Tampilkan posting dengan label Merdekalah Pikiran. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Merdekalah Pikiran. Tampilkan semua posting

PINDAH ALAMAT

Saya telah berpindah alamat. Untuk segala ide, pemikiran, dan bentuk tulisan terbaru akan saya posting ke:

http://jalaluddin-rumi-p.blog.ugm.ac.id/

terima kasih,
Hormatku

Jalaluddin Rumi Prasad

Aku menghadap-Mu di Hari Asyura (عاشوراء ) ini ya Allah...


اَلسَّلامُ عَلَى الْحُسَيْنِ وَعَلى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَوْلادِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَصْحابِ الْحُسَيْنِ

"Assalâmu ‘alal Husayn wa ‘alâ Aliyibnil Husayn wa ‘alâ awlâdil Husayn wa ‘alâ ashhâbil Husayn..."

Salam pada Al-Husein, salam pada Ali bin Husein, salam pada semua putera Al-Husein, dan salam pada semua sahabat Al-Husein


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Ya Allah ... Ya Allah ... Ya Allah

Wahai Yang Memperkenankan doa orang-orang yang kesulitan
Wahai Yang Menghilangkan penderitaan orang-orang yang menderita
Wahai Pelindung orang-orang yang mencari perlindungan
Wahai Penolong orang-orang yang menjerit mencari pertolongan
Wahai Yang Lebih dekat kepadaku dari urat nadiku
Wahai Yang Mendinding antara seseorang dan hatinya
Wahai Dia yang berada dalam pandangan yang mulia dan ufuk yang terang
Wahai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Yang Berkuasa di arasy-Nya
Wahai Yang Maha Mengetahui setiap mata yang berkhianat dan setiap yang
tersembunyi di dalam hati
Wahai Yang tak tersembunyi ata-Nya setiap yang tersembunyi
Wahai Yang tak terserupakan atas-Nya setiap suara
Wahai Yang tak dipersalahkan oleh setiap kebutuhan
Wahai Yang tak pernah bosan terhadap suara orang-orang yang meminta
Wahai Yang Mengetahui semua kebutuhan
Wahai Yang meliputi semua yang meliputi
Wahai Yang Menghidupkan jiwa sesudah kematian
Wahai Yang Maha sibuk dalam segala keadaan
Wahai Yang Memenuhi setiap kebutuhan
Wahai Yang Menghilangkan setiap duka
Wahai Yang Memberi setiap permohonan
Wahai Yang Memiliki setiap keinginan
Wahai Yang Memenuhi setiap kebutuhan
Wahai Yang tidak membutuhkan segala sesuatu
bahkan dibutuhkan oleh semua yang ada di langit dan di bumi.

Aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad penutup para nabi, dengan hak Ali Amirul mukminin, dengan hak Fatimah puteri Nabi-Mu, dengan hak Al-Hasan dan Al-Husein. Dengan mereka dalam kondisi ini, aku menghadap kepada-Mu, dengan mereka aku bertawasul, dan dengan mereka aku memohon syafaat kepada-Mu.
Dengan hak mereka aku memohon kepada-Mu, bersumpah dan bertekad kepada-Mu.
Dengan kedudukan mereka yang mulia di sisi-Mu, dengan ketentuan yang mereka miliki di sisi-Mu, dengan keutamaan yang Kau anugerahkan pada mereka di atas semua alam semesta.
Dengan nama-Mu yang Kau jadikan menjadi milik mereka, dengan nama-Mu yang Kau istimewakan atas mereka tidak Kau karuniakan pada alam semesta. Dengan nama-Mu yang Kau jelaskan pada mereka dan Kau jelaskan keutamaan mereka di atas keutamaan alam semesta sehingga keutamaan mereka berada di atas keutamaan alam semesta.
Aku memohon kepada-Mu
sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
hilangkan dariku segala duka dan derita
penuhi semua yang penting dari urusanku
tunaikan semua hutang-hutangku
selamatkan aku dari kemiskinan
lindungi aku dari kefakiran
kayakan aku sehingga aku tidak meminta-minta kepada manusia
jagalah daku dari orang yang aku takutkan dukanya
peliharalah daku dari orang yang aku khawatirkan kesulitan dan keburukannya
lindungi daku dari orang yang aku takutkan kesedihannya
lindungi daku dari orang yang aku takutkan keburukannya
jagalah daku dari orang yang aku takutkan makarnya
lindungi daku dari orang yang aku takutkan kezalimannya
lindungi daku dari orang yang aku takutkan kedurjanaannya
jagalah daku dari orang yang aku takutkan kekuasaannya
jagalah daku dari orang yang aku takutkan tipu-dayanya
jagalah daku dari orang yang aku takutkan keputusannya
Tolaklah dariku tipudaya para penipudaya dan makar para perekayasa.
Ya Allah
Siapa saja yang bermaksud buruk padaku tahanlah dia,
Siapa saja yang mempedayakanku gagalkan dia;
Lindungi daku dari tipudayanya, makarnya, kejahatannya, dan angan-angan jahatnya. Tahanlah ia dariku sesuai dengan kehendak-Mu, dan aku serahkan diriku pada kehendak-Mu.
Ya Allah, sibukkan ia dariku dengan kefakiran yang tidak Kau paksakan, dengan bala’ yang tidak Kau tutupi, dengan kebutuhan yang tidak Kau sembunyikan, dengan penyakit yang tidak Kau sembuhkan, dengan kehinaan yang tidak kau muliakan, dan dengan kemiskinan yang tidak Kau paksakan.
Ya Allah, pukullah kedua matanya dengan kehinaan, masukkan padanya kefakiran di rumahnya, penyakit dan derita pada tubuhnya. Sehingga ia lupakan aku dengan lupa yang tak ada lagi kesempatan untuk mengingatku. Lupakan ia padaku sebagaimana Kau lupakan ia untuk mengingat-Mu. Timpakan azab pada pendengaran dan pandangannya, lisan dan tangan dan kakinya, jantung dan seluruh organ tubuhnya. Timpakan padanya segala macam penyakit, dan jangan Engkau sembuhkan ia. Sehingga ia benar-benar melupakan aku dan tidak mengingatku. (Mafatihul Jinan, bab 3, Pasal 7, halaman 459)

PANCA INDRA DAN KAUM EMPIRIS

Jebakan dan intimidasi dunia material menyebabkan manusia sulit melepaskan diri dari ikatan dan penjara-penjara indrawinya. Keadaan seperti ini menyebabkan tak kunjung tibanya pengetahuan tentang realitas kebenaran alam gaib. Banyak orang terhempas dalam lautan keraguan pada kebenaran sampai akhir hayatnya, hanya karena sebenarnya mereka belum mempunyai keyakinan yang kokoh beserta argumentasi tentang adanya realitas kebenaran alam gaib. Penolakan akan adanya realitas kebenaran alam gaib akan menghancurkan seluruh bangunan pengetahuan manusia dan seluruh peradaban umat manusia, bahkan kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran sebagaimana kebenaran adalah gaib.
Salah satu faktor yang paling merusak dan menyesatkan pikiran mengenai kebenaran adalah ketika membatasi pikiran manusia hanya sebatas sains yang empiris. Sehingga hanya mencurahkan energi dan mental pada ilmu-ilmu yang indrawi saja. Kita menjadi asing dengan hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi indrawi. Dan akibatnya timbullah kepercayaan yang luar biasa terhadap kebenaran penilaian bersifat jasadiah yang hanya dapat diindrai saja. Bahkan ini bisa makin kronis sehingga mencapai satu titik dimana “eksprimenlah” yang berlandaskan paradigma indrawi sebagai satu-satunya alat dan sarana yang berfungsi sebagai tolok ukur kebenaran. George Pulitzer, salah seorang tokoh empirisme dalam bukunya The Elementary Principles of Philosophy, berkata; “Membayangkan sesuatu yang tidak menempati ruang dan waktu, kebal terhadap perubahan dan perkembangan adalah mustahil“. Dalam keadaan seperti ini, kita akan menolak sekaligus menyalahkan apapun yang tidak dapat diinderai. Cara berfikir seperti ini akan mematikan intelektual kita semua.
Seringkali kita melupakan kelemahan “panca indra”. Terbuai dengan kekuatannya, hal ini dapat saksikan pada orang-orang yang memuja sains hari ini. Mereka begitu bangga dengan pengetahuannya sebagai hasil dari kemajuan yang telah dicapai dalam metode eksprimental. Sehingga mereka menghayalkan dirinya telah menaklukkan dengan jaya dan menguasai dunia kebenaran. Padahal sesungguhnya tak seorang pun dari mereka (kaum empiris) yang mampu berkata bahwa ia telah mengetahui misteri alam ini dan menghilangkan kabut yang menutupi dunia. Siapapun dia, entah Stephen Hawking dengan Riwayat Sangkakalanya, Einstein dan Scrondinger dengan Mekanika Quantumnya, Darwin dengan The Origin of Speciesnya, Luis Pasteur dengan Biogenesisnya, Edington dengan The Espanding Universnya, Isaac Newton dengan Principianya, David Hume, George Berkley, John Locke dan sebagainya.
Sejauh mana kebenaran yang telah diproklamirkan oleh mereka (kaum empiris) dapat dibuktikan ?.
Pertama, kaum empiris berkata, “eksprimenlah sebagai tolok ukur kebenaran”. Apabila pernyataan ini benar, maka timbul pertanyaan, apakah kebenaran dari makna pernyataan kaum empiris tentang eksprimen sebagai tolok ukur kebenaran, itu sendiri dapat dieksprimenkan ?. Hanya ada dua kemungkinan jawaban yakni; kemungkinan pertama, “dapat dieksprimenkan”. jawaban ini terbukti salah karena bagaimana mungkin kebenaran dari makna pernyataan dapat dieksprimenkan. Bukankah makna dari pernyataan suatu yang non material. Kemungkinan kedua; “tidak dapat dieksprimenkan”. Jawaban kedualah yang benar. Dan ini berarti sekaligus mengugurkan kebenaran doktrin kaum empiris tersebut. Karena jika mereka meyakini kebenaran doktrin, bahwa eksprimenlah tolok ukur kebenaran, di sisi lain kebenaran doktrin itu sendiri tidak dapat diuji dengan eksprimen. Sehingga mereka pun harus menerima bahwa doktrinnya pun bukanlah suatu kebenaran. Jelas terjadi kontradiksi antara keyakinan benarnya pernyataan tersebut dengan implikasi langsung pernyataan tersebut terhadap dirinya sendiri. Jadi jelaslah pernyataan kaum empiris di atas adalah sebuah kekeliruan besar.
Kedua, ketika kaum empiris melakukan penolakan realitas alam gaib, pada dasarnya mereka tidak pernah melakukan eksprimen untuk menetapkan ada tidaknya realitas alam gaib ( sesuatu di luar persepsi indrawi). Sebab sesuatu yang dapat di tolak melalui eksperimen, dapat pula dibuktikan dengan eksperimen. Jika untuk membuktikan realitas alam gaib tak bisa dilakukan melalui eksperimen. Artinya untuk menolak dan menerima adanya realitas alam gaib tak layak dilakukan. Bukankah itu semua itu di luar jangkauan mereka! Sehingga bukanlah sesuatu yang berlebihan jika dikatakan metode eksperimen dengan kecanggihan perkembangannya, tidak akan menemukan dunia yang gaib ( baca pula : realitas alam gaib). Mereka tidak dapat mengerti semua kenyataan yang tersembunyi di balik alam materi ini. Sehingga mereka semuanya buntu, bertanya dan terus bertanya !.
Ketiga, pada kenyataannya, kaum empiris sebelum melakukan eksperimen mereka telah menerima terlebih dahulu hukum-hukum berpikir yang tidak empiris atau gaib (prinsip-prinsip metafisika). Sewaktu Isaac Newton melihat apel jatuh, tentunya dia berpikir pastilah ada yang menyebabkan jatuhnya apel tersebut. Cara berpikir seperti ini adalah penggunaan hukum kausalitas (sebab akibat). Prinsip kausalitas adalah salah satu prinsip metafisika. Hukum kausalitas berbunyi: “Setiap yang ada pastilah ada yang mengadakan, kecuali keberadaan“. Contoh tadi misalnya, jatuhnya apel ada, pastilah ada yang membuat apel itu jatuh. Dan inilah yang meniscayakan adanya hukum gravitasi umum. Dan demikian pula halnya ketika Gregor Mendel melihat keteraturan hereditas. Pastilah ia berpikir ada sesuatu yang mengadakan keteraturan sifat-sifat hereditas tersebut. Keyakinan inilah yang menumbuhkan teori genetika, semuanya diawali dengan prinsip metafisika
Keempat, sebenarnya kitapun semua telah menyadari tentang ketidak-akuratan persepsi indrawi. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya; ketika kita melihat bulan maka berdasarkan indra penglihatan kita, kita akan mengatakan bahwa bulan memiliki cahaya. Dan ternyata penglihatan kita salah, karena akal mengatakan cahaya bulan itu adalah pantulan dari cahaya matahari. Sesungguhnya bulan itu sendiri tidaklah memiliki cahaya. Atau sebatang kayu yang dicelupkan dalam air, jika kita menggunakan indra penglihatan maka kita akan mengatakan kayu itu bengkok, pada hal berdasarkan akal kayu itu tetap lurus, cuma pembiasan cahaya dalam air saja yang mengakibatkan kayu terlihat bengkok. Belum lagi fenomena fatamorgana atau teori Geosentrisnya Demokritus yang saat ini telah terbukti salah.
Kelima, panca indra hanya mampu menangkap hal-hal yang bersifat aksidental saja dari sebuah realitas berupa keterangan pada kita mengenai aspek-aspek lahiriah dari suatu fenomena. Sehingga hanya benda dan fenomena material yang termasuk jangkauan studi indra. Hal-hal yang bersifat substansial dari suatu benda di luar jangkauan indra. Artinya, substansi dari kayu, manusia, hewan, tumbuhan, tembok, buku, kertas dan semua realitas di luar jangkauan indra. Panca indra hanya mampu menangkap warna dan bentuk dengan indra penglihatan, kasar dan halus dengan indra perabaan, bau dengan indra penciuman, manis, asin, hambar indra pengecapan serta bunyi dengan indra pendengaran. Selebihnya di luar jangkauan wilayah indra. Jadi kayu sebagai kayu, manusia sebagai manusia, dan realitas sebagai realitas tak mampu diidentifikasi. Termasuk kebenaran sebagaimana kebenaran.
Dari kelima argumentasi di atas, bukankah berarti bahwa panca indra terbatas dan tak sempurna sehingga tidak layak dijadikan satu-satunya tolok ukur kebenaran. Karena hal yang tidak sempurna hanya menghasilkan ketidak-sempurnaan pula, sementara kita menginginkan kesempurnaan.

