Tampilkan posting dengan label Catatan Facebok-ku. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Catatan Facebok-ku. Tampilkan semua posting

PINDAH ALAMAT

Saya telah berpindah alamat. Untuk segala ide, pemikiran, dan bentuk tulisan terbaru akan saya posting ke:

http://jalaluddin-rumi-p.blog.ugm.ac.id/

terima kasih,
Hormatku

Jalaluddin Rumi Prasad

Logika Vs Cinta ...[2]

Catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Thursday, 07 July 2011 at 07:33


Saya akan membuka tulisan ini dengan beberapa bait doa Imam Ali (a.s) yang terdapat pada Doa Kumayl (menurut Sayyid Ibn Thawwus dalam kitab Iqbal) menunjukkan begitu dalamnya kecintaan beliau kepada Allah SWT;

Tuhanku, junjunganku, pelindungku, pemeliharaku
Sekiranya aku mampu bersabar menanggung azab-Mu
Bagaimana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu
Sekiranya aku mampu bersabar menahan api neraka-Mu
Bagaimana mungkin aku mampu bersabar tidak memandang wajah-Mu
Bagaimana mungkin aku tinggal di neraka
Padahal harapanku adalah ampunan-Mu

Tuhanku, limpahkanlah kepadaku anugerah-Mu
Sayangi aku dengan karunia-Mu
Jagalah aku dengan seluruh kasih sayang-Mu
Jadikan lidahku selalu bergetar menyebut asma-Mu
Dan hatiku dipenuhi dengan kecintaan kepada-Mu

Dari tulisan saya terdahulu, tersisa dua pertanyaan; yaitu (1) bagaimanakah logika di gunakan sehingga akal bisa bekerja dengan baik? Kemudian (2) Bisakah logika di benturkan dengan cinta?

Dalam kesempatan ini saya berusaha untuk mencoba menguraikan dalam segenap keterbatasan saya (dimana kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata).

Mengulang dalam pembahasan sebelumnya bahwa logika berfungsi untuk mengatur cara kerja akal (berpikir) secara tepat berdasarkan sebagaimana mestinya akal tersebut bekerja. Jika terjadi kemandekan (stagnasi) cara kerja akal (berpikir), maka logikalah yang datang mengembalikan cara kerja akal (berpikir) kepada koridor yang tepat (baca: aturan berpikir benar). Ayatullah Allamah M.H.Thabathaba’i dalam Tafsir Al-Mizan, ketika menafsirkan Surah Al-Baqarah ayat 130, menyimpulkan bahwa akallah sesuatu yang dengannya Allah disembah. Dengan kata lain akallah lentera menuju kebenaran.

Ibarat bahtera Nuh, logika bertugas untuk mengantarkan akal menuju kearah keselamatan sehingga tanpa menggunakan logika maka akal tak akan bekerja sebagaimana mestinya sehingga reduplah cahaya lentera kemuliaan yang bersinar. Dibutuhkan sebuah bahtera yang kuat, tangguh, dan akurat untuk mengantar akal menuju kinerja yang baik, dalam hal ini kebenaran fungsi kerja logika menjadi syarat mutlak untuk akal bisa bekerja dengan baik. Ciri sederhananya telah disebutkan oleh Imam Jafar Ash-Shadiq (a.s) bahwa:

“perbedaan orang berakal dan orang dungu adalah, orang berakal mengucapkan suatu ucapan dengan pertimbangan dan melakukan suatu perbuatan juga dengan pertimbangan. Atau ia berpikir dahulu, lalu berkata dan berbuat. Tetapi orang dungu, ia berbicara atau bertindak tanpa pertimbangan dan tanpa perhitungan lalu menyesali perbuatannya” . (Mengendalikan Naluri, hal-71, Husain Mazhahiri, 2001).

Pertanyaan berikutnya; bisakah logika di benturkan dengan cinta (Logika Vs Cinta)?

