Logika Vs Cinta ...[2]

Catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Thursday, 07 July 2011 at 07:33


Saya akan membuka tulisan ini dengan beberapa bait doa Imam Ali (a.s) yang terdapat pada Doa Kumayl (menurut Sayyid Ibn Thawwus dalam kitab Iqbal) menunjukkan begitu dalamnya kecintaan beliau kepada Allah SWT;

Tuhanku, junjunganku, pelindungku, pemeliharaku
Sekiranya aku mampu bersabar menanggung azab-Mu
Bagaimana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu
Sekiranya aku mampu bersabar menahan api neraka-Mu
Bagaimana mungkin aku mampu bersabar tidak memandang wajah-Mu
Bagaimana mungkin aku tinggal di neraka
Padahal harapanku adalah ampunan-Mu

Tuhanku, limpahkanlah kepadaku anugerah-Mu
Sayangi aku dengan karunia-Mu
Jagalah aku dengan seluruh kasih sayang-Mu
Jadikan lidahku selalu bergetar menyebut asma-Mu
Dan hatiku dipenuhi dengan kecintaan kepada-Mu

Dari tulisan saya terdahulu, tersisa dua pertanyaan; yaitu (1) bagaimanakah logika di gunakan sehingga akal bisa bekerja dengan baik? Kemudian (2) Bisakah logika di benturkan dengan cinta?

Dalam kesempatan ini saya berusaha untuk mencoba menguraikan dalam segenap keterbatasan saya (dimana kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata).

Mengulang dalam pembahasan sebelumnya bahwa logika berfungsi untuk mengatur cara kerja akal (berpikir) secara tepat berdasarkan sebagaimana mestinya akal tersebut bekerja. Jika terjadi kemandekan (stagnasi) cara kerja akal (berpikir), maka logikalah yang datang mengembalikan cara kerja akal (berpikir) kepada koridor yang tepat (baca: aturan berpikir benar). Ayatullah Allamah M.H.Thabathaba’i dalam Tafsir Al-Mizan, ketika menafsirkan Surah Al-Baqarah ayat 130, menyimpulkan bahwa akallah sesuatu yang dengannya Allah disembah. Dengan kata lain akallah lentera menuju kebenaran.

Ibarat bahtera Nuh, logika bertugas untuk mengantarkan akal menuju kearah keselamatan sehingga tanpa menggunakan logika maka akal tak akan bekerja sebagaimana mestinya sehingga reduplah cahaya lentera kemuliaan yang bersinar. Dibutuhkan sebuah bahtera yang kuat, tangguh, dan akurat untuk mengantar akal menuju kinerja yang baik, dalam hal ini kebenaran fungsi kerja logika menjadi syarat mutlak untuk akal bisa bekerja dengan baik. Ciri sederhananya telah disebutkan oleh Imam Jafar Ash-Shadiq (a.s) bahwa:

“perbedaan orang berakal dan orang dungu adalah, orang berakal mengucapkan suatu ucapan dengan pertimbangan dan melakukan suatu perbuatan juga dengan pertimbangan. Atau ia berpikir dahulu, lalu berkata dan berbuat. Tetapi orang dungu, ia berbicara atau bertindak tanpa pertimbangan dan tanpa perhitungan lalu menyesali perbuatannya” . (Mengendalikan Naluri, hal-71, Husain Mazhahiri, 2001).

Pertanyaan berikutnya; bisakah logika di benturkan dengan cinta (Logika Vs Cinta)?

Bagai menjelajahi kegelapan gua, logika hanyalah cahaya lilin yang menuntun manusia menuju keluar dari kegelapan. Mata memiliki fungsi yang sangat berguna untuk menyelamatkan semua organ tubuh agar terhindar dari benturan batu dalam kegelapan, namun mata tak bisa bekerja tanpa cahaya. Untuk itulah lilin logika dinyalakan. Dan ketika berhasil keluar dari gelapnya gua, menemukan teriknya cahaya matahari, cahaya lilin seolah hilang menyatu dengan teriknya cahaya matahari. Syaikh Syihabuddin Suhrawardi Al-Maqtul (q.s) berkata:

Ketahuilah bahwa yang pertama diciptakan Allah adalah mutiara cemerlang yang dinamai-Nya Akal (‘aql). Mutiara ini diberikannya tiga sifat. Yaitu kemampuan untuk mengenal Allah, kemampuan untuk mengenal dirinya, dan kemampuan untuk mengetahui apa yang belum ada dan kemudian ada. Dan dari kemampuan mengenal Allah muncullah keindahan. Dari kemampuan mengenal dirinya muncullah cinta.