PERCAYA ADANYA KEBETULAN.

Sekilas masalah “kebetulan” adalah masalah yang biasa-biasa saja. Padahal masalah ini sangat erat hubungannya dengan tauhid kita, juga berhubungan dengan pembuktian keberadaan Tuhan. Bahkan jika kita memikirkan lebih dalam lagi sangat berpengaruh dengan perkembangan kelangsungan ilmu pengetahuan. Makanya tidak heran jika di dunia filsafat “teori kebetulan” menjadi perdebatan. Mereka para pemikir saling berbeda pendapat tentang ‘teori kebetulan’ ini. Pada umumnya Para filosof Islam seperti Abu Ali (Ibnu Sina), Ayatullah Al’ Allamah H. Tabhataba’i–semoga rahmat Allah senantiasa tercurahkan untuknya-menolak teori ini.

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Empidocles (490-435 SM) dan Demokritus (460-370 SM) yang belakangan dilanjutkan dengan Charles Darwin (1809-1882), mereka adalah Sophis Yunani. Empidocles berpendapat bahwa alam ini (langit, bumi, dan planet-planet) tercipta secara kebetulan karena bertemunya potongan-potongan benda kecil secara kebetulan yang selalu bergerak secara kebetulan. Dan Demokritus berpendapat bahwa alam ini terjadi karena adanya pertemuan dari unsur-unsur alam secara kebetulan. Dan jika kebetulan, pertemuan itu dapat menyinambungkan suatu keberadaan, maka itulah alam semesta. Pernyataan ini sebagaimana tertera dalam buku “Nihayatul Hikma” Pada marhala 8 pasal 13 karangan Ayatullah A.H. Tabhatabai. dan Thabiyat Al-Syifa karangan pasal 13 Makuula Al-Ula karangan Ibnu Sina. (Lihat buku “Tauhid” karangan Hasan Abu Ammar hal 113 catatan kaki).

Para penganut teori kebetulan yakni yang memungkinkan adanya kebetulan akan berujung pada ketidakpercayaan akan adanya pencipta alam. Ketidakpercayaan akan adanya pencipta alam sama dengan ketidakpercayaan akan adanya Tuhan. Karena mereka berpendapat bahwa alam ini ada secara kebetulan. Jika dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan kata kebetulan, sesungguhnya kita secara tidak langsung mengingkari adanya sebab dari kejadian yang dikatakan sebagai kebetulan. Dan jika kita mengingkari sebab, akan berujung pada penafian adanya sebab pertama. Dan jika menghilangkan adanya sebab pertama akan menghilangkan peran Tuhan dalam penciptaan wujud yang kita maksud tersebut. Minimal pada kejadian yang dikatakan kebetulan Tuhan tidak berperan. Misalnya, ketika anda hendak pergi ke kampus, lalu di tengah jalan anda tiba-tiba bertemu teman yang bertahun-tahun lamanya tak berjumpa. Lantas anda mengatakan bahwa pertemuan dengan teman anda adalah suatu kebetulan. Dan jika seperti ini cara berfikir kita, maka tidak ada beda nya kita dengan Empidocles dan Demokritus.

Satu-satunya jalan untuk menggugurkan teori kebetulan ini dengan menggunakan “Prinsip Kausalitas”. Seperti diketahui prinsip kausalitas berbunyi, “Segala sesuatu yang ada pastilah ada yang mengadakan, kecuali keberadaan”. Dan teori kebetulan berbunyi “suatu yang terjadi tanpa sebab”. Ini karena kedua prinsip tersebut saling menafikan. Artinya, ketika kita menerima prinsip kausalitas. Berarti teori kebetulan menjadi gugur. Dan sebaliknya jika kita mengakui adanya kebetulan, maka prinsip kausalitas secara otomatis menjadi batal. Jadi ketika berhasil membuktikan bahwa kebetulan itu tidak memiliki keberadaan (non eksistensi) dengan sendirinya kita telah mengukuhkan prinsip kausalitas. Dan demikian pun sebaliknya. Jika tidak berhasil maka “kebetulanlah” yang benar. Dan jika kebetulan benar maka tidak ada lagi alasan bahwa Tuhanlah yang menciptakan segala sesuatu. Karena bisa saja segala sesuatu ini terjadi secara kebetulan. Sehingga pada akhirnya tidak ada lagi alasan kita untuk ber-Tuhan!

Mereka (penganut teori kebetulan) ketika menjelaskan bahwa “alam ini tercipta secara kebetulan, karena bertemunya potongan-potongan benda kecil secara kebetulan, yang selalu bergerak secara kebetulan”. Sebenarnya dalam pernyataan tersebut terjadi beberapa kontradiksi, seperti :
a. (Alam ini “tercipta” secara kebetulan). Makna dari kata “tercipta” adalah sesuatu yang membutuhkan sebab (pencipta). Karena tidak ada sesuatu yang tercipta tanpa pencipta. Tetapi pada kalimat tersebut sebab (penciptanya) dinafikan, diganti dengan kata “kebetulan”. Di sisi lain makna dari kata “kebetulan” adalah sesuatu yang tidak bersebab. Jadi antara kata tercipta dan kata kebetulan itu saling bertentangan. Sehingga ketika kita mengatakan “tercipta” pastilah tidak kebetulan. Dan jika kita mengatakan “kebetulan” pastilah tidak tercipta.
b. (Yang selalu “bergerak” secara kebetulan). Makna dari kata “bergerak’ adalah sesuatu yang membutuhkan sebab (pengerak). Karena mustahil sesuatu bergerak tanpa penggerak. Tetapi dalam kalimat tersebut sebabnya menjadi hilang dengan adanya kata kebetulan. Di sisi lain kata “kebetulan” sendiri bermakna sesuatu yang tidak bersebab. Artinya, antara kata bergerak dan kebetulan itu tidak nyambung. Karena sebagaimana maklum, ketika kita mengatakan bergerak pastilah tidak kebetulan. Dan ketika kita mengatakan kebetulan pastilah tidak bergerak.
c. (Kebetulan). Makna dari kata kebetulan itu sendiri akan kehilangan maknanya jika berhadapan dengan prinsip kausalitas. Karena ketika mereka (penganut teori kebetulan) mengatakan bahwa kebetulan itu memiliki keberadaan atau kebetulan itu ada. Maka berdasarkan prinsip kausalitas, teori kebetulan itu gugur. Karena segala sesuatu yang ada pastilah ada yang mengadakan, kecuali keberadaan, termasuk kebetulan. Artinya jika kebetulan itu ada, maka ada yang mengadakan. Dan jika ada yang mengadakan pastilah ia bukan kebetulan. Jadi kebetulan itu tidak dapat eksis (ada) sampai kapanpun. Karena jika eksis (ada) pastilah ia bukan kebetulan.

Olehnya itu, sebaiknya konsep tentang dapatnya terjadi kebetulan, kita buang jauh-jauh. Karena nantinya kita ditertawakan membicarakan sesuatu yang tidak ada. Tetapi mungkin anda bertanya dan merasa aneh, jika sekiranya kebetulan itu tidak ada, kenapa kami membahasnya? Bukankah jika dibahas berarti dianggap ada ? Sejak awal kami tidak pernah mengatakan atau menganggap bahwa kebetulan itu ada. Bahkan kami sama sekali tidak mau membicarakannya. Tetapi karena adanya pemahaman yang keliru tentang keberadaan kebetulan, maka kami berkewajiban untuk membahas kekeliruan tersebut. Yang sebenarnya tidak ada tetapi dianggap ada. Jadi Pembahasan ini justru untuk membuktikan kekeliruan konsep tersebut. Bukan membuktikan bahwa kebetulan itu tidak ada. Karena yang tidak ada tidak perlu pembuktian. Karena tidak ada sama dengan tidak ada. Dan karena ia tidak ada, makanya tidak usah dianggap ada.

Akal Sebagai Penuntun

Alkisah di laut merah, sekelompok ikan remaja yang hidup di lautan bertanya kepada ikan besar pemimpin kelompoknya : “Wahai pemimpinku, sungguh aku ingin bertanya kepadamu tentang suatu hal yang membuatku gundah-gulana.” Ikan besar pun menjawab; “Duhai anakku, engkau bak darah dagingku sendiri, kesulitanmu adalah kesulitanku, kebahagianmu adalah kebahagianku juga. Tanyakan saja apa yang engkau suka pasti aku akan menjawabnya semampu lidahku ini menggetarkan makna-makna yang kupahami”.
Ikan remaja pun terhenyak, bergelatar-gelatar sirip-sirip ekornya, menahan hasrat demi hasrat yang telah lama tertahan. Sembari menahan detak gejolak darah mudanya, ikan kecil pun bertanya pada ikan besar: “Duhai bapakku, pemimpinku, dapatkah engkau jelaskan padaku di mana aku dapat menjumpai lautan? Kudengar dari pembicaraan para keong, bahwa lautan itu sangat agung dipenuhi dengan segenap mutiara dan manik-manik yang indah. Disinari oleh hangat surya mentari dan senantiasa membiru menahan malu karena mentari nan selalu menatap?”
Ikan besar pun mendengus perlahan… Oh… adakah pertanyaan lain duhai anakku. Sungguh pertanyaan ini membebani punggungku lantaran beratnya, dan kerumitannya telah membutakan mataku. Serasa putus saraf otakku karena ketegangannya. Betapa mungkin aku jelaskan masalah ini kepadamu tanpa bertambahnya kegalauanmu. Betapa mungkin kuuraikan masalah ini tanpa kemarahanmu?
Ikan remaja pun bersedih, sedih sekali, sehingga berurai air matanya membasahi pipinya. Setumpuk keputus-asaan mengisi segenap relungnya. Pilu sekali. Kepiluan murni dari nurani. Kepilauan karena guncangan-guncangan keingintahuan yang tak kunjung reda.
Akhirnya luluh lantahlah dada dan jantung ikan besar. Berhenti detak-detaknya karena kasih sayangnya kepada sang ikan remaja demikian tulus diremas-remas oleh tangisan dan dihempas ke langit-langit yang tinggi. Tapi…ah buang saja keraguan ke jurang ketiadaan mutlak. Aku akan menjawabnya. Ya... aku akan menjawabnya.
” Berhentilah bersedih hai anakku sayang! Saya akan menjawabnya asalkan kamu berhenti bersedih! Ketahuilah anakku laut ini ada di sini, tidak pernah terpisah barang sesaat darimu, tidak pula dia adalah dirimu sendiri. Ia meliputimu tanpa suatu persatuan, dan ia bukanlah dirimu tanpa suatu perpisahan. Semenjak engkau bisa kedipkan matamu, sejak insangmu menikmati serap-serap udara, sejak sirip dan ekormu menari malu, engkau telah ada dan senantiasa ada dalam lautan itu, selama engkau masih hidup. Ya selama engkau masih hidup.”
Betapa terkejutnya ikan remaja, linglung, dan matanya sejenak meredup. Bayang-bayang gelap pun menyatroninya. Terbelalak matanya bak mawar yang mengalirkan darah. Seraya berkata; “Aku tak tahu, aku tak paham… Pasti dia salah. Pasti dia sesat. Pasti dia berusaha menyesatkanku menuntunku dalam kegelapan. Dia kafir, dia harus dibunuh, halal darahnya, ia harus ditiadakan agar tidak ada lagi remaja-remaja lain yang disesatkannya. Dia harus dibunuh demi kelangsungan bangsa ikan. Dia harus dibunuh demi sang pencari lautan sejati!”
Sergap tangkas ikan remaja nan ada di puncak kekuatannya pun mengoyak-ngoyak serpih demi serpih tubuh ikan besar nan bijaksana. Darah pun muncrat, darah pun mengalir dan menetes, beserta tetesan jutaan ikan besar, ikan besar yang ada di dunia. Tubuhnya pun tergeletak kaku tak berarti. Tetapi ruhnya membumbung tinggi sampai ke mentari-mentari yang selalu menyinari lautan, dengan cahaya lembutnya bak merpati putih terbang jauh. Jauh meninggalkan bangsa ikan….
“(Dikutip dari Mukaddimah Kumpulan Logika Dimitri Mahayana)”
Kurang lebih seperti itulah gambaran hubungan akal dengan manusia. Ibarat seekor ikan dengan lautan. Manusia sebagai ikannya dan akal sebagai lautannya. Jadi sekali lagi, akal selalu bersama kita, tidak pernah berpisah barang sesaat. Akal meliputi kita tanpa suatu persatuan, dan akal bukanlah diri kita tanpa suatu perpisahan. Sejak pertama, kita menangis di muka bumi ini, kita senantiasa hidup dengan akal kita, dalam akal kita, beserta akal kita. Apapun yang kita lakukan semuanya melalui akal, ya... semuanya melalui akal. Sadar atau tidak sadar. Sekali lagi perlu digaris bawahi sadar atau tidak sadar.
Sebagai contoh, ketika seorang bayi menangis minta susu. Ia menyadari bahwa dirinya dahaga. Dan ia menyadari bahwa dirinya adalah dirinya. Dan dirinya berbeda dengan bukan dirinya. Jika susu diberikan pada kakaknya ia akan tetap menangis. Karena dirinya hanya sama dengan dirinya. Dan berbeda dengan kakaknya. Kakaknya hanya sama dengan diri kakaknya. Ini adalah prinsip akal. Yang dalam logika kita sebut dengan istilah “Prinsip Nonkontradiksi.” Bayi yang haus, kok malah kakaknya yang diberi susu. Berdasarkan prinsip Nonkontradiksi tersebut, pastilah si bayi akan tetap menangis. Dan sekiranya tidak ada prinsip akal tersebut, pastilah semua bayi yang ada akan mati kehausan. Kenapa mesti mati? Ya! Bayi tersebut mati karena dia tidak bisa membedakan mana haus dan mana tidak haus. Dan jika bayi tersebut tidak bisa membedakannya, maka ia pun tidak menangis untuk meminta susu karena kehausan, meskipun si bayinya lagi kehausan. Dan karena bayinya tidak menangis meski lagi haus, maka orang tuanya pun tidak akan memberikannya susu untuk diminum. Dan jika orang tuanya tidak memberikan minum konsekwensinya, si bayi akan mati kehausan.
Meskipun kami memberikan contoh yang begitu sederhana, tetap saja kami khawatir, jika nasib kami kelak seperti ikan besar yang terkoyak habis oleh gigi ikan remaja. Kekhawatiran kami bukanlah dikarenakan takut akan darah kami tertumpa, tidak pula kekhawatiran kami dikatakan gila atau dikucilkan dari pergaulan masyarakat Akan tetapi kekhawatiran kami tiada lain dikarenakan semakin semaraknya kebodohan-kebodohan yang berkedok intelektual, kegelapan yang bersembunyi dengan baju ayat, kesesatan-kesesatan yang bertopeng sains dan teknologi, oportunis-oportunis yang berlindung di balik dinding agama. Dan setan-setan yang berwajah manusia telah meraja lela, menghegemoni, menghancurkan semuanya, melumat habis semuanya, serta membumi hanguskan umat manusia, sehingga jadilah anak cucu Adam berubah menjadi singa-singa hutan yang siap memangsa sesama warga hutan. Yang berdampak pada kita semua akan menjadi bahan bakar neraka kelak-Na ‘uudzu billahi min dzalik.
“ Tuhanku…Kepada siapa lagi kami memohon..
Tuk keselamatan umat ini…
Ya…Rasulullah hanya engkaulah tempat kami bertawassul…
Karena hanya engkaulah Bapak umat ini..
Ya...Imam-Imam kami...Terpaksa pula engkau kami libatkan…
Karena hanya engkaulah yang mampu menjaga Risalah kakekmu...
Lihatlah ummat ini yang begitu terpuruk dalam kegelapan…
Yang terkungkung dalam pasukan nafsunya…
Maka terkalahkanlah akalnya…
Olehnya itu, kusangat memohon …
Agar Engkau jadikan darahku layak, untuk menerima seberkas cahaya-Mu…
Ya...Hanya seberkas cahaya-Mu-, Cahaya Ilahi, ke-Nabian, dan Ke-Imamahan..
Sehingga jadilah diriku lilin yang berpendar lembut dalam kegelapan umat ini...
Menerangi pikiran demi pikiran yang terjerumus dalam jurang fatarmorgana…
Sehingga Engkau dapat tersenyum sebagaimana Engkau layak tersenyum”