Bagai menjelajahi kegelapan gua, logika hanyalah cahaya lilin yang menuntun manusia menuju keluar dari kegelapan. Mata memiliki fungsi yang sangat berguna untuk menyelamatkan semua organ tubuh agar terhindar dari benturan batu dalam kegelapan, namun mata tak bisa bekerja tanpa cahaya. Untuk itulah lilin logika dinyalakan. Dan ketika berhasil keluar dari gelapnya gua, menemukan teriknya cahaya matahari, cahaya lilin seolah hilang menyatu dengan teriknya cahaya matahari. Syaikh Syihabuddin Suhrawardi Al-Maqtul (q.s) berkata:

Ketahuilah bahwa yang pertama diciptakan Allah adalah mutiara cemerlang yang dinamai-Nya Akal (‘aql). Mutiara ini diberikannya tiga sifat. Yaitu kemampuan untuk mengenal Allah, kemampuan untuk mengenal dirinya, dan kemampuan untuk mengetahui apa yang belum ada dan kemudian ada. Dan dari kemampuan mengenal Allah muncullah keindahan. Dari kemampuan mengenal dirinya muncullah cinta.

Logika menjadi bahtera akal untuk mengantarkan ‘diri’ dalam mengenal dan menemukan ke-‘benar’-an akan cinta. Mengantarkan ‘diri’ untuk menilai apakah sebuah rasa yang hadir adalah “cinta” atau hanya sebuah “fatamorgana” dari nafsu, simpati, empati, kesepian, suka, kekaguman, dll. Dari dalam gelap gulitanya ruang, cahaya bening yang jauh sulit dibedakan antara diujung koridor ini apakah sebuah cahaya mentari ataukah lampu neon, maka biarkanlah logika menuntun akal untuk menilainya.

Sekali lagi, segala kesempurnaan hanya milik Allah SWT, sehingga akan saya kembalikan ke logika pembaca tulisan ini untuk menilai dalam segala kerendahan hati dihadapan sang maha benar yang telah ber-firman “...wamaa utiitum minal ilmi illa qallila”.

Semoga Allah merahmati kita semua, menuntun kearah kebaikan dan menjaga kita dari kesesatan… *semoga (والله أعلمُ بالـصـواب). [JRP. July 07, 2011]

Logika Vs Cinta ...[1]

Catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Wednesday, 06 July 2011 at 08:59

Logika merupakan disiplin ilmu yang mengkaji prinsip-prinsip dan hukum-hukum akal atau yang mengatur cara kerja akal (berpikir) secara tepat berdasarkan sebagaimana mestinya akal tersebut bekerja. Jika terjadi kemandekan (stagnasi) cara kerja akal (berpikir), maka logikalah yang datang mengembalikan cara kerja akal (berpikir) kepada koridor yang tepat (baca: aturan berpikir benar). Akal sebagaimana kodrat-kodrat lain dalam diri manusia tersusun secara harmonis. Harmonis artinya memiliki prinsip-prinsip dan hukum-hukum tersendiri.

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa (Wikipedia). Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), logika diartikan sebagai pengetahuan tentang kaidah berpikir, juga diartikan sebagai jalan pikiran yang masuk akal.

Karena merupakan sebab dari akal; dalam tulisan saya ini, saya mencoba untuk lebih mendalami akal sebagai sebab dari logika itu sendiri. ya, walaupun dengan kesadaran bahwa akal juga sesautu yang sulit terdefenisikan, sehingga membicarakan akal sering berdasarkan pengaruhnya saja. Bahkan dalam Al-Qur’an akal di sebutkan hanya dari segi efek yang ditimbulkan saja. Diantaranya;

  • QS. Al-Mulk: 67, orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai penghuni neraka.
  • QS. Yunus : 42, menempatkan akal sebagai sarana mendengar dan yang tidak berakal sebagai tuli.
  • QS. Yunus :10, akal diposisikan sebagai syarat keberimanan seseorang dan yang tidak menggunakannya sebagai orang yang dimurkai Allah.
  • QS. Ar Rum : 24, meletakkan fenomena alam tanda bagi orang yang berakal.
  • QS. Az-zumar :18, Allah menyatakan orang yang mendapat petunjuk adalah orang-orang yang berakal.
  • QS. Al-An’aam : 166, Membuktikan bahwa orang yang tidak berakal akan hanya mengikuti hawa nafsu dan persangkaan saja.
  • QS. Al-Anfaal : 22, orang yang tidak berakal dipandangan Allah sebagai binatang buas yang sangat buruk.

