjajah dan ada kelompok yang berperan terjajah. Dengan berlindung di balik paham mengubah kebiasaan perilaku dunia SLTA untuk masuk ke kebiasaan perilaku baru di dunia kampus perguruan tinggi; sesungguhnya acara-acara yang ditampilkan mengarah kepada pembentukan perilaku penjajahan. Senior/seniorita sebagai penjajah dan cama-cami (singkatan dari calon mahasiswa dan calon mahasiswi) sebagai kelompok terjajah. Hasilnya ialah, ketika para mahasiswa itu menjadi alumni dan memegang jabatan atau pemimpin masyarakat, maka mental mereka terbawa ke masyarakat menjadi mental penjajah yang selalu mau dilayani oleh mereka yang bernama rakyat atau bawahan dan bukan sebagai pejabat yang berkewajiban melayani kepentingan rakyat.

SEHARUSNYA
Mahasiswa (i) baru disiapkan untuk mengenal kampus perguruan tinggi; disiapkan mengenal norma dan budaya kampus. Norma dan budaya Kampus Perguruan Tinggi itu dilandasi oleh sikap dan perilaku Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan/pembelajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

KOMPETENSI INTI
Kampus perguruan tinggi adalah suatu lingkungan hidup kependidikan yang memiliki karakteristik tersendiri. Kampus adalah lembaga penyelenggara pendidikan tingkat tinggi, yang masyarakatnya terdiri dari kelompok-kelompok akademisi, pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kampus adalah pusat kegiatan keilmuan, teknologi dan seni yang menyiapkan manusia menjadi anggota masyarakat yang bertradisi rasional, cerdas dan berkepribadian luhur, berakhlak mulia.

Tiga pilar perguruan tinggi yang melandasi norma dan budaya kehidupan kampus disebut Tridarma Perguruan Tinggi (TPT), yaitu Pendidikan (pembelajaran), Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat. Ketiga pilar ini relevan dengan tradisi keilmuan, bahwa filosofi setiap ilmu pengetahuan harus mempunyai tiga kompenen dasar, yaitu ontologis, epistemologis dan aksiologis.
(1) Aspek ontologis adalah bahwa suatu ilmu pengetahuan mempunyai objek studi tertentu yang jelas; apa sasaran objek “materi” yang dipelajari oleh ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Halnya menyangkut bahan-bahan materi dan/atau non materi dan sumber belajar.
(2) Aspek epistemologis mengkaji tentang model-model pendekatan, metodologis atau strategi-strategi spesifik yang digunakan untuk mencari dan menemukan realitas kebenaran tentang objek studinya. Ini terangkum dalam darma penelitian.
(3) Aspek aksiologis adalah aspek tujuan dan penerapan ilmu pengetahuan untuk menjawab atau mengatasi problema-problema kehidupan ummat manusia, yaitu tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk menciptakan kesejahteraan ummat manusia. Halnya, terkandung dalam darma pengabdian kepada masyarakat.

Maba adalah kelompok masyarakat usia muda pilihan (melalui seleksi) dari masyarakat luar kampus yang mulai hadir/masuk kampus. Sebagai anggota baru dalam masyarakat kampus, maka maba perlu diperkenalkan dengan tradisi berupa nilai-nilai dan norma budaya kehidupan kampus perguruan tinggi yang berlandaskan Tridarma Perguruan Tinggi (TPT) tersebut. Suatu norma budaya kehidupan kampus yang berlandaskan TPT, berarti perilaku individu dan kelompok yang ditampilkan juga adalah representasi kemampuan sebagai pencerminan kehidupan ber-TPT yang baik dan benar. Masyarakat kampus adalah masyarakat yang berbudaya luhur; memiliki kearifan dan bijaksana, persaudaraan, senang memberi dan menerima. Masyarakat kampus bukan individu-individu yang bodoh dengan ciri kebodohan seperti angkuh, sombong, egois, serakah atau sejenisnya. Ciri masyarakat kampus perguruan tinggi adalah kehidupan kelompok kebersamaan yang cerdas, berbudaya dan beradab; makin berilmu makin arif; ibarat padi, “makin berisi makin merunduk”.

