PANCA INDRA DAN KAUM EMPIRIS

Jebakan dan intimidasi dunia material menyebabkan manusia sulit melepaskan diri dari ikatan dan penjara-penjara indrawinya. Keadaan seperti ini menyebabkan tak kunjung tibanya pengetahuan tentang realitas kebenaran alam gaib. Banyak orang terhempas dalam lautan keraguan pada kebenaran sampai akhir hayatnya, hanya karena sebenarnya mereka belum mempunyai keyakinan yang kokoh beserta argumentasi tentang adanya realitas kebenaran alam gaib. Penolakan akan adanya realitas kebenaran alam gaib akan menghancurkan seluruh bangunan pengetahuan manusia dan seluruh peradaban umat manusia, bahkan kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran sebagaimana kebenaran adalah gaib.
Salah satu faktor yang paling merusak dan menyesatkan pikiran mengenai kebenaran adalah ketika membatasi pikiran manusia hanya sebatas sains yang empiris. Sehingga hanya mencurahkan energi dan mental pada ilmu-ilmu yang indrawi saja. Kita menjadi asing dengan hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi indrawi. Dan akibatnya timbullah kepercayaan yang luar biasa terhadap kebenaran penilaian bersifat jasadiah yang hanya dapat diindrai saja. Bahkan ini bisa makin kronis sehingga mencapai satu titik dimana “eksprimenlah” yang berlandaskan paradigma indrawi sebagai satu-satunya alat dan sarana yang berfungsi sebagai tolok ukur kebenaran. George Pulitzer, salah seorang tokoh empirisme dalam bukunya The Elementary Principles of Philosophy, berkata; “Membayangkan sesuatu yang tidak menempati ruang dan waktu, kebal terhadap perubahan dan perkembangan adalah mustahil“. Dalam keadaan seperti ini, kita akan menolak sekaligus menyalahkan apapun yang tidak dapat diinderai. Cara berfikir seperti ini akan mematikan intelektual kita semua.
Seringkali kita melupakan kelemahan “panca indra”. Terbuai dengan kekuatannya, hal ini dapat saksikan pada orang-orang yang memuja sains hari ini. Mereka begitu bangga dengan pengetahuannya sebagai hasil dari kemajuan yang telah dicapai dalam metode eksprimental. Sehingga mereka menghayalkan dirinya telah menaklukkan dengan jaya dan menguasai dunia kebenaran. Padahal sesungguhnya tak seorang pun dari mereka (kaum empiris) yang mampu berkata bahwa ia telah mengetahui misteri alam ini dan menghilangkan kabut yang menutupi dunia. Siapapun dia, entah Stephen Hawking dengan Riwayat Sangkakalanya, Einstein dan Scrondinger dengan Mekanika Quantumnya, Darwin dengan The Origin of Speciesnya, Luis Pasteur dengan Biogenesisnya, Edington dengan The Espanding Universnya, Isaac Newton dengan Principianya, David Hume, George Berkley, John Locke dan sebagainya.
Sejauh mana kebenaran yang telah diproklamirkan oleh mereka (kaum empiris) dapat dibuktikan ?.
Pertama, kaum empiris berkata, “eksprimenlah sebagai tolok ukur kebenaran”. Apabila pernyataan ini benar, maka timbul pertanyaan, apakah kebenaran dari makna pernyataan kaum empiris tentang eksprimen sebagai tolok ukur kebenaran, itu sendiri dapat dieksprimenkan ?. Hanya ada dua kemungkinan jawaban yakni; kemungkinan pertama, “dapat dieksprimenkan”. jawaban ini terbukti salah karena bagaimana mungkin kebenaran dari makna pernyataan dapat dieksprimenkan. Bukankah makna dari pernyataan suatu yang non material. Kemungkinan kedua; “tidak dapat dieksprimenkan”. Jawaban kedualah yang benar. Dan ini berarti sekaligus mengugurkan kebenaran doktrin kaum empiris tersebut. Karena jika mereka meyakini kebenaran doktrin, bahwa eksprimenlah tolok ukur kebenaran, di sisi lain kebenaran doktrin itu sendiri tidak dapat diuji dengan eksprimen. Sehingga mereka pun harus menerima bahwa doktrinnya pun bukanlah suatu kebenaran. Jelas terjadi kontradiksi antara keyakinan benarnya pernyataan tersebut dengan implikasi langsung pernyataan tersebut terhadap dirinya sendiri. Jadi jelaslah pernyataan kaum empiris di atas adalah sebuah kekeliruan besar.