Dari beberapa penjelasan yang ada, cukuplah kiranya saya mempunyai gambaran yang jelas tentang pentingnya akal dalam hidup ini, sehingga mengetahui bahwa akallah sebagai penentu kebermanusiaan kita. Sebagaimana Hadist qudsi yang menyebut akal sebagai ciptaan pertama yang sekaligus mengindikasikan bahwa perjalanan manusia untuk menemukan yang dicarinya, semua bergantung seberapa besar penggunaan akal dalam kehidupan ini.

Begitu pentingnya akal sehingga keberadaan logika mutlak digunakan dalam kehidupan. Lantas, bagaimanakah logika di gunakan sehingga akal bisa bekerja dengan baik? Bisakah logika di benturkan dengan cinta? dalam tulisan berikutnya insya Allah saya coba urai, tentunya dengan keterbatasan logika saya yang membuat akal saya juga terbatas... yang kemudian saya kembalikan ke logika pembaca tulisan ini untuk menilai. (wallahu a'lam bisshowab).

bersambung Logika Vs Cinta ...[2] di kesempatan berikutnya *semoga.

Bulan Purnama, antara romantisme cinta dan kewaspadaan

Catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Saturday, 12 February 2011 at 21:18


Beberapa waktu yg lalu teman2x mendiskusikan di Jl. Pettarani tentang kebenaran ilmiah mengenai "ramalan" zodiak dalam astrologi yang terbit di halaman remaja salah satu koran terbesar di Makassar. Di catatan ini saya tidak bermaksud untuk menulis tentang hasil diskusi pada saat itu, saya hanya mencoba mengkaji secara sederhana pengaruh benda langit tersebut terhadap kehidupan manusia di atas bumi, mengambil sampel terdekat dulu dengan bumi yaitu BULAN. Teringat waktu SD dulu (thn 90-an), membaca sebuah artikel tentang pengaruh bulan di majalah 'mekatronika' terbitan 1981 (kalau tidak salah) trus saat SMP saya coba membacanya lagi, dan sekarang memanfaatkan kumpulan referensi dari internet coba saya rampungkan sedikit dalam catatan ini.


Bulan purnama penuh dengan cahayanya yang penuh memang memberikan kesan romantisme yang luar biasa, bahkan bagi mereka yang menggali sisi melankolisnya mampu melahirkan kata-kata puitis yang indah. Bagi petualang alam bebas, mengamati sinar purnama diatas puncak tertinggi atau lembah gunung akan menjadi kisah yang akan terus diceritakan. Selain itu kisa seram dari legenda manusia serigala hingga mitos manusia vampire dikaitkan dengan bulan purnama.

MENTAL PSIKOLOGIS
Menurut pskiater Arnold Lieber dalam bukunya Lunar Effect, adanya bulan purnama membuat emosi orang menjadi tidak stabil. Hal ini dikarenakan tubuh manusia yang 80 % merupakan cairan (lemak, darah, darah putih, getah bening, enzym dll) ikut tertarik gravitasi bulan. Lieber menemukan bahwa setiap terjadi bulan purnama jumlah kejahatan semakin bertambah daripada ketika bulan tidak sedang purnama (Dalam Akutahu edisi No: 60, Feb 1988).

Arnold Lieber, seorang psikolog dari University of Miami, melakukan penelitian tentang anggapan bulan purnama menambah kriminalitas dan Hasilnya gan Selama 15 tahun terjadi sekitar 1887 kasus pembunuhan di Miami. Angka tersebut meningkat saat mendekati bulan purnama dan berkurang di hari-hari lainnya!

sebuah laporan berjudul The Effect of the Full Moon on Human Behaviour dari American Institute of Medical Climatology yang mengulas efek bulan purnama. Laporan pun bilang kalau bulan purnama jadi saksi sejumlah kejadian kriminal seperti pembunuhan, pelanggaran lalu-lintas, pembakaran dan kleptomania. Bisa dibilang, orang-orang jadi lebih “gila” pada masa ini. Dari data Utah Bureau of Criminal Identification, tercatat kenaikan sebesar 220% pada kasus pembunuhan saat purnama. Operator telepon 911 (emergency number di Amerika) juga mengatakan bahwa setiap bulan purnama, panggilan 911 selalu mengalami peningkatan dan gigitan anjing meningkat.