TAKLID BUTA

Seseorang dapat dikatakan bertaklid buta, jika seseorang mengikuti sesuatu tidak disertai dengan kesadaran. Termasuk ketidaksadaran akan hal-hal apa saja yang harus ditaklidi, mengapa dan untuk apa ia harus bertaklid, serta kepada siapa ia harus bertaklid. Orang-orang seperti ini hanya mengikuti persangkaan saja. Dalam Al Qur’an sifat seperti ini sangat dikecam, seperti dalam ayat :

“Dan Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. 17: 36 ).

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. 6: 166 ).

Sifat seperti ini sangat menghambat perjalanan. Karena bisa jadi ketidak tahuan kita akan sesuatu yang diikuti, dan kepada siapa kita mengikuti membuat kita tidak sadar bahwa selama ini kita telah membuat kesalahan. Dalam logika, kesalahan seperti ini disebut kesalahan berganda oleh karena pertama, kita salah karena telah melakukan kesalahan. Kedua, kita salah karena kita tidak menyadari bahwa diri kita salah. Dan asal kita tahu saja hal seperti ini terjadi di dunia Islam.
Masih segar dipikiran kita, dimana para ulama pada abad ke-7 H, telah menutup pintu ijtihad, dengan asumsi bahwa cukuplah kita bertaklid pada keempat Imam mazhab saja. Yaitu, Imam Hanafi (Abu Hanifah, 80-150 H ), Imam Maliki (Malik Bin Anas, 95-179 H ), Imam Syafi’i (150-204 H ), Imam Hambali (Ahmad Bin Hambal, 164-241) dan ini khusus berkenaan dengan fiqih. Adapun mengenai masalah ushul (teologi) cukup kepada Al Asy’ari. Dan lebih anehnya, jika ditemukan seorang yang mampu memberikan fatwa masalah agama, itu pun haruslah tidak bertentangan dengan pandangan keempat Imam mazhab tersebut. Mungkin inilah yang dikatakan kakek saya kepada ayah saya dan ayah saya menceritakan kepada saya bahwa tidak ada lagi orang yang pintar sepeninggal Imam Syafi’i. Anda bisa bayangkan betapa mengakarnya sebuah taklid buta dikalangan masyarakat atau pada umumnya orang tua kita.
Saya hanya ingin kita menyadari atau memikirkan ulang konsep ketaklidan kita kepada keempat Imam mazhab tersebut, tanpa mengurangi rasa hormat saya dan kekaguman saya kepada mereka. Karena sekiranya kita hanya diperbolehkan taklid hanya pada keempat Imam mazhab tersebut. Di sisi lain mereka hidup pada abad 2 dan 3 H, pertanyaan saya, sebelum mereka hidup kemana umat Islam bertaklid ? dan bagaimana mungkin kita bisa bertaklid kepada seorang yang telah meninggal sebelum kita lahir. Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika sekiranya kita menghadapi persoalan fiqih yang pada zaman mereka itu belum ada. Kemana kita hendak bertanya. Meminjam perkataan Buya Hamka: “Sampai hari kiamat pintu ijtihad tidak tertutup”. Sebab soal yang akan dibahas selalu saja timbul dalam masyarakat yang selalu bergerak. Kita harus berani meninjau pendapat ulama yang dahulu. Sudah terang bahwa soal-soal masyarakat yang kita hadapi tidak sama dengan yang mereka hadapi” (Lihat buku Pribadi, Hamka 1950, hal-123)
Lebih mustahil lagi jika kita semua telah menjadi mujtahid (orang yang berhak menentukan hukum untuk dirinya sendiri). Karena syarat seorang mujtahid, jika saya sebutkan maka tidak ada satu pun di Indonesia yang memenuhi syarat tersebut. Apalagi seorang Marja (orang yang berhak menentukan hukum untuk dirinya dan orang lain) yang tentunya lebih sulit lagi.
Contoh yang nyata, apa yang baru saja umat Islam alami. Ketika lagi ramai-ramainya isu jihad ke Afganistan. Tak seorang pun dikalangan ulama kita, ketika ia mengeluarkan fatwa untuk jihad, sehingga dengan serta merta umat Islam mengikuti fatwa itu. Yang haram hukumnya jika kita tidak mengikutinya. Belum lagi masalah fatwa MUI tentang haramnya Ajinomoto, yang menjadi mentah begitu saja dengan sanggahan Gus Dur. Kalau memang kita bertaklid dengan MUI maka ketika mereka mengatakan Ajinomoto haram, kita harus mengikutinya. Dan tidak ada lagi protes protesan, tidak ada lagi cros cek. Karena kita telah bertaklid pada MUI. Dan jika kita telah bertaklid maka secara otomatis kita telah mengakui kapasitas MUI untuk penentuan hukum. Tetapi pada waktu itu, kenapa kita masih ragu ?. Sehingga saat itu saya berfikir bahwa Gus Dur sengaja membantah MUI, agar kita sadar bahwa MUI tidak layak ditaklidi. Tidak ada satupun di Islam sistem kemarjaan secara kolektif seperti MUI, yang tak satupun anggotanya seorang mujtahid. Sungguh sebuah konsep yang sangat rancu.
Saya pribadi mau sekali bertaklid, tetapi taklid saya hanya kepada orang-orang yang layak ditaklidi (marja). Dan saya sadar bahwa orang itu layak ditaklidi. Dan terbukti layak ditaklidi. Dan harus ada pengakuan minimal dari dua orang yang layak ditaklidi, yang mengakui bahwa orang tersebut layak ditaklidi. Maksud saya, yang menilai bahwa orang tersebut layak ditaklidi (seorang marja) haruslah minimal dua orang marja yang telah mengakui kemarjaiannya. Atau seorang Nabi atau seorang yang maksum (tidak bisa salah). Dan kita sadar akan kapasitas mereka. Hal ini dikarenakan bahwa tidak layak jika yang menilai seorang marja dan menentukan bahwa dia marja sehingga dia dapat dikatakan seorang marja adalah kita-kita ini yang awam, yang justru malah mau bertaklid sama mereka. Karena jika kita yang menentukan bahwa dialah seorang marja sehingga ia dapat dikatakan marja, berarti kita juga adalah seorang marja. Dan karena kita marja kita tidak usah bertaklid.
Sungguh menyedihkan bagi saya ketika kita tidak mengetahui konsep taklid yang benar. Dan hal-hal apa saja yang dapat ditaklidi. Karena tidak jarang diantara kita, biar masalah Ushuluddin atau rukun iman yang sebenarnya tidak bisa taklid, kita tetap saja merujuk pada pendapat Al Asy’ari. Padahal masalah keimanan semua orang masing-masing mesti punya dalil kenapa ia harus beriman. Olehnya itu masalah Ushuluddin harus menjadi perdebatan. Tetapi yang terjadi dalam masyarakat kita, justru masalah fiqih yang menjadi perdebatan. Dan saling menyalahkan yang bersamaan dengan pengklaiman bahwa hanya fiqihnyalah yang benar. Nampaknya di masyarakat kita terlalu banyak mujtahid. Sehingga bisa menentukan benar salahnya suatu hukum.

AKAL ITU SENDIRI

Apakah akal itu? Tidak seorang pun mengetahui hakikat akal. Kita tidak dapat mengetahui hakikat mutiara berharga ini. Kita hanya mampu mengetahuinya melalui efek-efek yang ditimbulkan, bisa juga melalui fungsinya. Pada umumnya para filosof mendefinisikan akal berdasarkan pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh akal. Menurut mereka jika mengetahui pengaruhnya berarti kita akan mengenali buahnya. Olehnya itu sebaiknya kita melihat beberapa pengertian akal oleh para filosof.