Jadi, hakikatnya adalah mempertegas realitas perilaku komunitas kampus yang mengetahui, menerima dan menguasai nilai-nilai luhur dari TPT, dan menolak (membenci, menjauhkan) penampilan yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma budaya TPT. Karena itu, seharusnya, porsi aktivitas dan even-even (jenis acara) yang ditampilkan dalam masa perkenalan maba adalah lebih besar penekanannya pada/dalam rangka membangun SIKAP (afektif) menerima nilai-nilai dan norma budaya kampus yang berlandaskan TPT. Dengan demikian, maka porsi aspek pengetahuan (kognitif) dan psikomotorik ditampilkan se-“kadar” sebagai faktor pendukung terbangunnya sikap positif maba terhadap nilai dan norma budaya kampus yang ber-TPT, karena aspek kognitif dan psikomotorik akan diperolehnya selama aktivitas perkuliahan berlangsung.

Jika dan jika SIKAP yang utama hendak dibangun, maka pendekatannya adalah pendekatan kecerdasan emosional (Emotional Quotient) dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Dan, bukan pendekatan kebodohan emosional (pa’bambangang na tolo) yang mempertontonkan kesombongan, egoisme, kekerasan dan pendendam.

Secara praktis yang dibutuhkan oleh maba adalah kecerdasan dalam berpikir, bersikap dan bertindak sebagai mahasiswa yang mampu mencari dan memanfaatkan peluang di dunia kampus sebagai lingkungan belajar secara efektif dan efisien. Dalam hal ini, menyangkut kecakapan yang dimiliki seseorang mahasiswa untuk mampu menghadapi problema hidup dan kehidupan kampus dengan wajar tanpa merasa tertekan (terjajah), kemudian secara kreatif dan proaktif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Untuk itu, aktivitas dan even-even yang diselenggarakan oleh panitia dan segenap pihak yang terlibat dalam rangkaian masa perkenalan maba dimaksudkan membantu para maba dalam mengembangkan kemampuan sebagai anggota “masyarakat belajar” (learning community). Mahasiswa baru diharapkan dapat mengembangkan potensi diri untuk menghadapi dunia nyata di lingkungan kehidupan kampus sehingga mampu memecahkan masalah-masalah kehidupan kampus yang akan dihadapinya. Sementara mahasiswa senior menempatkan diri sebagai konsultan sebaya.

Tulis-tulis saja untuk Geonya UNM

Konsep awal

Geografi:
Pengembangan Keahlian dan Pasar Kerja

I. PENDAHULUAN

Seorang calon mahasiswa yang rasional selalu mempunyai harapan-harapan tentang kehidupan masa depannya; suatu gambaran tentang wujud kehidupan kelak setelah menjadi alumni, era ketika tidak mahasiswa lagi. Kehidupan yang ditentukan oleh keahlian di mana pekerjaan menjadi dasar pemenuhan kebutuhan mengungkapkan dirinya secara realitas. Ia mengolah dunia obyektifnya secara utuh, mengukuhkan dirinya sebagai makhluk manusia yang aktif. Karena obyek dari pekerjaan adalah obyektivitasi dari hakikat manusia, maka manusia tidak hanya mengungkung diri dalam intelektual-spiritualnya tetapi manusia yang dapat melihat dirinya dalam dunia ciptaannya. Untuk itu ia memilih jurusan apa di perguruan tinggi yang dapat memberinya kemampuan untuk dapat mewujudkan harapan-harapan masa depannya itu.

Mahasiswa yang rasional adalah mahasiswa yang mampu menggunakan akal sehatnya dalam bersikap dan bertindak. Ia mampu (bebas) menetapkan pilihan-pilihannya, harapan-harapannya, aspirasi-aspirasinya, rencana-rencana dan konsepsi dirinya. Ia mampu menyusun paradigma (kerangka pikir, kerangka dasar) perjalanan hidupnya ke dalam gambaran masa kini dan masa depannya dan ia disiplin dengan paradigma kehidupan itu dalam aktualitas dan realitas perilaku sebagai seorang mahasiswa. Ia mampu berkata dalam bahasa tindakan “Ya” untuk variabel-variabel yang mendukung langkahnya dan “Tidak” untuk variabel-variabel yang akan menghambat langkahnya dalam alur koridor perjalanan ke arah tujuan hidupnya. Mahasiswa rasional adalah orang yang mampu memenej keseimbangan kemampuan bathiniah dan lahiriahnya dalam realitas perilaku sebagai mahasiswa yang bertanggung-jawab.