Masih ada hubungannya dengan darah, ketika bulan purnama tiba, luka memang lebih banyak mengeluarkan cairan merah ini dimana hal ini dibuktikan oleh Dr. Edson J. Andrews dalam Journal of the Florida Medical Association. Ia menulis bahwa dari 1000 operasi amandel yang dilakukan mendekati bulan purnama, 82 persen-nya mengalami pendarahan pasca-operasi. Akhirnya, banyak dokter yang memilih untuk menunda operasi jika kebetulan bertepatan dengan siklus bulan purnama.

GEOLOGI
Bagi seorang berlatar belakang geografi sudah jelas saya yakini hubungan pasang surut air laut terhadap posisi bulan dalam kajian oseanografi. Namun bagaimana dengan wacana geologi utamanya vulkanologi?

Penelitian terhadap 52 letusan gunung berapi di Hawaii sejak Januari 1832 menunjukkan pola yang sama. "Hampir dua kali lebih banyak letusan terjadi di dekat waktu pasang maksimum (bulan purnama) daripada waktu pasang minimum."Para peneliti dari Hawaiian Volcano Observatory telah menandai bahwa pola periode letusan kawah Pu'u 'O'o di Hawaii sangat dekat dengan waktu pasang maksimum sampai akhirnya berhenti meletus hingga beberapa hari, yakni pada 1990.

Walaupun ini merupakan korelasi yang menarik, tapi pada penelitian terhadap 52 letusan gunung di Hawaii sejak 1832 itu, secara statistik memang sedikit peluang letusan gunung berapi yang dipicu oleh bulan purnama yakni cuma 1 persen. Dari total 3900 kali pasang maksimum bulan purnama, 3.850 di antara kejadian bulan purnama tidak berefek apa-apa.

Bagaimana di Indonesia? berikut ini adalah daftar letusan gunung berapi di Indonesia yang terkait dengan bulan purnama, diambil dari catatan blog Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin.

Letusan Gunung Tanggal Kejadian Bulan Baru/Purnama

Tambora (korban 92.000 orang) 10 – 12 April 1815 Bulan baru (10 April 1815)
Krakatau (korban 36.000 orang) 26-28 Agustus 1883 Bulan baru (1 September 1883)
Kelud (korban 10.000 orang) 19 Mei 1919 Purnama (15 Mei 1919)
Papandayan (korban 3000 orang) 12 Agustus 1772 Purnama, (13 Agustus 1772)

Selain fakta vulkanik sebenarnya ada beberapa fakta catatan tektonik juga yang membahasnya secara kebetulan atau kajian husus, tapi untuk malam ini saya rasa cukup dulu. nanti di lanjutkan dalam pembahasan husus.

SEJARAH DAN ISLAM
Bangsa Babilonia kuno menyebut pasien penyakit jiwa dengan nama lunatike (lunar = bulan dalam bahasa Latin). Sampai sekarang gan, bangsa Amerika juga masih memakai istilah ini (lunatic). Soalnya, percaya atau nggak, banyak dari penderita penyakit jiwa tersebut yang kambuh dan mengamuk saat bulan purnama tiba! Purnama dipercaya bisa membuat orang menjadi nggak tenang, tegang, risau dan mengkhayal.

Buku kuno dari Cina berjudul Shu Wen, Ba Zheng Shen Min Lun juga menegaskan bahwa kuat atau lemahnya tubuh manusia, darah dan energi memang mempunyai hubungan khusus dengan bulan purnama. Salah satu contohnya adalah komplikasi batuk darah akibat penyakit tuberculosis (TBC) yang kebanyakan terjadi 7 hari menjelang bulan purnama.