Logika menjadi bahtera akal untuk mengantarkan ‘diri’ dalam mengenal dan menemukan ke-‘benar’-an akan cinta. Mengantarkan ‘diri’ untuk menilai apakah sebuah rasa yang hadir adalah “cinta” atau hanya sebuah “fatamorgana” dari nafsu, simpati, empati, kesepian, suka, kekaguman, dll. Dari dalam gelap gulitanya ruang, cahaya bening yang jauh sulit dibedakan antara diujung koridor ini apakah sebuah cahaya mentari ataukah lampu neon, maka biarkanlah logika menuntun akal untuk menilainya.

Sekali lagi, segala kesempurnaan hanya milik Allah SWT, sehingga akan saya kembalikan ke logika pembaca tulisan ini untuk menilai dalam segala kerendahan hati dihadapan sang maha benar yang telah ber-firman “...wamaa utiitum minal ilmi illa qallila”.

Semoga Allah merahmati kita semua, menuntun kearah kebaikan dan menjaga kita dari kesesatan… *semoga (والله أعلمُ بالـصـواب). [JRP. July 07, 2011]

Logika Vs Cinta ...[1]

Catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Wednesday, 06 July 2011 at 08:59

Logika merupakan disiplin ilmu yang mengkaji prinsip-prinsip dan hukum-hukum akal atau yang mengatur cara kerja akal (berpikir) secara tepat berdasarkan sebagaimana mestinya akal tersebut bekerja. Jika terjadi kemandekan (stagnasi) cara kerja akal (berpikir), maka logikalah yang datang mengembalikan cara kerja akal (berpikir) kepada koridor yang tepat (baca: aturan berpikir benar). Akal sebagaimana kodrat-kodrat lain dalam diri manusia tersusun secara harmonis. Harmonis artinya memiliki prinsip-prinsip dan hukum-hukum tersendiri.

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa (Wikipedia). Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), logika diartikan sebagai pengetahuan tentang kaidah berpikir, juga diartikan sebagai jalan pikiran yang masuk akal.

Karena merupakan sebab dari akal; dalam tulisan saya ini, saya mencoba untuk lebih mendalami akal sebagai sebab dari logika itu sendiri. ya, walaupun dengan kesadaran bahwa akal juga sesautu yang sulit terdefenisikan, sehingga membicarakan akal sering berdasarkan pengaruhnya saja. Bahkan dalam Al-Qur’an akal di sebutkan hanya dari segi efek yang ditimbulkan saja. Diantaranya;

  • QS. Al-Mulk: 67, orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai penghuni neraka.
  • QS. Yunus : 42, menempatkan akal sebagai sarana mendengar dan yang tidak berakal sebagai tuli.
  • QS. Yunus :10, akal diposisikan sebagai syarat keberimanan seseorang dan yang tidak menggunakannya sebagai orang yang dimurkai Allah.
  • QS. Ar Rum : 24, meletakkan fenomena alam tanda bagi orang yang berakal.
  • QS. Az-zumar :18, Allah menyatakan orang yang mendapat petunjuk adalah orang-orang yang berakal.
  • QS. Al-An’aam : 166, Membuktikan bahwa orang yang tidak berakal akan hanya mengikuti hawa nafsu dan persangkaan saja.
  • QS. Al-Anfaal : 22, orang yang tidak berakal dipandangan Allah sebagai binatang buas yang sangat buruk.

Dari beberapa penjelasan yang ada, cukuplah kiranya saya mempunyai gambaran yang jelas tentang pentingnya akal dalam hidup ini, sehingga mengetahui bahwa akallah sebagai penentu kebermanusiaan kita. Sebagaimana Hadist qudsi yang menyebut akal sebagai ciptaan pertama yang sekaligus mengindikasikan bahwa perjalanan manusia untuk menemukan yang dicarinya, semua bergantung seberapa besar penggunaan akal dalam kehidupan ini.

Begitu pentingnya akal sehingga keberadaan logika mutlak digunakan dalam kehidupan. Lantas, bagaimanakah logika di gunakan sehingga akal bisa bekerja dengan baik? Bisakah logika di benturkan dengan cinta? dalam tulisan berikutnya insya Allah saya coba urai, tentunya dengan keterbatasan logika saya yang membuat akal saya juga terbatas... yang kemudian saya kembalikan ke logika pembaca tulisan ini untuk menilai. (wallahu a'lam bisshowab).

bersambung Logika Vs Cinta ...[2] di kesempatan berikutnya *semoga.
[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]

Untuk Mendapatkan Data Hasil Rekaman hub. Samrumi