Suatu hal yang patut disadari ialah, bahwa masa depan di mana mereka mengaktualkan diri dalam dunia kehidupannya yang mandiri pasti sudah jauh berbeda dengan masa lalu dan masa sekarang ini. Namun gambaran dan realitas masa depan mahasiswa itu, sebagai manusia, sesungguhnya adalah hasil dari goresan-goresan historis masa lalu dan kekiniannya. Di sini, di Jurusan Geografi FMIPA-UNM ini, goresan-goresan intelaktual mereka dipertajam dalam mengukir masa depan. Karena itu, kesadaran akan tanggung-jawab dari pihak Jurusan Geografi sebagai lembaga, dosen dan khususnya mahasiwa itu sendiri dipertaruhkan di sini.

II. EVALUASI HISTORIS SOSIO-EKONOMI DAN PERADABAN

Ketika pada jaman primitif, yaitu sistem komunal primitif, kerja itu bersifat komunal dan harta milik merupakan alat produksi dan hasil-hasil produksi bersifat komunal pula. Di bawah sistem ini, tidak ada eksploitasi kerja oleh orang-orang lain. Tetapi ketika terbentuk masyarakat kelas antagonis maka kerja berkembang menjadi suatu kontradiksi-kontradiksi antagonis.
Di pihak lain lagi, peralihan bentuk-bentuk kerja yang kurang maju kepada yang lebih maju, juga merupakan peralihan dari bentuk-bentuk eksploitasi yang lebih maju. Pada bentuk kerja yang kurang maju seperti perbudakan memberi arti yang menyimpang dari kerja itu. Pun dalam sistem feodalisme dan juga dalam sistem sosialisme dan kapitalisme, manusia kerja itu semakin jauh dari hakikat dirinya.

Bila kerja itu bertujuan memproduksi barang-barang untuk kebutuhan manusia dan setiap manusia selalu berusaha mewujudkan hidup yang baik dan sejahtera tetapi dalam kenyataannya hakikat kerja itu sudah menyimpang dari tujuan luhurnya. Kerja bukan lagi pancaran diri tetapi kerja sudah tercemar sebagai unsur paksaan.

Dalam interaksinya dengan alam, manusia secara bertahap memasukkan alam ke dalam kebudayaan material dan spiritualnya. Segala perubahan-perubahan di dunia luar merupakan premis dan kondisi bagi peningkatan diri manusia. Sehingga setiap produksi manusia selalu menghasilkan kembali dirinya sendiri.
Sumber kegiatan kreatif manusia terletak dalam dinamikanya. Secara historis, tahap pertama dari kegiatan itu adalah produksi alat-alat dengan bantuan alat-alat. Aktivitas manusia bergerak dari bentuk potensialitas ke aktualitas dan berakhir dalam bentuk obyek-obyek. Proses ini merupakan transformasi konstan dari potensialitas menjadi penjelmaan obyek-obyek.

Kegiatan manusia dibedakan atas kegiatan teoritis dan pekerjaan tangan (praktis). Dalam kegiatan teoritis nampak dalam proses material dan teknis dari transformasi suatu obyek, hanya merupakan unsur seluruh kegiatan sebagai suatu sistem yang secara relatif. Dalam kegiatan teoritis proses transformasi material menentukan transformasi ideal. Kegiatan teoritis adalah suatu proses kreatif sosial yang bertujuan mengubah dunia kebudayaan manusia.
Dalam psikologi kegiatan merupakan konsep yang mengandung arti fungsi individu dalam interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Kegiatan psikis merupakan hubungan khusus makhluk hidup dengan lingkungannya. Melalui kegiatan manusia dapat bersikap menengahi, mengatur dan mengontrol hubungan-hubungan antara organisme dengan lingkungannya. Kegiatan psikis didorong oleh kebutuhan yang diarahkan pada obyek yang dapat memenuhi kebutuhan, dan dipengaruhi oleh sistem tindakan-tindakan.

Nilai pekerjaan tangan (praktis) manusia nampak dalam memberikan kegunaan nyata seperti barang-barang material. Hasil kerja tangan manusia ini dapat memberi indikasi lain dalam perjalanan sejarah dan kebudayaannya.