Allamah Majlisi-Semoga Allah memberikan tempat yang layak untuknya-dalam kitabnya Mira-at Al-uqul berkata, “Akal secara bahasa, adalah pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Secara istilah, akal dipergunakan untuk menunjukkan salah satu definisi dibawah ini:
1. Kemampuan untuk memilah-milah antara kebaikan dan keburukan, juga dapat mengetahui sarana-sarana yang mengakibatkan atau mencegah masing-masing dari keduanya.
2. Fakultas atau keadaan dalam jiwa manusia yang mengajaknya memilih kebaikan dan keuntungan, dan menjauhi kejelekan dan kerugian.
3. Kekuatan yang dipergunakan untuk mengatur perkara-perkara kehidupan manusia. Jika ia sejalan dengan hukum syariat dan digunakan dalam hal-hal yang dianggap baik oleh syariat.
4. Jiwa rasional yang membedakan manusia dengan seluruh binatang lain.
5. Substansi azali yang tidak bersentuhan dengan materi. Baik dari segi esensial, maupun aktual.
6. Tingkatan (jauh dekatnya) kesiapan (potensialitas) jiwa untuk menerima konsep-konsep universal.
Shadr Al-Muta’allihin Mulla Sadra-Semoga Allah mensucikan jiwanya-Dalam buku beliau Syarh Ushul Al-Kafi, Kitab Al-Aql wa Al-Jahl, dengan tegas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan A’ql ( biasa diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan intelek) adalah sama dengan Nabi Muhammad SAW dalam seluruh martabat keberadaan beliau. Mengapa? Karena, sifat-sifat akal seluruhnya sesuai dengan sifat-sifat Rasul SAW yang agung, yaitu :
- Hadist yang menggambarkan akal berbicara dengan Allah persis juga pada peristiwa mi’raj Nabi, Allah juga mengajak beliau berbicara.
- Hadist yang menggambarkan ketaatan akal pada Allah. Dan ketaatan Nabi SAW kepada Allah adalah jelas dengan sendirinya (baca: tidak diragukan lagi).
- Makhluk yang paling disayang oleh Allah adalah Nabi Muhammad SAW. Bahkan alam ini dicipta hanya untuk Muhammad SAW dan melalui nurul Muhammad. Akal pun demikian, alam ini tak tercipta kecuali melalui akal pertama, kedua, dan seterusnya. Sebagaimana maklum hal ini sejalan dengan dalil-dalil tradisional maupun argumen filosofis.
- Keimanan kepada keberadaan Nabi Muhammad SAW (kenabian) beliau, adalah salah satu sebab kesempurnaan tauhid. Dan kesempurnaan tauhid bergantung pada kesempurnaan penggunaan akal itu sendiri.
Ayatullah Allamah M.H.Thabathaba’i dalam Tafsir Al-Mizan, ketika menafsirkan Surah Al-Baqarah ayat 130, menyimpulkan bahwa akallah sesuatu yang dengannya Allah disembah. Dengan kata lain akallah lentera menuju kebenaran.
Muhaqiq Lahiji dalam Syarh Gulsyan-e Raz berkata, ”Akal dan ruh, jiwa rasional dan hati adalah satu hakikat. Namun terjadi berbagai gradasi eksistensial, maka mereka memiliki hukum-hukum dan sifat-sifat yang berbeda dan tingkatannya diperkenalkan dengan nama-nama yang berbeda-beda pula”.
Yang Mulia Guru kami DR.Ir.Dimitri Mahayana M.Eng. Secara tidak langsung memberikan pengertian akal dalam buku Kumpulan Logika yang disusunnya. Beliau berkata; “Akal adalah manifestasi internal keberadaan Nabi Muhammad SAW. Karena bagaimanapun manifestasi mesti mencerminkan perbuatannya. Dengan demikian segala yang muncul dari ucapan, amalan dan tingkah laku Nabi Muhammad SAW pasti rasional (baca : selaras dengan akal). Lebih dari itu, Nabi Muhammad SAW adalah kriteria rasionalitas dan rasionalitas segala sesuatu. Dan Al Qur’an adalah manifestasi paling sempurna hakikat Nabi Muhammad SAW.
Syaikh Syihabuddin Suhrawardi Al-Maqtul (q.s) berkata : Ketahuilah bahwa yang pertama diciptakan Allah adalah mutiara cemerlang yang dinamai-Nya Akal (‘aql ). Mutiara ini diberikannya tiga sifat. Yaitu kemampuan untuk mengenal Allah, kemampuan untuk mengenal dirinya, dan kemampuan untuk mengetahui apa yang belum ada dan kemudian ada. Dan dari kemampuan mengenal Allah muncullah keindahan. Dari kemampuan mengenal dirinya muncullah cinta. Serta kemampuan mengenal apa yang belum ada kemudian ada timbullah kesedihan. Dan dari ketiganya ini adalah bersumber dari satu realitas.
Gurunya-Guru kami Sayyid Musa Al Khazim-Semoga Allah menjadikan darahku layak untuk menjadi tebusannya-mengatakan bahwa akal dalam banyak ayat Al Qur’an adalah kegiatan yang bermula pada pembuktian logis dan konklusif. Beliaupun melanjutkan bahwa akal memiliki realitas yang berbeda-beda, yang setiap perwujudannya memainkan peran baiknya sendiri-sendiri.
Imam Jafar Ash-Shadiq.(as) mengatakan bahwa, “perbedaan orang berakal dan orang dungu adalah, orang berakal mengucapkan suatu ucapan dengan pertimbangan dan melakukan suatu perbuatan juga dengan pertimbangan. Atau ia berpikir dahulu, lalu berkata dan berbuat. Tetapi orang dungu, ia berbicara atau bertindak tanpa pertimbangan dan tanpa perhitungan lalu menyesali perbuatannya.” (Mengendalikan Naluri, hal-71, Husain Mazhahiri, 2001)
Imam Al-Khazim berkata kepada Hisyam, “Allah telah menganugerahi manusia dengan dua hujjah: satu diantaranya tampak dan satu lagi tersembunyi. Hujjah yang tampak adalah para Nabi dan para Imam, dan hujjah yang tidak tampak adalah akal dan intelenjensi yang ada dalam diri kita.” (Hijrah Menuju Allah, Hal-72, Ibrahim Amini)
Imam Ali Ar-Ridha berkata, “Akal adalah teman bagi semua orang dan musuh akal adalah kejahilan.” (Lihat buku Hijrah Menuju Allah, Hal-72, Ibrahim Amini, Pustaka Hidayah 2001).
Dalam sebuah hadist, Nabi mengibaratkan akal sebagai kerajaan yang memiliki berbagai pasukan. Yang menurut Sayyid Musa Al Khazim selain menggambarkan kebesaran dan signifikan kedudukan akal, ungkapan “kerajaan akal” nampaknya juga menunjukkan besarnya ranah (domain) akal dalam kehidupan manusia. Dalam hadist itu Nabi menyebut kebaikan sebagai Perdana Menteri kerajaan akal. Sedang harapan, hasrat, rasa syukur, belas kasih, kehalusan, ketenangan, kesabaran, kelembutan, cinta, semuanya adalah prajurit-prajurit dalam kerajaan tersebut. Demikian pula tentunya dengan kebenaran, pengetahuan, pemahaman, ingatan, upaya mengingat, keadilan, dan kecerdasan.
Dalam hadist yang lain, Nabi menunjukkan bahwa akal melahirkan pertimbangan, yaitu pertimbangan pengetahuan. Dari pengetahuan tumbuh petunjuk yang benar. Dari petunjuk yang benar muncul pantangan dan kehati-hatian. Dari pantangan timbul pengendalian diri. Dari pengendalian diri timbul rasa malu. Dari rasa malu tercipta ketakutan. Dari ketakutan akan melahirkan amal baik. Dari amal baik bersemi kebencian akan kejahatan. Dan dari kebencian akan kejahatan akan ada kepatuhan pada nasihat yang baik.
Dari beberapa pengertian akal, baik para filosof maupun para Imam. Mereka hanya membicarakan akal berdasarkan pengaruhnya saja. Bahkan dalam Al-Qur’an akal di sebutkan hanya dari segi efek yang ditimbulkan saja. Misalnya dalam QS. Al-Mulk: 67, orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai penghuni neraka. Dalam QS. Yunus : 42, Al Qur’an menempatkan akal sebagai sarana mendengar dan yang tidak berakal sebagai tuli. Dalam QS. Yunus :10, akal diposisikan sebagai syarat keberimanan seseorang dan yang tidak menggunakannya sebagai orang yang dimurkai Allah. Dalam QS. Ar Rum : 24, meletakkan fenomena alam tanda bagi orang yang berakal. Dalam QS. Az-zumar :18, Allah menyatakan orang yang mendapat petunjuk adalah orang-orang yang berakal. Dalam QS. Al-An’aam : 166, Membuktikan bahwa orang yang tidak berakal akan hanya mengikuti hawa nafsu dan persangkaan saja. Dalam QS 8: 22, orang yang tidak berakal dipandangan Allah sebagai binatang buas yang sangat buruk.
Dari beberapa pengertian yang ada, cukuplah kiranya kita mempunyai gambaran yang jelas tentang pentingnya akal dalam hidup ini. Sehingga mengetahui bahwa akallah sebagai penentu kebermanusiaan kita. Sebagaimana Hadist qudsi yang menyebut akal sebagai ciptaan pertama yang sekaligus mengindikasikan bahwa perjalanan manusia untuk menemukan yang dicarinya, semua bergantung seberapa besar penggunaan akal dalam kehidupan ini.

AKAL DAN LOGIKA ARISTOTELIAN

Akal sebagaimana kodrat-kodrat lain dalam diri manusia tersusun secara harmonis. Harmonis artinya memiliki prinsip-prinsip dan hukum-hukum tersendiri. Sementara logika adalah disiplin ilmu yang mengkaji prinsip-prinsip dan hukum-hukum tersebut atau yang mengatur cara kerja akal (berpikir) secara tepat berdasarkan sebagaimana mestinya akal tersebut bekerja. Dan jika terjadi kemandekan (stagnasi) cara kerja akal (berpikir), maka logikalah yang datang mengembalikan cara kerja akal (berpikir) kepada koridor yang tepat (baca: aturan berpikir benar). Mungkin kurang lebih mirip dengan disiplin ilmu kedokteran. Ilmu kedokteran berfungsi sebagai barometer kesehatan manusia, sekaligus menentukan tubuh sakit atau sehat sebagaimana logika pun menginformasikan pikiran sehat atau rancu (kesalahan berpikir).

Bedanya, logika berurusan hal-hal yang metafisika, dan kedokteran berhubungan dengan hal-hal yang fisik. Hal ini tentunya akan membuat logika lebih sulit terdeteksi efeknya atau kegunaannya ketimbang ilmu kedokteran. Jadi sesunguhnya, logika bukanlah sesuatu yang asing bagi akal kita. Sebagaimana kedokteran tidak asing bagi tubuh kita.

Tetapi mungkin anda bertanya, mengapa logika itu intim dengan Aristoteles-Semoga Allah membalas jasanya. Lebih khusus lagi kenapa pada pemikiran Islam logika Aristoeles sangat dominan? Kenapa bukan logika Hegel atau Madilog-nya Tan Malaka? Pertanyaan ini kami akan menjawabnya dengan mengacu pada apa yang pernah di kuliahkan oleh Guru kami YM. YTC. Sayyid Musa Al. Khazim-Semoga Allah membalas jasa-jasanya.Tentunya sebatas apa yang saya pahami. Adapun beberapa analisis dari beliau:

a) Legenda Tentang Aristoteles.
Dalam masyarakat muslim tradisional, Aristoteles (384-322 SM) diyakini sebagai salah seorang Nabi Allah. Karena sebagaimana maklum nabi dalam Islam sebanyak 124 000. Tetapi nabi sekaligus rasul sebanyak 25 orang. Dan Aristoteles termasuk dalam kategori nabi yang bukan rasul. Keyakinan ini berdasarkan pada riwayat dari Rasulullah Saw, yang dikutip dalam banyak kitab sejarah. Adapun riwayatnya; ”Setelah pulang dari kota Alexanderia ‘Amr bin Al-Ash datang menghadap Rasul Saw. Beliau bertanya kepada ‘Amr tentang kesan-kesan perjalanannya ke negeri bersejarah itu. ‘Amr kemudian bercerita bahwa ia melihat suatu kaum yang duduk lesehan melingkar. Mereka menyebut-nyebut dan memuji-muji seorang yang bernama Aristoteles semoga Allah mengutuknya. Nabi SAW pun terkejut dan berkata, “Enyah kamu wahai ‘Amr...! ”Tidakkah kamu mengetahui bahwa Aritoteles adalah seorang Nabi. Tapi umatnya tidak pernah mengubrisnya”

Saya pribadi pun sangat percaya bahwa Aristoteles adalah seorang Nabi. Beliau adalah Nabi-nya logika. Hal ini dapat kita lihat bahwa Aristoteles pun membawa ajaran tauhid. Hal ini dapat anda lihat melalui teori beliau bahwa ada penyebab tanpa sebab, ada penggerak yang tidak bergerak, dan segalanya datang dari aktual murni dan akan kembali pada aktual murni (baca pula: aktus purus). Dan jika anda mengkajinya lebih dalam maka niscaya akan anda dapatkan ketauhidan di dalamnya. Dan sebagaimana maklum, bahwa ciri yang paling jelas dari seorang nabi adalah mengemban misi ketauhidan. Makanya tak heran bagi saya jika Aristoteles digelari mahaguru pertama. Yaitu orang yang menguasai seluruh disiplin Ilmu Primer dijamannya.

b) Logika Paling Orisinil
Orisinal logika Aristotelian dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Antara lain sudut pandang historis yang tidak dapat diragukan lagi. Ibnu Khaldum seorang sejarawan muslim tersohor, pernah mengatakan bahwa Aristoteles adalah orang yang pertama mengumpulkan ceceran orang-orang terdahulunya dalam aturan berpikir benar (logika).

Logika Aristotelian merupakan susunan yang paling orisinal dan komplet lagi komprehensip sepanjang sejarah. Meskipun telah dikiritik berbagai kalangan, utamanya serangan dari Sir Francis Bacon dalam bukunya “The New Organon” atau Rene Descartes dalam “Discourse On Method”. Tetapi tetap saja segar dan selalu segar untuk dijadikan sebagai pengantar terbaik bagi studi logika elementer.

Bahkan Abu Ali Ibnu Sina-Semoga rahmat Allah selalu tercurahkan untuknya. Dengan tegas berkata: “Wahai para pelajar...! Adakah diantara kalian yang pernah menyaksikan seorang yang datang setelah Aristoteles. Yang mampu menambah atau menyanggah sesuatu yang lebih berarti dari logika yang beliau susun. Meski susunan itu sedemikian tuanya? Ketahuilah, apa yang Aristoteles susun adalah susunan yang sempurna, neraca yang tepat, dan kebenaran yang cemerlang”.

c) Momentum Tentang Masuknya Logika Dalam Islam
Sebelum abad pertengahan masehi, alam pemikiran Islam terjangkit wabah. Segala macam pemikiran yang sesat masuk dan segera mendapat pengikut yang banyak. Para pemikir muslim terkemuka berpikir keras untuk menemukan penangkalnya. Mereka mau tak mau, mesti membakukan tatanan berpikir benar. Hunain Bin Ishak-Semoga Allah memposisikannya pada kedudukan para wali-mengambil prakarsa untuk menerjemahkan buku Organon-nya Aristoteles sebagai landasan berpikir benar. Dalam waktu singkat buku tersebut mendapat apresiasi yang luas oleh para pemikir terkemuka dikalangan kaum muslim. Bahkan sebagian dari mereka seperti Al-Kindi, Al Farabi, dan Ibnu Sina, dll, langsung membacanya dalam aslinya. Ibnu Sina dikisahkan telah membaca buku itu sebanyak 60 kali sebelum akhirnya beliau memberikan komentar secara panjang lebar dalam buku-nya Asy-Syifah. Asy-Syifah yang terbagi dalam delapan jilid ukuran yang sangat besar itu adalah elaborasi dari Oraganon. Organon sendiri terdiri dari enam buku besar.

Di Timur maupun di Barat, Ibnu Sina dikenal sebagai komentator terbaik untuk Aristoteles. Swausaha para pemikir muslim untuk mempertahankan dan memurnikan ajaran-ajaran Islam dari beberapa sesat-sesat pikir dengan menerjemahkan risalah-risalah Aristoteles dan menerapkannya dalam kehidupan beragama, patut mendapat acuan jempol. Tetapi meskipun para pemikir yang memiliki itikad baik itu, juga tidak luput dari pengkafiran dari pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab. Tapi itulah yang selalu harus diemban orang yang memilih jalan yang benar. Atau seperti kata Voltaire (1694-1778) orang Perancis yang masyur; “Memilih adalah mengambil resiko”

Dari ketiga argumentasi di atas semakin jelaslah pahaman kita, mengapa di kalangan Muslim logika ala Aristoteles yang lebih mendominasi. (lihat, Bab Logika Aristotelian dalam Kumpulan Logika, Dimitri Mahayana).