Orang-orang Arab yang menggunakan kalendar yang berdasarkan peredaran bulan (disebut kalender Arab – Qomariyah, Qomar artinya bulan, kalendar ini mempunyai 12 bulan seperti: Muharam, Shafar, Rajab, Syawal dsb) mempunyai kebiasaan melakukan puasa 3 hari berturut-turut setiap tanggal 13,14 dan 15 setiap bulannya pada bulan Qomariyah itu (saya tidak tahu pasti apakah kebiasaan puasa ini telah dipraktekan sejak masa Nabi Ibrahim-Ismail, yang hidup sekitar 1.000-2.000 SM ataukah hanya setelah masa Nabi Muhammad yang hidup sekitar tahun 600 M).

Sebagai informasi pada tanggal 13, 14, 15, 16 dan 17 terjadi bulan purnama penuh dengan puncak pada tanggal 15 atau 16 nya (cobalah anda keluar rumah pada tanggal tsb setiap bulan). Dengan puasa berarti mengurangi makan dan minum hingga sejumlah 50-75% dari saat normal, cairan tubuh pun berkurang drastis. Dengan berkurangnya cairan tubuh nampaknya orang-orang Arab berharap pengaruh (gravitasi) bulan dapat dikurangi sehingga lebih mudah mengontrol / mengendalikan diri.

Dari Abu Hurairah r.a (mirip nama anaknya dosenku di Geografi Dzaky Hurairah) berkata “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada saya untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dluha dan sholat witir sebelum saya tidur” [HR. Bukhori dan Muslim]. kemudian Dari Abu Dzarr r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda “Apabila kamu berpuasa tiga hari dalam suatu bulan maka berpuasalah pada tanggal 13, 14 dan 15″ [HR. At Turmudzy]. Jadi sebnarnya hal ini sebnarnya sudah diketahui dan disadari sejak 14 abad yg lalu oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Dianjurkannya berpuasa pada tanggal-tanggal tersebut karena pada saat itu Bumi, Bulan dan Matahari berada pada 1 GARIS LURUS, dan mana saat terjadi gaya tarik menarik (gravitasi) dan gaya sentifugal (keseimbangan) TERBESAR dibanding pada waktu yg lain, yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap BUMI DENGAN SEGALA ISINYA (Air laut saja bisa terpengaruh dengan terjadinya pasang tertinggi pada waktu ini, apalagi air (maksudx cairan: lemak, darah, darah putih, getah bening, enzym dll) pada tubuh Manusia itu juga akan meningkat, peningkatan cairan inilah tentunya akan brdampak pada mental dan perilaku manusia. Melalui puasa tersebut akan dapat mengurangi peningkatan/kinerja cairan tadi sehingga manusia dapat mengontrol diri.

POSISI BULAN
Sesungguhnya istilah BULAN PURNAMA hanyalah efek dari POSISI dari benda2 langit Bulan-Bumi-Matahari. Jadi ketika kita berbicara pengaruh benda2 langit terhadap bumi dan segala isinya termasuk utamanya manusia, maka yang selalu menjadi acuan/dasar adalah POSISI dari benda2 langit tersebut.

Pada waktu tertentu posisi bulan terhadap bumi berada pada jarak terdekat diantara keduanya (istilah astronomi-nya perigee), sedangkan jika bulan dan bumi berada pada saat jarak terjauh disebut dengan apogee. Jika cuaca cerah (clear sky) maka kita akan melihat bulan dengan ukuran lebih besar dari biasanya. Sebagai ilustrasi perigee dan apogee bisa dilihat dari gambar dibawah ini.

Di bulan februari ini, posisi Purnama akan terjadi pada 18 Februari 2011 GMT 08:37 / WITA 16:37. Sekedar saran jadikan momen untuk memberikan hal terbaik pada mereka yang disayangi ^_^ sebuah romantisme cinta, kasih sayang dan do'a namun tetap waspadai potensi bencana di daerah rawan dan tindakan kriminalitas di sekitar kita.

PENUTUP
Bagaimanapun bulan tidak hanya memberi dampak kepada alam dan ekosistem di bumi, dengan pemahaman yang cukup tentang gejala alam dan posisinya di univers inilah bagi sebagian orang memanfaatkannya untuk menjadikan pertimbangan dalam memenangkan negosiasi, melakukan ritual kepercayaan sampai mengungkapkan perasaan cintanya. Semoga di lain waktu tulisan singkat ini dapat saya lanjutkan dengan lebih baik...