Persoalan-persoalan yang selalu dibicarakan setiap hasil pekerjaan tangan manusia adalah bagaimana setiap hasil kerja manusia itu menjadi milik sah dari si pekerja sendiri. Di dalam teori ekonomi, hasil kerja tangan ini selalu mengalami penyimpangan karena adanya nilai lebih. Nilai lebih ini menjadi persoalan tersendiri dalam masyarakat kapitalisme. Buruh yang bekerja siang dan malam memproduksi sejumlah komoditi sementara upah yang ia peroleh dari kegiatan produksinya lebih rendah.

Maka sikap evaluasi terhadap kerja itu sangat penting. Evaluasi harus didasarkan pada moral dan yang kedua berdasarkan evaluasi ekonomis. Untuk mencapai nilai ini, kegunaan ekonomis dari hasil-hasil kerja merupakan kaidah terakhir. Evaluasi ekonomis terhadap kerja tunduk kepada hukum-hukum moral dan hukum ekonomi. Evaluasi ini pada masa kini sangat penting. Karena bagi berjuta-juta manusia, upah yang mereka terima bagi kerjanya merupakan dasar penunjang dirinya sendiri dan keluarga-keluarganya.

Manusia bekerja tidak lain pada akhirnya membentuk nilai budaya. Karena itu sikap mengatur dan menjaga kondisi kerja merupakan sumbangan bagi kebudayaan manusia. Bila suatu kebudayaan itu ditata demi kenikmatan kelompok tertentu cepat atau lambat akan hancur. Kita perlu melestarikan hasil kerja kita melalui sikap moral dan etika terhadap nilai-nilai pekerjaan itu.

Gambaran kemajuan pada jaman modern ini berawal dari peristiwa revolusi industri di Inggris pada abad ke-18 yang lalu. Peristiwa ini merupakan titik awal kemajuan ekonomi dunia. Kejadian ini oleh para ilmuwan empiris dianggap sebagai loncatan perilaku ekonomi umat manusia.

Peristiwa revolusi industri telah memungkinkan tumbuhnya benih industri sebagai kekuatan alat produksi barang komoditi. Industri yang muncul sebagai kekuatan baru dalam kegiatan ekonomi mendorong terjadinya konsentrasi modal, peningkatan hasil produksi, dan semakin meningkatnya permintaan (demand) akan barang mentah. Dampak lain yang tak terhindarkan yakni adanya imperialisme dan kolonialisme.

Lebih jauh, revolusi industri membuka era baru dalam eksplorasi dan penemuan. Dalam perkembangan selanjutnya banyak penemuan terungkap berkat studi dan penelitian yang dilakukan. Setelah penemuan mesin pemintal benang oleh Arkwright, muncul metode produksi besi dan batubara, perbaikan teknik-teknik pertanian dan ditemukannya mesin uap.

Pada pertengahan abad ke-19, muncul penemuan dalam industri baja, jalan kereta api, mesin-mesin pertanian dan barang-barang kimia. Kemudian pada permulaan abad ke-20 penemuan bidang listrik, mobil dan mesin bakar. Dan pada masa sekarang mulai berkembang pesat bidang elektronik, satelit, komputer dan tenaga nuklir.

Disadari atau tidak, pancaroba dunia sedang menggelinding, kemajuan-kemajuan teknologi dan sistem informasi berproses untuk semakin menghilangkan batas-batasnya. Pada awal revolusi industri orang-orang di Eropa dan Amerika mengatakan time is money, dan manusia dinilai atas kemampuan kerjanya mencipta dan memproduksi barang; sedangkan pada awal abad di milenium ini kita bisa katakan: time is weapon! (waktu adalah senjata).

Pada saat yang sama, perkembangan teknologi telekomunikasi lebih maju lagi, telephon portable yang IDD dalam bentuk lebih kecil tidak dalam jangkauan transmitter yang terbatas lagi. Super computer dengan hi-tech conductor-nya makin berperan dalam kehidupan manusia. Dalam waktu dekat antena parabola tidak lagi sebesar meteran, tetapi pasti akan build-in dalam setiap pesawat TV. Maka setiap desa-desa pun akan bisa nonton acara global media informasi semacam CNN tidak bisa dihalangi seperti saat ini.