Tambahan
Nanti sekitar tiga abad kematian Aristoteles, barulah karya-karya beliau dapat dikumpulkan dalam bentuk yang kita kenal seperti saat ini. Secara garis besar karya Aristoteles dibagi atas dua kelompok. Yakni: Pertama, karya-karya yang ditulisnya untuk dipublikasikan. Kedua, catatan-catatan yang dibuatnya tetapi untuk tidak dipublikasikan ketika memberikan kuliah di Lyceum (Sebuah sekolah yang didirikan oleh beliau). Sungguh menyedihkan untuk ilmu pengetahuan bahwa karya-karya beliau yang penting pada bagian pertama telah musnah semuanya. Sehingga karya Aristoteles yang kita kenal sekarang ini merupakan karya pada kelompok kedua.

Dalam bentuk aslinya, karya-karya ini terpisah-pisah dan terdiri atas ratusan gulungan kuno. Semuanya naskah ini dikumpulkan dari berbagai macam karya yang berbeda oleh Andronikos dari Rhodos yang merupakan pemimpin Lyceum yang terakhir. (lihat, buku 60 menit bersama Aristoteles).

Dalam beberapa daftar kuno dikatakan pula karya Aristoteles berjumlah tidak kurang dari seratus tujuh puluh buku. Dan empat puluh tujuh diantaranya tetap bertahan hingga sekarang. Olehnya tidak ada salahnya saya mengutip beberapa tulisan-tulisan dari beberapa buku Aristoteles sehingga kita juga tahu betapa bermaknanya ucapan beliau. Adapun kutipan tulisan-tulisan itu, sebagai berikut :
“Orang yang mempelajari asal mula segala sesuatunya dan bagaimana akhirnya segala sesuatunya itu bisa ada, tentu akan mencapai hal yang terjernih akan hal itu.” (Politika, 1252a 24-25)

“Siapa pun yang tidak bisa hidup di tengah masyarakat karena telah tercukupi ia pada dirinya sendiri, maka kalau bukan hewan tentulah dia dewa. Dengan demikian, setiap orang memiliki impuls yang kodrati untuk berasosiasi dengan orang lain. Dengan cara ini, sehingga siapa yang pertama kalinya mendirikan masyarakat berkeadilan akan menghasilkan kebaikan tertinggi bagi kemanusiaan.” (Politika 1253a 25-40).

“Kita berperang agar kita bisa hidup dengan damai”. (Ethika Nikhomakea, buku 10).

“Telah menjadi jelas bahwa semua hal itu memiliki penyebab-penyebabnya. Terdapat beberapa jenis penyebab, dan siapa pun yang ingin mengetahui tentang alam selayaknya tahu cara mengungkapkannya. Sebenarnya ada empat jenis penyebab: materi, bentuk, apapun yang menimbulkan perubahan, dan apapun yang menjadi tujuannya. (Physika, 198a 20-24).

“Dengan demikian, gerakan merupakan sesuatu yang abadi. Sehingga jika ada penggerak pertama, maka penggerak itu tentu juga abadi…dan dalam hal ini telah cukup mengatakan hanya ada satu penggerak, yakni yang pertama kalinya menggerakkan segala sesuatu yang tak bergerak. Dan penggerak yang abadi ini tentulah akan menjadi prinsip gerakan bagi segala sesuatu yang lain. (Physika, 259a 7-14)

Wallahu A’lam Bish Showab

DOKTRIN – DOKTRIN KELIRU.