Kedua, ketika kaum empiris melakukan penolakan realitas alam gaib, pada dasarnya mereka tidak pernah melakukan eksprimen untuk menetapkan ada tidaknya realitas alam gaib ( sesuatu di luar persepsi indrawi). Sebab sesuatu yang dapat di tolak melalui eksperimen, dapat pula dibuktikan dengan eksperimen. Jika untuk membuktikan realitas alam gaib tak bisa dilakukan melalui eksperimen. Artinya untuk menolak dan menerima adanya realitas alam gaib tak layak dilakukan. Bukankah itu semua itu di luar jangkauan mereka! Sehingga bukanlah sesuatu yang berlebihan jika dikatakan metode eksperimen dengan kecanggihan perkembangannya, tidak akan menemukan dunia yang gaib ( baca pula : realitas alam gaib). Mereka tidak dapat mengerti semua kenyataan yang tersembunyi di balik alam materi ini. Sehingga mereka semuanya buntu, bertanya dan terus bertanya !.
Ketiga, pada kenyataannya, kaum empiris sebelum melakukan eksperimen mereka telah menerima terlebih dahulu hukum-hukum berpikir yang tidak empiris atau gaib (prinsip-prinsip metafisika). Sewaktu Isaac Newton melihat apel jatuh, tentunya dia berpikir pastilah ada yang menyebabkan jatuhnya apel tersebut. Cara berpikir seperti ini adalah penggunaan hukum kausalitas (sebab akibat). Prinsip kausalitas adalah salah satu prinsip metafisika. Hukum kausalitas berbunyi: “Setiap yang ada pastilah ada yang mengadakan, kecuali keberadaan“. Contoh tadi misalnya, jatuhnya apel ada, pastilah ada yang membuat apel itu jatuh. Dan inilah yang meniscayakan adanya hukum gravitasi umum. Dan demikian pula halnya ketika Gregor Mendel melihat keteraturan hereditas. Pastilah ia berpikir ada sesuatu yang mengadakan keteraturan sifat-sifat hereditas tersebut. Keyakinan inilah yang menumbuhkan teori genetika, semuanya diawali dengan prinsip metafisika
Keempat, sebenarnya kitapun semua telah menyadari tentang ketidak-akuratan persepsi indrawi. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya; ketika kita melihat bulan maka berdasarkan indra penglihatan kita, kita akan mengatakan bahwa bulan memiliki cahaya. Dan ternyata penglihatan kita salah, karena akal mengatakan cahaya bulan itu adalah pantulan dari cahaya matahari. Sesungguhnya bulan itu sendiri tidaklah memiliki cahaya. Atau sebatang kayu yang dicelupkan dalam air, jika kita menggunakan indra penglihatan maka kita akan mengatakan kayu itu bengkok, pada hal berdasarkan akal kayu itu tetap lurus, cuma pembiasan cahaya dalam air saja yang mengakibatkan kayu terlihat bengkok. Belum lagi fenomena fatamorgana atau teori Geosentrisnya Demokritus yang saat ini telah terbukti salah.
Kelima, panca indra hanya mampu menangkap hal-hal yang bersifat aksidental saja dari sebuah realitas berupa keterangan pada kita mengenai aspek-aspek lahiriah dari suatu fenomena. Sehingga hanya benda dan fenomena material yang termasuk jangkauan studi indra. Hal-hal yang bersifat substansial dari suatu benda di luar jangkauan indra. Artinya, substansi dari kayu, manusia, hewan, tumbuhan, tembok, buku, kertas dan semua realitas di luar jangkauan indra. Panca indra hanya mampu menangkap warna dan bentuk dengan indra penglihatan, kasar dan halus dengan indra perabaan, bau dengan indra penciuman, manis, asin, hambar indra pengecapan serta bunyi dengan indra pendengaran. Selebihnya di luar jangkauan wilayah indra. Jadi kayu sebagai kayu, manusia sebagai manusia, dan realitas sebagai realitas tak mampu diidentifikasi. Termasuk kebenaran sebagaimana kebenaran.
Dari kelima argumentasi di atas, bukankah berarti bahwa panca indra terbatas dan tak sempurna sehingga tidak layak dijadikan satu-satunya tolok ukur kebenaran. Karena hal yang tidak sempurna hanya menghasilkan ketidak-sempurnaan pula, sementara kita menginginkan kesempurnaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]