Juga di bidang natural resources yang terbatas minyak, gas, uranium dan lain-lain mineral untuk keperluan energi harus bersiap-siap untuk menghadapi saingan yang berat dari unlimited natural resources seperti tenaga matahari, tenaga angin, tenaga gelombang, dan lain-lain yang akan menjadi bidan lahirnya dunia alhcemy atau lahir bahan-bahan baru yang tangguh dari metal maupun fiber seperti yang digambarkan oleh film “Terminator II”.

Suatu simbol atau logos kultural yang progresif dengan karakter multilinear-nya akan mempengaruhi peradaban manusia. Generasi Baru akan lahir di Eropa Baru dengan pengaruh paham Transnasional tentu akan meluas ke Amerika Baru (USA, Canada dan Latin) kemudian ke Pasifik Prim.

Kalau dalam masyarakat pra-industri memandang alam sebagai sumber kekayaan, masyarakat industri mendasari kualitas kerja dan kemampuan memproduksi

Bila kita membicarakan persoalan-persoalan sosio-ekonomi dari segi teori ekonomi saja maka kita terjerumus dalam sistem kapitalisme yang hanya mengejar keuntungan pribadi. Karena dalam teori-teori ekonomi sering mengabaikan persoalan etika demi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cepat. Sebaliknya jika kita hanya menekankan etika nilai saja maka penilaian itu akan mempengaruhi kepincangan pertumbuhan ekonomi.

Para ahli sosiologi yang mengembangkan teori-teori masyarakat seperti Mills, Fromm, Parsons, Bel, mempunyai pandangan yang berbeda tentang kemajuan jaman ini. Sebagian dengan keras mengecam kemajuan ekonomi masyarakat modern, sebagian lagi tidak. Bagi kelompok yang mengecam keras, masyarakat ekonomi modern kurang lagi memperlihatkan ciri humanisme dan romantisme. Hakikat manusia diabaikan demi mengejar keuntungan pribadi dan kekayaan pribadi. Keadaan ini menyebabkan terjadinya berbagai konflik sosial dalam masyarakat.

Bagi Herbert Marcuse, masyarakat modern sudah dikuasai prinsip prestasi. Prinsip ini menyebabkan adanya kultus produktivitas pada masyarakat modern. Kultus ini adalah satu alasan terjadinya konflik yang menjadi bahan diskusi para ahli.

Bagaimanapun kemajuan pada jaman ini merupakan suatu fakta yang mengagumkan. Meski dalam era otomatisasi ini yang berperan adalah mesin namun tidak menghilangkan unsur manusia. Manusia tetap memberikan petunjuk umum dan menjalankan pengendalian atas kerja mesin. Misalnya penyesuaian program, penyediaan bahan mentah, perbaikan-perbaikan dan sebagainya. Posisi manusia tetap berperan sebagai komando penekan tombol dan fungsi servis yang lain. Otomatisasi mendatangkan penambahan produktivitas baik dalam bentuk output maupun input. Efektivitas kegiatan di bawah sistem ini selain penekanan biaya juga peningkatan mutu.

bersambung ....

blok cepu hanya 15%

saya sempat surfing di internet, melalui blog geobumi saya coba lanjut ke website resmi exxon mobil soalnya saya dengar dari diskusi di TV One antara Kwiek Kian Gie dengan sekretaris PArtai Demokrat waktu itu, katanya exxon mau memperpanjang sharing contract dengan pemerintah untuk pengelolaan blok cepu. Setelah saya kontak teman disana ternyata jawabannya "iya", bahkan menurutnya lagi sudah pembebasan lahan.
Exxon Mobil ini kalau tidak salah di gandeng sama Tomi Suharto, waktu era Megawati kontraknya tinggal sedikit tapi ketika mereka mau memperpanjang kontrak dengan menyurat ke Ibu mega, tidak direspon dan nanti era SBY-JK baru mendapat respon.

Ini hanya sekedar tulis-tulis saja karena saya khawatir, hawatir kalau-kalau PSCnya benar-benar cuman 85:15 seperti kabar yang selalu saya dengar. Kalau memang profit yang Indonesia dapat cuman 15%, lebih baik kita tunggu sampai kita memiliki kemampuan sendiri dan biarkan 100% itu milik Indonesia...............
[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]