Salah satu penyebab tak kunjung tibanya pengenalan akan tujuan, dikarenakan begitu memasyarakatnya beberapa doktrin-doktrin yang keliru yang selama ini di yakini benar oleh masyarakat.
Sekiranya tidak dikarenakan keterpaksaan yang mendesak dan juga telah membuat sesak dada saya, nyaris-nyaris kami tidak ingin membahas sama sekali kekeliruan besar yang terjadi selama ini dalam dunia Islam.
Pembahasan hanya mendiskusikan doktrin-doktrin yang berhubungan dengan tema buku ini yaitu logika dan filsafat. Kita memulai dengan apa yang di fatwakan tokoh besar Islam Ibnu Taimiyah. “man tamantaqah faqad fasandaq” yang arti harfiahnya kurang lebih seperti ini; “Barangsiapa yang berlogika maka ia kafir” (Lihat, Buku Tajaliyat Ilahi, hal-1 Dimitri Mahayana). Apakah betul fatwa ini ? ataukah mutlak salah ?, apa implikasinya jika fatwa ini kita benarkan ?. Dan apa pula konsekwensinya jika ia mutlak salah ?.
Kami akan memberikan tiga argumentasi demi membuktikan kekeliruan fatwa ini
Pertama, salah satu prinsip logika adalah prinsip “kausalitas”. Prinsip kausalitas berbunyi, “segala sesuatu yang ada pastilah ada yang mengadakan, kecuali keberadaan.” Prinsip ini menurunkan prinsip sekunder yakni, “setiap sebab pastilah melahirkan akibat, dan setiap akibat pastilah lahir dari sebab.” Dari perkataan Ibnu Taimiyah, “Barang siapa yang berlogika maka ia kafir“, ada dua hal yang kita tarik dari makna perkataan di atas :
a) Berlogika mengakibatkan kita kafir, pada perkataan ini logika sebagai sebab kafirnya seseorang.
b) Kafir akibat dari logika, pada perkataan ini kafirnya seseorang akibat dari berlogikanya orang tersebut.
Perkataan tersebut menggunakan hukum sebab-akibat atau kausalitas. Dengan demikian, ketika Ibnu Taimiyah mengkafirkan logika sesungguhnya ia pun menggunakan prinsip logika yaitu “Prinsip Kausalitas”. Artinya yang berlogika adalah Ibnu Taimiyah sendiri. Dan apabila pernyataan ini benar maka benarlah kekafiran orang yang berlogika termasuk Ibnu Taimiyah. Jadi yang kafir sesungguhnya Ibnu Taimiyah sendiri berdasarkan pernyataannya sendiri.
Kedua, Dalam filsafat, manusia didefinisikan sebagai hewan yang berfikir. “Manusia = Hewan + Berfikir”. Artinya manusia dapat dikatakan manusia jika dia berfikir atau syarat mesti kemanusiaan adalah berfikir. Jadi jika x manusia pastilah x berfikir. Dan jika x tidak berfikir pasti x bukan manusia. Selanjutnya jika x berfikir pastilah x menggunakan prinsip berfikir (logika). Sehingga jika x manusia pastilah x mengunakan prinsip berfikir (logika). Jadi kesimpulannya, menggunakan logika adalah syarat mesti kemanusiaan.
Sekiranya kita menerima fatwa beliau tentang pelarangan logika, berarti kita dan beliau telah menghilangkan syarat berfikir dan syarat kemanusiaan.
Ketiga, logika adalah pinsip-prinsip berfikir. Subjeknya adalah manusia dalam hal ini akal rasional dan objeknya adalah realitas. Entah itu realitas di alam nyata atau realitas alam pikiran dan alam bahasa. Prinsip-prinsip berfikir dalam logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan akan prinsip logika itu mustahil. Bahkan mustahil pula pada semua khayalan yang mungkin (all possible intelligibles).
Contohnya prinsip nonkontradiksi, “sesuatu itu hanya sama dengan dirinya dan tidak sama dengan bukan dirinya”. Prinsip ini telah tertanam secara niscaya sejak kita lahir dan selalu hadir kapan saja pikiran digunakan dan harus diterima kapan saja dalam memahami realitas apapun. Bahkan lebih jauh lagi prinsip ini sesungguhnya merupakan suatu watak pasti bagi seluruh yang ada (the very property being). Menolak prinsip ini akan menghancurkan seluruh kebenaran pada semua alam. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh bangunan agama, filsafat, sains, teknologi dan seluruh pengetahuan manusia.
Sebagai contoh perkataan Ibnu Taimiyah, sekiranya pernyataan itu benar, maka menggunakan logika salah. Karena menggunakan logika salah maka prinsip nonkontradiksi pun salah. Selanjutnya, jika prinsip nonkontradiksi salah maka seluruh kebenaran tidak akan bermakna. Karena salah dan benarnya sesuatu akan identik, sehingga tidak bisa dinilai benar dan salahnya sesuatu. Dan jika seluruh kebenaran tidak bermakna, maka pernyataan Ibnu Taimiyah sendiri juga tak bermakna. Olehnya itu tidak usah dipikirkan!
Berdasarkan dari ketiga argumentasi yang dibahas, maka sebaiknya pernyataan bagi pengkafiran orang yang berlogika itu kita tolak. Pernyataan ini salah, salah dan mustahil benar. Karena jika benar maka semua yang berfikir benar akan kafir, dan ini mustahil!
Doktrin berikutnya yang akan dibahas, yaitu perkataan Imam Al Gazali dalam buku Al-Munqid karangan beliau.(Lihat Al-Huda, Vol 3 hal-64). Dan pelarangan filsafat dalam bukunya Tahafatul Falasyfah (sesatnya filsafat)
Dalam Al-Munqidnya beliau berkata “Pikiran tidak berkompoten untuk menjawab persoalan-persoalan metafisika yang dimunculkan oleh pikiran itu sendiri” Seperti biasanya kami kembali memberikan beberapa argumentasi guna membuktikan kekeliruan Al Gazali.
1. Agar mudah, kita tinggal menanyakan apakah Al Gazali “berfikir”, ketika beliau mengatakan bahwa pikiran tidak berkompoten untuk menjawab persoalan-persoalan metafisika yang dimunculkan oleh pikiran itu sendiri? Jawabannya hanya ada dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, “Al Gazali berfikir”. Jika Al Gazali berfikir berarti kitapun tidak bisa menjawabnya. Karena bukankah beliau sendiri yang mengatakan pikiran tidak berkompoten untuk menjawab persoalan-persoalan metafisika yang dimunculkan oleh pikiran itu sendiri. Jadi implikasi dari pernyataannya akan berbalik pada dirinya sendiri yaitu Al Gazali dalam hal ini meragukan sendiri pikirannya termasuk kebenaran perkataan beliau ketika mengatakan pikiran tidak berkompoten untuk menjawab persoalan-persoalan metafisika yang di munculkan oleh pikiran sendiri.
Kemungkinan kedua, “Al Gazali tidak berfikir” Jika Al Gazali tidak berfikir, kemungkinan ini lebih logis karena hanya orang yang tidak berfikirlah yang meragukan pikiran. Implikasi dari jawaban ini adalah tidak mungkin lagi membenarkan pernyataan beliau dan sebaliknya kita harus menyalahkannya, karena mana mungkin kita menerima sesuatu yang tidak berdasarkan pikiran. Jadi kesimpulannya, kita tinggal memilih kemungkinan pertamakah yang berarti meragukan perkataan beliau atau kemungkinan kedua yang menyalahkan perkataan beliau. Dan tidak ada kemungkinan ketiga yang membenarkan perkataan beliau. Karena semakin kita membenarkannya semakin itu pula kita meragukan dan menyalahkan beliau.
2. Dari pernyataannya, beliau secara tidak langsung meragukan dan membatasi pikiran. Hal ini sangat bertentangan dengan dalil aqli sebagaimana yang kita telah bahas di atas dan dalil naqli. Beberapa bukti dari ayat dalam Al Qur’an dan hadist tentang betapa pentingnya pikiran, yaitu :
“Inna fi halqi samawati wal ardi wa uhtilafiil laylii wannahari laa ayatiln li ulill al-bab, allaziina yaskuruwnallaha qiyamman waqu udan wa ala junubihi wayatafakkaruna fi halqi samawati wall ardi”. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang “berakal”, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka “memikirkan” penciptaan langit dan bumi (QS. 3:190-191)
“Wa qaluw laow kunna nasmau aw naqqiluu maa kunna fii ashabisa’iyri “ berkata penghuni neraka, sekiranya kami mendengar atau “memikirkan” peringatan itu, niscaya kami tidaklah termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. ( QS. 67: 10)
“Alsyinaa yastamiunal qawla fayattabiuna- ah’zanuu ulaa ikallazina hadahumullahu wa ulaaikahum ulul al bab”. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai “akal.” (QS 39: 18)
“Wayaj alu rihsya alallasyinaa layaqqilun“. Dan Allah sangat membenci kepada orang-orang yang tidak menggunakan “akalnya”. ( QS. 10: 100).
“Afala tafaqqarun afala taqqilun“ Apakah kamu tidak berfikir, apakah kamu tidak berakal.
“Sebaik-baik ibadah adalah bertafakkur tentang Allah dan kekuasaan-Nya“ (Imam Jafar)
“Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah delapan puluh tahun“ (Bukhari )
“Bangkitkan hatimu untuk berfikir” (Imam Ali. K.W)
Sebenarnya ada sebanyak lima puluh lebih ayat di dalam Al Quran yang menyinggung tentang betapa pentingnya berfikir belum lagi hadist Rasul. Tetapi semoga apa yang telah kami paparkan kiranya dapat dijadikan argumentasi untuk tidak lagi menerima fatwa-fatwa yang membatasi bahkan meragukan akal pikiran. Karena akan berdampak meragukan ayat dan hadist yang menganjurkan kita untuk berfikir.
Selanjutnya, kita bahas doktrin Al Gazali yang kedua tentang pelarangan filsafat seperti dalam bukunya “Tahafatul Falasyfah” sesatnya filsafat. Sebenarnya jauh sebelum buku ini ada Ibnu Rusyd mengatakan bahwa kemunduran Islam terjadi dikarenakan mereka tidak belajar filsafat. Tetapi terlepas dari perkataan Ibnu Rusyd, kita tetap saja harus mendiskusikan doktrin tersebut. Beberapa argumentasi untuk mengugurkan doktrin ini adalah sebagai berikut :
Pertama, yang harus kita ketahui terlebih dahulu adalah apa itu filsafat ? karena jangan sampai kita melarang filsafat, sementara yang kita larang-pun kita tidak tahu! Artinya kita menolak sesuatu yang sesuatu itu kita tidak tahu. Jika demikian apa yang kita tolak, selain ketidaktahuan kita ! Saya sendiri bisa memastikan bahwa orang-orang yang menolak filsafat sesungguhnya tidak memahami filsafat.
Filsafat adalah ilmu yang membahas tentang realitas atau keberadaan segala sesuatu sebagaimana adanya, dengan menggunakan akal rasional (logika). Filsafat sering juga dikatakan ibu dari segala ilmu. Dan ini memang benar karena sebagaimana definisinya, filsafat itu membahas tentang realitas. Dan semua disiplin ilmu pun membahas tentang realitas apapun namanya, kedokteran, fisika, hukum, sosial, teknik, seni, dan lain-lain. Seluruhnya tidak lepas dalam membahas realitas. Olehnya itu benarlah jika filsafat itu adalah ibu dari segala ilmu. Dengan kata lain semua disiplin ilmu telah berfilsafat. Termasuk ketika kita melarang filsafat, sesungguhnya kitapun telah berfilsafat. Karena filsafat merupakan realitas yang kita bahas. Jadi sesungguhnya ketika Al Gazali melarang filsafat beliaupun telah berfilsafat, sehingga yang beliau larang adalah dirinya sendiri.
Kedua, karena filsafat membahas segala sesuatu dari segi adanya, maka yang melarang filsafat berarti melarang membahas segala sesuatu. Jika demikian untuk apa Al Gazali membahas filsafat ?. Bukankah beliau melarang membahas segala sesuatu. Atau sebaiknya kita diam saja semuanya karena dilarang membahas apapun. Karena ketika kita membicarakan realitas, sesungguhnya telah berfilsafat lagi. Bukankah kita tidak lepas dari pembahasan adanya sesuatu itu. Apakah mungkin kita membicarakan sesuatu yang tidak ada?.
Ketiga, sebagaimana maklum, filsafat mencakup seluruh disiplin ilmu. Jika melarang filsafat berarti melarang semua disiplin ilmu. Walhasil semua universitas dan seluruh sekolah yang ada di dunia ditutup saja. Kenapa ditutup? ya.., tentu saja karena dilarang !.
Mungkin anda berfikir dan bertanya, bagaimana mungkin ulama sekaliber Al Gazali mengalami kekeliruan seperti ini? Sehingga anda lebih memilih menyalahkan kami ketimbang menyalahkan Al Gazali. Jika demikian kami pun dapat bertanya, bagaimana mungkin anda dapat berfikir bahwa Al Gazali tidak bisa keliru?
Jika anda sedikit saja mengetahui sejarah kehidupan Al Gazali niscaya anda akan setuju dengan kami. Dalam fase-fase perjalanan kehidupan Al Gazali, beliaupun pernah mengalami kebingungan-kebingungan bahkan beliau pernah mengundurkan diri ketika menjabat sebagai Rektor salah satu universitas paling terkenal di zamannya. Dikarenakan kebingungan beliau dalam memahami realitas. Bahkan telah ditulis satu buku yang berjudul “Kebingungan Al Gazali” Oleh Nicholson. Dan penjelasan kebingungan Al Gazali ini pun anda dapat membaca langsung dalam buku “Misykat Al Anwar” Yang telah diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul Misykat Cahaya-Cahaya. Bukan hanya itu, Prof M. Said Sheikh dalam buku beliau yang berjudul “Islami Philosopy” telah menyamakan kebingungan Al Gazali ini dengan kebingungan Rene Descertes (1596-1650), seorang idealis Perancis yang bingung itu.
Sebenarnya bukan hanya kita saja yang mengkritik Al Gazali. Ayatullah Ruhulla Al Musawi Al Khomeini pun telah mengkritik beliau dalam bukunya “40 Hadist”, pada hadist ke-24 pembahasan hadist tentang klasifikasi ilmu. Ayatullah sahid Murthada Muthahhari yang digelari mahaguru kelima juga mengkritiknya. Anda dapat langsung melihatnya dalam buku beliau “Falsafah Akhlak” Hal -27 (Pustaka Hidayah 1995) Bahkan yang paling ekstrim Ibnu Al Jawzi berkata, Keekstriman Al Gazali pada sufi kadang-kadang menyebabkannya berpaling dari fiqih Islam.(Lihat Falsafah Akhlak Hal-27).
Tetapi perlu diingat, kebingungan bukanlah hal yang buruk. Termasuk apa yang dialami Al Gazali. Karena kebingungannyalah beliau dapat mengantarkannya ke sebuah ketenangan. Tetapi harus dilihat juga mana pernyataan di saat orang lagi bingung, dan mana pernyataan saat tenang. Kita tidak bisa pukul rata.
Saya mengakhiri doktrin sesatnya filsafat ini dengan sebuah kenyataan yang saya alami sendiri, dan di dalamnya membuktikan bahwa orang-orang yang melarang filsafat sesungguhnya tidak mengetahui apa itu filsafat ?.
Kejadian ini ketika diadakan seminar di “STIMIK DIPANEGARA” Makassar, pada pertengahan tahun 2001. Dalam seminar tersebut salah satu pembicaranya adalah seorang ustaza muda. Beliau mahasiswa FKG Unhas yang tidak usah saya sebut namanya. Teman kita ini dengan sangat keras melarang filsafat. Beliau mengatakan filsafat itu haram, karena bukan Nabi Muhammad SAW─semoga shalawat tetap tercurahkan untuknya─yang mengajarkannya, filsafat itu berasal dari Yunani. Makanya sebagai umat Islam yang mengikuti Rasul kita tidak usah belajar filsafat!. Dan ketika diberi kesempatan untuk berbicara, saya langsung saja menanggapi perkataan beliau, “Saya sangat yakin ketika kita menanyakan apa itu filsafat kepada teman kita ini, pastilah ia tidak mengetahuinya. Karena hanya orang yang tidak mengetahui filsafatlah yang melarang filsafat. Walhasil, ketika beliau menjawabnya, tak satupun jawaban yang jelas keluar darinya.
Sekiranya filsafat haram karena bukan Nabi Muhammad SAW yang membawanya atau mengajarkannya, maka konsekwensinya teman kita ini harus berhenti untuk menjadi mahasiswa FKG. Karena disiplin Ilmu Kedokteran Gigi bukan juga Nabi Muhammad SAW yang membawanya atau mengajarkannya. Dan ini pun juga akan berimbas pada sebahagian besar disiplin ilmu yang ada. Dan jika kita berfikir lebih dalam lagi, alasan teman kita ini membuat ia pun harus mengharamkan orang yang mengharamkan filsafat atau mengkafirkan dirinya sendiri. Karena pelarangan filsafat bukan pula Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan.
Saya hanya mau bilang bahwa filsafat, logika, teknik, kedokteran, fisika dan beberapa disiplin ilmu lainnya memang secara disiplin ilmu bukan Nabi Muhammad SAW yang menyusunnya. Tetapi bukan berarti Islam tidak mengajarkannya atau mencakup semuanya. Karena sangat tidak bijak ketika mekanika quantum, quatum learning, sistem anatomi, prinsip-prinsip berfikir, dan sebagainya semuanya dijelaskan secara sistematis dalam Al Qur’an. Entah bagaimana tebalnya Al Qur’an nantinya! Cukuplah kiranya Al Qur’an mengatakan “Afala taffakkarun Afala taqqilun (apakah kamu tidak berfikir, apakah kamu tidak berakal).” Saya sendiri percaya bahwa Rasul itu mengetahui semua ilmu manusia yang hidup sebelumnya dan manusia yang hidup sesudah beliau, atau beberapa hadist ;
“Akulah kota Ilmu dan Ali lah pintunya“
“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina“, Jangankan di Yunani yang dekat Rasul menyuruh kita sampai ke negeri Cina.
Imam Ali berkata, “Rasul mengajariku tujuh ribu ilmu yang setiap cabangnya bercabang lagi tujuh ribu ilmu lagi“, betapa tidak terbatasnya ilmu Rasul.
Olehnya itu, janganlah karena ketidak-tahuan kita akan sesuatu yang menyebabkan kita menolak sesuatu itu.
Tokoh ketiga yang tak lupa pula harus kita diskusikan doktrinnya adalah Al- Asy’ari (277-330. H). Ada dua pandangan beliau yang menurut saya cukup mendesak untuk kita bahas. Karena telah mendarah daging pada pemikiran umat Islam pada umumnya. Doktrin pertama beliau, yaitu pandangan beliau tentang “sifat, zat, dan perbuatan Tuhan itu “beda”. Apa implikasi dari pendangan semacam ini? dan seberapa jauh pengaruhnya pada tauhid kita ?. Untuk menjawabnya, kami memberikan dua argumentasi :
Pertama, kita mesti tahu bahwa Tuhan itu satu, satu dalam zat yakni tidak ada Tuhan selain diri-Nya yang berdiri sendiri, tidak bermula dan tidak berakhir, dan tidak ada wujud atau tuhan selain dirinya. Dan satu dalam sifat, yakni sifat-sifat-Nya tidak berbeda dengan zat-Nya. Perbedaan yang terjadi tersebut hanya dalam pahaman kita saja. Demikian pun dengan perbuataan-Nya. Perbuatan-Nya adalah sifat-Nya itu sendiri. Perbedaan perbuatan dengan zat-Nya juga hanya terjadi dalam pahaman kita saja, ketika kita menghubungkan sifatnya dengan makhluk-Nya. Tauhid seperti ini di bangun atas dasar terbatasnya semua hal atau wujud yang terangkap. Sementara jika zat Tuhan dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya berbeda, maka hal ini menandakan bahwa Tuhan terangkap dari zat, sifat, dan perbuatan-Nya tadi. Jika semua yang terangkap itu terbatas, maka keterangkapan Tuhan ini membuat-Nya terbatas pula. Sebab semua rangkapan tersebut satu sama lain saling membatasi. Oleh karena itu semua rangkapannya terbatas. Dan gabungan yang terbatas sebanyak apapun dan seluas apapun tetap akan menghasilkan keterbatasan pula. Selanjutnya setiap yang terbatas memiliki awal dan akhir. Dengan demikian jika Tuhan itu terbatas, berarti Tuhan memiliki awal dan akhir pula. Hal ini jelas mustahil. Sebab jika Tuhan memiliki awal dan akhir, berarti sebelum awal ia tidak ada. Dan jika sebelumnya ia tidak ada, berarti ia bukan Tuhan. Atau sebelumnya ia tidak ada dan setelah awal ia baru ada, berarti ia dicipta oleh sesuatu sebelum dirinya, yang lebih dahulu ada dari dirinya. Sementara yang namanya Tuhan itu haruslah pencipta, bukan ciptaan.
Kedua, ketika menggunakan kata “beda” pada kalimat zat, sifat dan perbuatan berbeda maka kata beda tersebut memiliki makna ada dua sesuatu atau lebih yang dibedakan. Yang mana sesuatu tersebut berbeda dengan sesuatu yang lainnya. Karena mustahil kita membedakan sesuatu yang sama. Artinya kata beda memiliki arti lebih dari satu, karena jika sesuatu itu satu berarti dia tidak berbeda. Di sisi lain, inti dari makna kata “Tauhid” sendiri adalah meng-Esakan. Sehingga jika kita mengatakan bahwa zat, sifat, dan perbuatan-Nya berbeda berarti sesungguhnya kita tidak bertauhid.
Meski kami mengemukakan argumentasi seperti di atas, namun masih ada saja orang yang mempertahankan bahwa zat, sifat, dan perbuatan Tuhan itu berbeda. Dengan mengatakan bahwa perbedaannya tetapi tetap satu. Jika memegang keyakinan seperti ini, berarti tidak ada bedanya dengan konsep trinitas dari teologi Kristen. Yakni, Tuhan Bapak, Tuhan Anak, Roh Kudus. Yang diklaim berbeda tetapi tetap satu.
Untuk lebih yakin, sebaiknya mari kita renungi perkataan salah seorang murid terbesar Rasulullah SAW, Imam Ali. Kw semoga shalawat dan taslim tercurahkan untuknya. Beliau berkata dalam Nahjul Balagha bahwa;

“ Pangkal agama adalah ma’rifat-Nya (pengetahuan tentang-Nya), dan kesempurnaan ma’rifat-Nya adalah membenarkan-Nya, dan kesempurnaan pembenaran adalah meng-Esakan-Nya, dan kesempurnaan peng-Esaan-Nya adalah ikhlas kepada-Nya, dan kesempurnaan ikhlas kepada-Nya adalah meniadakan sifat-sifat dari-Nya, karena setiap sifat bukanlah yang disifati, dan yang disifati bukanlah sifat, maka barangsiapa yang mensifati Allah SWT, berarti ia telah memberikan pasangan kepadanya, dan barangsiapa yang telah memberikan pasangan kepada-Nya maka ia telah menggambarkan-Nya, dan barangsiapa yang telah menggambarkan-Nya, berarti ia telah membagi-Nya, dan barangsiapa yang telah membagi-Nya maka ia telah berlaku jahil kepada-Nya, dan barangsiapa yang telah berlaku jahil kepada-Nya berarti ia telah menunjuk-Nya, dan barangsiapa yang menunjuk-Nya, berarti ia telah memberi batasan kepada-Nya, dan barangsiapa yang telah membatasi-Nya berarti ia telah menjadikan-Nya berjumlah (banyak)….”. (Nahjul Balagha Hal- )

Karena pembahasan ini berhubungan dengan masalah keimanan yang merupakan sesuatu yang tidak ada paksaan di dalamnya serta tidak diperbolehkan adanya taklid (ikut-ikutan). Maka semuanya tergantung pada diri kita masing-masing, apakah nantinya kita tetap mengikuti pandangan Al Asy’ari atau harus mengkaji ulang keber-imanan kita yang sesuai dengan argumentasi kita masing-masing yang tentunya lebih logis dan benar.
Doktrin kedua Al Asy’ari yang lebih menyesatkan lagi yakni, doktrin “keterpaksaan” (jabr) dalam memahami takdir. Doktrin ini meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah secara langsung. Apa yang kita lakukan ini hanya dilakukan secara terpaksa saja, sehingga menapikan adanya kebebasan manusia. Kaum yang berpahaman seperti ini disebut kaum Jabariyah. Mereka juga mengutip beberapa ayat dalam Al Qur’an untuk menguatkan pemahaman mereka, antara lain :

“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi, dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis pada suatu kita sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS 57: 22).

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan, dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.” (QS 6: 9).

“Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65: 3)

“Sesungguhnya kami telah menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya.“(QS 54: 49)

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah sumbernya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.”(QS 15: 21)

“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.“ (QS 14: 4 )

“Katakanlah, wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kerajaan orang yang Engkau kehendaki, Engkau memuliakan orang yang Engkau kehendaki dan menghinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan, sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.“ (QS 3: 26 )

Berdasarkan pemahaman seperti inilah, maka tidak heran jika muncul ungkapan-ungkapan kepasrahan yang tidak beralasan, yang seringkali didengar dalam masyarakat, misalnya;
“Kita harus percaya takdir baik, takdir buruk.“
“Jika Tuhan telah mentakdirkan buruk kita terima saja.”
“Karena apapun yang kita lakukan adalah kehendak Tuhan.“
“Rezeki, jodoh, maut, Tuhanlah yang menentukan, kita tinggal menerimanya saja.”
“Takdir memang kejam.“
“Jika Tuhan menghendaki kita bercerai, Ya.., apa boleh buat kita terima saja.”
Saya sangat sakit hati mendengar ungkapan-ungkapan kepasrahan, keterpaksaan seperti ini. Dengan dalil untuk memuliakan Tuhan, yang justru malah tidak memuliakan Tuhan. Karena yang menjadi pertanyaan kita hari ini. Apakah betul selama ini kita melakukan sesuatu secara terpaksa ?. Sebagaimana pengklaiman kaum Jabariyah dan apa implikasinya pemahaman seperti ini ?.
Ketahuilah, bahwa di Al Qur’an telah memberikan kebebasan kepada kita untuk menentukan sesuatu bahkan dapat mengubah nasib kita sendiri. Misalnya seperti dalam ayat :

“Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan mereka yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS 16: 112 )

“Allah tidak sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.“ (QS 29: 40 )

“Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS 41: 46 )

“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang hendak kafir, biarlah ia kafir.” (QS 18: 29)

“Telah tampak kerusakan di darat dan lautan disebabkan karena perbuatan manusia.”(QS 30:41)

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka kami akan tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami akan berikan kepadanya sebahagian keuntungan di dunia.”(QS 42:20)

Adapun dampak pemahaman keterpaksaan (Jabr), akan mengakibatkat konsep surga dan neraka akan tidak berarti lagi, konsep amal dan dosa juga demikian, karena semuanya adalah kehendak Tuhan. Bukankah yang menginginkan kita untuk masuk neraka adalah Tuhan, dan yang menghendaki kita masuk surga adalah Tuhan pula. Serta bukankah yang menciptakan kehendak berbuat dosa adalah Tuhan dan menciptakan kehendak berbuat baik adalah Tuhan. Terus, atas dasar apa Tuhan menghukum kita jika semuanya adalah kehendak-Nya ?. Dan ini juga akan melumpuhkan kehendak untuk berusaha pada manusia, kehendak untuk berjuang. Karena toh juga kaya dan miskinnya seseorang telah diatur, rezeki seseorang telah ditentukan. Pahaman Jabariyahlah yang memberikan kekuatan kepada para tirani, penindas, dan pada saat yang sama mengikat erat-erat kaum tertindas. Anda bisa bayangkan jika mereka kaum penindas mengatakan bahwa kami ini ditakdirkan berkuasa atas kalian dan sebaliknya kalian telah ditakdirkan sebagai rakyat yang tertindas, olehnya itu kalian harus menerimanya. Serta kami telah diberikan bakat dan kemampuan untuk kaya, mengumpulkan harta, dan kalian tidak diberikan hal semacam itu. Kalian lebih baik miskin di dunia dari pada miskin di akhirat. Olehnya itu kalian harus bersabar saja, rela dan bersyukurlah. Terima saja apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan kepadamu. Dan kami juga akan menerima apa yang ditakdirkan kepada kami. Hal seperti inilah yang dilakukan oleh Muawiyah cs.
Jika diperhatikan antara beberapa ayat-ayat yang disebutkan oleh kaum Jabariyah dan ayat yang kami sebutkan, mungkin anda akan berfikir bahwa ayat-ayat tersebut saling bertentangan. Tetapi sekiranya memakai sedikit saja logika, kita tidak bakalan kebingungan. Silahkan anda membuka buku “Manusia dan Agama” dan “Keadilan Ilahi” karya Ayatullah Murthada Muthahhari jika penasaran akan jawabannya. Karena kami pada kesempatan ini hanya menunjukkan kekeliruan doktrin Al-Asy’ari. Tetapi bukan berarti kami membenarkan pahaman kebebasan (Qadariyah), seperti yang diklaim oleh orang-orang Mu’tazilah.

SETAN ATAU KESALAHAN-KESALAHAN BERPIKIR

Pahaman selama ini yang beredar dalam mayoritas masyarakat tentang setan yang berwajah buruk, menakutkan, yang memiliki keberadaan di luar manusia sehingga mampu mencekik leher manusia, membunuh manusia. Seperti yang dilakukan setan Sumiati, Si Manis Jembatan Ancol atau Sundal Bolong adalah merupakan pahaman yang keliru. Kita pada umumnya belum bisa membedakan mana jin dan mana setan.
Dalam dunia mistik diketahui bahwa yang selama ini yang menakut-nakuti manusia yang memiliki keberadaan di luar manusia yang mampu mencelakakan manusia secaras fisik dan ruhani dengan langsung semuanya adalah kerjaan jin yang mengaku sebagai setannya ruh si A dan setannya ruh si B. Mungkin anda bertanya jika demikian setan sendiri yang mana?, setan tidak memiliki kedimanaan! pertanyaan “yang mana“, bermakna menunjukkan keberadaan sesuatu. Sementara setan tidak memiliki keberadaan, (baca pula: non eksistensi di luar pahaman). Singkatnya, setan hanya terbatas pada wilayah pemikiran manusia saja, tidak sampai mempengaruhi jasad. Dan otoritas pengaruhnya terhadap pikiran manusia pun masih terbatas juga, dengan hanya mampu melahirkan keraguan (was-was) dan menunjukkan yang batil terlihat sebagai kebenaran. Intinya setan muncul ketika kita tidak menggunakan akal yang biasanya dalam bentuk kesalahan-kesalahan berpikir. Al-Quran menukil jawaban setan sendiri terhadap mereka yang termakan rujukannya:
“Sekali-sekali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan aku sekedar menyeru dan kamu menjawab seruanku itu. Maka, janganlah kamu mencercahku, cercahlah dirimu” (QS 14: 42).
Jadi sekiranya kita telah mampu menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, otomatis kita telah mematikan yang apa yang disebut setan. Olehnya itu harus tahu apa saja bentuk dari kesalahan-kesalahan berpikir itu, yang sebenarnya telah dikemukakan untuk pertama kalinya oleh guru kami yang tercinta Prof. Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat─semoga Allah merakhmatinya- dalam bukunya Rekayasa Sosial. Dan saya hanya menambahkan beberapa saja diantaranya, semoga mampu memberikan sebuah gambaran kepada kita tentang kesalahan-kesalahan berpikir itu.

1.Over-Generalisation : Yaitu, penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat umum. Kerancuan berpikir seperti ini acap kali terjadi dalam lingkungan kita.

Misalnya, ketika sebagian teroris itu adalah memeluk agama Islam. Maka dengan serta merta Amerika dan Dunia Barat mengatakan bahwa Islam adalah teroris. Nampaknya negara super power itu terjebak dengan apa yang kita sebut dengan over-generalisation. Demikian pun halnya apa yang dikatakan Karen Armstrong penulis yang terkenal itu dalam bukunya “A history of God, Nizam Press 2001”, bahwa Tuhan telah mati, karena di Eropa gereja-gereja sudah kosong. Ini adalah salah satu bentuk kesalahan berpikir juga, karena tidak bisa gereja yang kosong dijadikan parameter tentang matinya Tuhan, bukankah gereja hanya milik orang Kristen saja dan bukankah pula itu terjadi hanya di Eropa saja. Bagaimana dengan Tuhannya orang Islam, Hindu, Budha ? bagaimana dengan gereja-gereja di luar Eropa?.

2.Post Hoc Ergo Proter Hoc : Inti dari kesalahan berpikir ini ketika seseorang berargumentasi dengan menghubungkan sesuatu yang tidak berhubungan. Misalnya, ketika KH. Zainuddin MZ dalam salah satu kegiatan tournya untuk ceramah keliling di berbagai daerah. Di salah satu daerah sebelum beliau naik mimbar untuk berceramah hujan begitu deras turun dan ketika ia naik untuk ceramah maka hujan pun jadi reda. Lalu orang di dalam mesjid pada umumnya mengambil kesimpulan bahwa karena K.H.Zainuddin MZ lah sehingga hujan menjadi reda, nampaknya para penikmat ceramah telah terjebak dalam kesalahan berpikir tersebut.

3.Argumentum Ad Verecundiam : Berargumentasi dengan menggunakan otoritas seseorang yang belum tentu benar atau berhubungan demi membela kepentingannya dalam hal ini kebenaran argumentasinya. Seperti contoh yang sangat ekstrim pada doktrin yang beredar dalam masyarakat kita yang difatwakan Ibnu Taimiyah yang berbunyi; “Barang siapa yang berlogika maka ia kafir” sehingga dari fatwa yang belum tentu benar ini, seringkali saya bertemu orang yang mengambil kesimpulan bahwa karena Ibnu Taimiyah mengharamkan logika maka kita hendaknya tidak belajar logika atau karena Imam Al-Ghazali melarang filsafat maka haram hukumnya belajar filsafat. Maka seluruh umat Islam jangan belajar filsafat, karena hal itu menyesatkan. Di sini kita terjebak Argumentum Ad Verecumdiam. Adapun argumentasi tentang ketidak-benaran kedua fatwa tersebut akan kita bahas pada pembahasan doktrin-doktrin yang keliru.

4.Circular Reasoning : Circular Reasoning artinya pemikiran yang berputar-putar, menggunakan kesimpulan untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk mendukung kesimpulan awal. Misalnya terjadi perdebatan tentang pembuktian keberadaan Tuhan dengan mengatakan bahwa “adanya Tuhan terbukti karena adanya alam ini, karena Tuhanlah yang menciptakan alam”. Tetapi jika ditanya, apa buktinya bahwa alam ini Tuhan yang ciptakan ? Ya.., karena Tuhan maha pencipta maka alam ini Tuhan yang ciptakan. Terus ditanya lagi apa bukti bahwa Tuhan maha pencipta? Ya.., tentu saja karena adanya alam ini. Dengan jawaban seperti ini, kita akan kembali masalah awal lagi. Perdebatan ini terus berputar di sekitar itu saja.
Contoh lain ketika seorang peserta Bastra (Basic Training) HMI berdebat dengan saya, ia ingin membuktikan ketauhidannya dengan mengatakan bahwa “Hanya ada satu Tuhan yakni Allah”. Dan saya balik tanya apa buktinya bahwa Allah itu satu? Ya .., tentu saja Allah itu satu karena jika lebih dari satu Allah itu akan berkelahi dengan Tuhan lainnya. Terus saya tanya lagi, apa buktinya jika Allah lebih dari satu itu akan berkelahi? Ya.., tentu saja karena jika Allah satu dia tidak akan berkelahi karena tidak ada lawannya berkelahi. Terus ditanya lagi, apa buktinya bahwa Allah itu satu. Ya.., kalau Allah lebih dari satu ia akan berkelahi. Yah…kembali lagi kepermasalahan awal ! Inilah contoh Circular Reasoning. Ini sama saja pernyataan bahwa Tuhan itu terbukti adil karena jika dia tidak adil dia bukan Tuhan. Makanya Tuhan itu terbukti adil.

5.Black and White Fallacy : Inti dari kesalahan berfikir ini ketika seseorang melakukan penilaian atau berargumentasi berdasarkan dua alternative saja dan menafikan alternative lain. Saya akan memberikan contoh yang terjadi pada teman saya. Mungkin bagi mahasiswa angkatan saya sangat patut diragukan ke-Unhasan-nya jika tak mengenal orang ini. Namanya Ahmad Naki, mahasiswa Fak-Kedokteran Angk.98. Di Fakultasnya Ahmad Naki dianggap orang yang sesat namun di sisi lain ia juga adalah aktifis HMI, sehingga banyak mahasiswa Unhas yang meragukan kebenaran berita ini. Saya sendiri ingin tahu kebenaran berita ini. Dan apa yang menyebabkan sehingga Ahmad Naki bisa dikatakan kafir? Ternyata cek per cek, Ahmad Naki dikafirkan karena ia pernah kedapatan sekali tidak pergi shalat Jum’at. Dan berita ini saya dapatkan langsung dari seorang ahwat (perempuan) yang melihat Ahmad Naki tidak pergi shalat Jum’at. Waktu itu saya hanya bisa mengatakan pada teman ini bahwa kita tidak bisa berfikir seperti itu, sebab itu adalah bentuk kesalahan berfikir. Karena bisa jadi ada alternatif lain yang pada saat itu membuat Ahmad Naki tidak sempat pergi shalat Jum’at. Karena sekiranya seperti ini cara berfikir kita, berarti semua yang tidak shalat Jum’at kafir, dan semua yang pergi shalat Jum’at beriman. Meskipun ia tidak tahu kenapa ia harus shalat Jum’at dan hukum-hukum shalat Jum’at. Singkatnya ia shalat Jum’at hanya ikut-ikutan saja atau karena kebiasaan saja. Dan tentunya anda dan saya pun tidak setuju jika seseorang dapat disebut beriman hanya dengan faktor kebiasaan dan ikut-ikutan saja.

6.The Fallacy of Illicit Minor : Kesalahan berfikir ini terjadi dikarenakan menghubungkan pernyataan yang bersifat khusus dengan pernyataan yang bersifat umum dengan cara melampaui hubungan kedua pernyataan tersebut. Misalnya,
Pernyataan pertama, wajah Laskar Jihad seram-seram.
Pernyataan kedua, Laskar Jihad adalah umat Islam.
Kesimpulan, wajah umat Islam seram-seram.

7.The Fallacy of Illicit Mayor : Kesalahan berfikir ini kebalikan dari point enam, yakni menghubungkan pernyataan yang bersifat umum dengan pernyataan yang bersifat khusus meskipun melampaui hubungan keduanya. Sebagai contoh, kasus ini saya alami sendiri, pada pengkaderan tingkat II HMI yang biasa disebut “Intermeidit” di acara itu terjadi diskusi panel antara ketua-ketua ormas kepemudaan Islam yang ada di Sul-Sel. Dan pemikiran yang dilontarkan utusan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) pada saat itu cukup menarik dan saya pun turut menyimaknya dengan seksama. Singkat cerita, setelah acara usai saya secara pribadi meminta waktu untuk bertanya dan belajar lebih banyak lagi tentang Islam pada beliau. Nama sapaannya kak Oji karena ia adalah senior saya di Unhas. Alhamdulillah beliau menyetujuinya. Dua jam setengah lamanya kami berbicara, yang di dalamnya sempat terjadi perbedaan pendapat. Dan inti dari perbedaan pendapat kami adalah masalah kemaksuman Nabi Muhammad SAW semoga shalawat senangtiasa tercurahkan untuknya. Saya setuju jika Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang maksum (terhindar dari kesalahan), dan kak Oji ini sangat tidak setuju jika Nabi Muhammad SAW maksum. Dengan argumentasi beliau kurang lebih seperti ini,
Premis pertama : Manusia bisa salah.
Premis kedua : Muhammad SAW manusia.
Kesimpulan : Muhammad SAW bisa salah.
Beliau pun berkata, Muhammad SAW kan juga manusia biasa seperti kita. Seraya menambahkan kutipan hadist yang berbunyi “Engkau lebih mengetahui urusan duniamu dari pada aku” (Shahih Muslim, Jus II halaman 426).
Sekilas argumentasi senior saya ini cukup kuat, tetapi bagi orang yang pernah sedikit saja bersentuhan dengan “logika”, argumentasi di atas tidak lebih dari sebuah kesalahan berfikir. Olehnya itu kita akan mendiskusikannya satu persatu dan saya akan membahasnya lebih mendalam karena bagi saya ini masalah yang penting dalam Islam yang termasuk dalam persoalan Ushuluddin, yakni iman kepada kenabian. Lagi pula sangat erat hubungannya dengan pembahasan pada BAB VI dalam tulisan ini.
Alasan pertama, di sini kak Oji terjebak dengan Fallacy of Illicit Mayor, dimana susunan premisnya seperti berikut :
Premis pertama ; “Manusia bisa salah”. Dari kalimat ini bukanlah berarti semua manusia mesti salah dan telah melakukan kesalahan. Karena makna kata “bisa salah” dalam kalimat “manusia bisa salah” tidaklah sekali-kali memastikan kesalahan pada manusia. Karena saya juga bisa pakai argumentasi seperti beliau yakni :
Premis pertama : Manusia bisa makan babi
Premis kedua : Sofian manusia
Kesimpulan : Sofian bisa makan babi

Premis pertama : Mahasiswa bisa menjadi pecandu narkoba
Premis kedua : Zubair mahasiswa
Kesimpulan : Zubair bisa menjadi pecandu narkoba
Dan apakah Sofian dan Zubair telah pasti makan babi dan menjadi pencandu narkoba, atau argumen lain yaitu,
Premis pertama : Manusia bisa benar.
Premis kedua : Fir’aun manusia.
Kesimpulan : Fir’aun bisa benar.
Dan apakah ini berarti Fir’aun pasti benar. Dan jika premis ini kita terima berarti, Al Qur’an pun menjadi bisa salah yang memastikan Fir’aun salah, yang ternyata Fir’aunnya bisa benar.
Mungkin anda berfikir kenapa sampai serancu ini? Ketahuilah, sebenarnya akar kesalahan kita yakni dalam mamaknai kata “bisa salah” pada kata kalimat manusia bisa salah. Yang sebenarnya tidak berlaku pada setiap manusia, juga hanya bermakna suatu kemungkinan. Dan suatu kemungkinan tidak bisa kita hukumi sebagai suatu kepastian, karena sesuatu yang mungkin itu tidak punya keberadaan yang pasti. Kemungkinan itu kan hanya sebuah kemungkinan saja. Dan juga hanya melahirkan sebuah kemungkinan pula. Terus bagaimana mungkin kita bisa berangkat dari argumentasi yang mungkin untuk memastikan suatu argumentasi.
Premis kedua: Muhammad manusia. Pada kalimat ini tidak berartikan lagi manusia yang bisa salah itu termasuk Muhammad SAW di dalamnya. Karena sebagaimana maklum tidak semua manusia bisa salah dan hanya merupakan kemungkinan saja.
Kesimpulannya : Karena kesimpulan diambil dari menghubungkan premis pertama dengan premis kedua. Sementara kedua premis tersebut terdapat pengecualian bagi Muhammad SAW, jadi tidak ada lagi alasan untuk mengatakan Nabi Muhammad SAW bisa salah.
Alasan kedua, kak Oji mengatakan bahwa, Nabi Muhammad SAW-kan juga manusia biasa seperti kita. Perkataan ini sebenarnya ayat di dalam Al’Qur’an sepanjang pengetahuan saya terdapat dua ayat yang berbunyi dalam surah Fushilat ayat 6 dan Surah Al Kahfi ayat 110.
“Anaa basyarun mislukum” Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu.
Adapun letak kesalahan senior saya ini karena ia menerjemahkan kata “basyar” pada ayat tersebut dengan arti manusia. Padahal dalam Bahasa Arab arti kata “basyar” adalah manusia dalam aspek biologis atau jasad/fisik. Begitupun pada kata “Inzan”, dalam ayat berbunyi, “wama halaktull jinna wal inza illa liyabudun”(Az-Zariyat:56). Dalam Bahasa Indonesia juga diartikan sebagai manusia. Padahal inzan itu berkenaan dengan spiritualitas manusia. Juga pada kata “Naas” dalam Surah An -Naas, itu berkenaan dengan tata pergaulan manusia. Tetapi dalam Bahasa Indonesia diartikan sama yakni sebagai manusia saja. Jadi, ketika Rasulullah SAW─semoga shalawat senangtiasa tercurahkan untuknya, berkata; ”Aku manusia biasa seperti kamu juga” itu dalam aspek biologis atau jasadiah yakni, Beliau juga makan, minum, ngantuk, seks, dan sebagainya. Dan memang dari aspek ini kita tidak ada bedanya dengan Rasul. Tetapi adapun mengenai derajat kenabian, derajat kemaksuman itu bukan berkenaan dengan aspek biologis. Melainkan berkenaan dengan aspek spiritual. Dan ini sangat jauh berbeda dengan diri kita yang teramat bodoh ini. Jadi sebenarnya senior saya ini terkena juga kesalahan berfikir yang kita sebut Post Hoc Ergo Propter Hoc, menghubungkan sesuatu yang tidak berhubungan. Yakni, perkataan Rasul aku manusia biasa seperti kamu, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dapatnya Nabi Muhammad SAW berbuat salah.
Alasan ketiga, ada hadist yang berbunyi “Engkau lebih mengetahui urusan duniamu dari pada aku.” Terus terang hadist ini adalah hadist yang paling sekuler yang pernah saya dengar, dimana adanya pemisahan ajaran Islam yakni masalah akhirat saja yang kita berpegang sama Rasul atau Islam, adapun urusan dunia kita lebih mengetahuinya dari pada Rasul. Timbul pertanyaan, apakah Rasul itu hanya tahunya masalah akhirat saja sehingga kita menjadi lebih pintar dalam masalah dunia? Mestinya senior saya ini menanyakan terlebih dahulu kesepakatan saya tentang hadist yang menurut saya kontroversi ini. Dan nanti setelah saya sepakat barulah ia dapat berargumentasi dengan hadist tersebut. Karena bagaimana mungkin kita berargumen dengan sesuatu yang masih dipertanyakan. Ingat! berangkat pada sesuatu yang masih dipertanyakan hasilnya pun masih dipertanyakan. Jadi kesimpulan dari ketiga argumentasi kak Oji. disamping tidak ada satupun yang berhasil menggugurkan kemaksuman Rasul, juga memberikan kita contoh dari beberapa kesalahan berfikir sehingga kita tidak mungkin lagi melakukannya.

8.Argumentum Ad Miseria : Kesalahan berfikir karena menarik kesimpulan dengan berdasarkan rasa kasihan tanpa berdasarkan bukti. Misalnya, “memang benar Soeharto itu korupsi, tetapi dia kan juga mantan Presiden kita. Olehnya itu kita ampuni saja.” Atau “memang benar Hafsah dan Aisya bantu membantu menyusahkan Nabi sebagaimana mereka ditegur dalam Surah At-Tahrim ayat 4, tetapi bagaimanapun juga mereka itu adalah istri Nabi yang harus kita hormati.”

9.The Fallacy Of The Undistrubed Midle Term : Kesalahan berfikir karena orang yang mengambil kesimpulan tidak melakukan sesuatu apapun selain menghubungkan dua ide dengan ide ketiga, dan dalam kesimpulannya orang yang mengambil ide mengklaim bahwa telah menghubungkan satu sama lain. Misalnya, Katolik percaya adanya sistem kependetaan yang harus diikuti. Islam percaya adanya sistem keulamaan yang harus diikuti. Jadi Islam itu identik dengan Katolik, ini sama saja dengan kesalahan kesimpulan premis berikut; jika 2+2 = 4 dan 100-96 = 4 maka 2+2 itu identik dengan 100-96. Atau Islam percaya sama Tuhan, Hindu percaya sama Tuhan, apakah ini berarti Islam dan Hindu identik?.

10.Fallacy Determinisme Paranoid : Pada umumnya istilah paranoid kita kenal dalam disiplin ilmu psikologi. Yaitu suatu kondisi kejiwaan seseorang yang merasakan rasa takut yang berlebihan tanpa alasan yang patut dibenarkan. Biasanya kasus ini kita temukan pada orang yang trauma atau memakai sabu-sabu (salah satu jenis narkoba). Tetapi dalam kesempatan ini kita membahas paranoid yang timbul karena kesalahan berfikir, yakni adanya rasa takut yang berlebihan karena tekanan kebodohannya. Contohnya yang terjadi di almamater saya, dalam salah satu pengkaderan yang dilakukan MPM (Mahasiswa Pencinta Musallah) biasanya disebut dengan istilah pesantren kilat. Waktu itu kami masih mahasiswa baru sehingga kami masing “kosong”. Tetapi anehya kami dipesankan agar jangan baca buku-buku penerbit Mizan, Lentera, dan buku-buku Kiri!. Nanti kamu sesat !, buku-buku seperti itu tidak ada gunanya. Bahkan lebih ekstrim lagi sampai menyebut nama pengarangnya, yang saya tidak usah sebutkan. Mereka mengatakan bahwa akan membahayakan Islam. Nanti belakangan barulah saya tahu cara berfikir seperti ini adalah bentuk dari kesalahan berfikir. Karena timbul pertanyaan, Islam yang mana yang dibahayakan? Setahu saya yang namanya umat Islam itu tidak pernah mundur dalam hal intelektual atau ilmu. Kenapa kita begitu takut membaca buku yang berbeda dengan golongan kita, entah itu Kiri atau Kanan. Atas atau Bawah. Justru kita akan mundur jika hanya membaca buku itu-itu saja. Ibarat katak dalam tempurung. Kalau memang Islam benar kenapa harus takut, karena menurut saya hanya orang yang salahlah yang takut. Saya teringat ketika salah satu tokoh Marxian datang jauh-jauh berkunjung ke Najaf di Irak hanya untuk berdiskusi dengan Ayatullah Muhammad Baqir Sadhar, dan disambut baik oleh beliau. Atau surat menyurat seorang Rektor Universitas Al-Azhar di Kairo Asy-Syaikh Salim Al-Bisyri Al-Maliki dari Sunni dengan A. Syarafuddin Al Musawi seorang ulama Syiah yang telah dibukukan dalam buku setebal 500 halaman lebih dengan judul “Dialog Sunnah – Syiah”. Juga Presiden Iran Muhammad Khatami Hujjatul Islam mengirim surat kepada Paus Yohannes Paulus II di Vatikan untuk berdialog antar agama. Ataukah juga Imam Khomeini ketika mengundang para cendikiawan Uni Soviet untuk belajar di Qum Iran, melalui suratnya pada Michael Gorbachev yang menjabat Presiden Uni Soviet waktu itu. Yang ditanggapi dengan baik dengan dikirimkannya beberapa cendikiawan Uni Soviet. (Lihat buku, Pesan Sang Imam, hal-195). Mereka inilah contoh yang tidak terjebak dengan kesalahan berfikir (Fallacy Determinisme Paranoid).

Setelah kita mengetahui beberapa kesalahan berfikir cukuplah kiranya bagi kita untuk tidak melakukannya lagi. Karena ibarat sebuah semesta himpunan yang memiliki anggota seluruh peristiwa yang terjadi dalam diri kita, kemudian dalam diagram venn itu di tengah-tengahnya terdapat himpunan peristiwa yang berdasarkan akal, sedang di luar himpunan itu adalah negasinya, yaitu himpunan peristiwa yang berdasarkan setan. Dengan mengetahui hal-hal yang berdasarkan setan, kita bisa menarik garis pembatas lingkaran yang ada di pusat ini menjadi batas dari akal dan setan. Dan dengan mengetahui garis pembatas ini, dimasa depan kita tidak bakalan terbujuk lagi dengan setan dalam bentuk kesalahan-kesalahan berfikir.
Sekedar tambahan, setan juga bisa berbentuk kesalahan berfikir yang mengakibatkan penyakit hati seperti; iri hati, sombong, kikir, dan banyak lagi. Dan untuk membahasnya itu di luar tema lembaran ini dan kemampuan kami.
[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]