[dari berbagai sumber]

Catatanku yang tersisa dari Blok M... tentang JAKARTA

catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Friday, 20 May 2011 at 05:31


Blok M, jakarta 27 okt 2010


Jakarta sesungguhnya sebuah kota yang ingin dituju oleh hampir semua orang di Indonesia, apa lagi jika ada peluang bisnis atau harapan masa depan yang menjanjikan. Banyak hal yang mendasari, diantaranya karena jakarta sebagai ibu kota negara yang otomatis menjadi pusat pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Investasi terus bertumbuh seperti jamur di musim hujan, layaknya keseuaian lahan yang luar biasa gedung dan infrastruktur terus tumbuh seperti tanpa hambatan.

Kemacetan dan kebingungan
Pesatnya pertumbuhan infrastruktur menjadi magnet yang mengantarkan arus urbanisasi luar biasa. Kendaraan juga bertambah sebagai konsekuensi logis mobilitas yang tinggi bagi masyarakatnya. Selain pertambahan kendaraan pribadi, pertambahan sarana transportasi umumpun juga tak dapat di hentikan.

Hampir semua jenis transportasi darat umum di wilayah ibukota negara ini ada; kereta api, angkot, metro mini, mini bus, bus, bajay, ojek, bus way, taxi, dll. Hanya kendaraan umum yang tidak bermesin saja yang tidak akan kita temui seperti becak, delman dan kereta kuda lainnya.

Transportasi umum tersebut tentu lahir dari peran investasi yang menuntut keuntungan namun berhadapan dengan tantangan persaingan sesama rekan penyedia jasa angkutan lainnya. Persaingan memang memberikan dampak positif bagi konsumen, yaitu murahnya harga angkutan umum namun bukan berarti terlepas dari dampak negatif. Rendahnya biaya beban yang di berikan kepada penumpang dan tingginya nilai setoran yang harus di berikan kepada pemilik usaha jasa tersebut memaksa para supir dan kondektur untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya.

Tuntutan mendapatkan penumpang inilah yang kemudian memunculkan ketidak nyamanan bagi calon penumpang yang belum menguasai jalur dan arah transportasi umum di kota Jakarta. Terkadang penumpang diarahkan untuk asal naik saja sehingga harus menyambung angkutan lain untuk sampai ketujuan walaupun ada angkutan lain yang memang mengarah ke tempat yang ingin di tuju. Namun demi ingin mendapatkan penumpang, sang konduktor menyembunyikannya dari penumpang tersebut.

Taksi dan bajay juga memiliki trik yang berbeda. Hanya dengan menebak logat (dialek) sang supir sudah mengetahui bahwa penumpangnya tersebut tidak berasal dari Jakarta atau seseorang yang memang baru berkunjung ke jakarta. Hal ini menjadi kesempatan bagi sopir taksi dan bajay dengan cara mengarah ke berbagai jalan yang menambah jarak tempuh dan melalui jalur macet atau bahkan pura-pura pusing dan bingung mengenai lokasi yang akan dituju di tengah perjalanan.

Walaupun sebelum naik tetap ada komunikasi antara penumpang dan supir, namun ditengah perjalanan biasanya supir akan menanyakan kembali ke penumpang bahkan untuk dapat lebih natural sang supir akan singgah bertanya ke orang di pinggir jalan. Supir bajay jauh lebih “sakti” lagi untuk urusan ini, mereka malah singgah di pangkalan ojek-nya dan bertanya ke rekanannya yang lagi parkir dan dengan cekatan rekan-rekan supir bajay tersebut langsung tanggap dan berdiskusilah mereka tentang jalur (yang sesungguhnya telah mereka kuasai) hingga suaranya di dengarkan oleh penumpang yang hanya bisa menganga di bajay.

Trik ini tidak lain untuk dapat meningkatkan terus argo pembayaran karena lamanya waktu diatas taksi ataukah bagi supir bajay menjadi kesempatan meminta pertambahan biaya dari yang telah disepakati sebelumnya dengan alasan jauh. Jika kejadian ini terus berlanjut, sungguh tidak bermoral dan profesional.

Banjir
Memang benar jika jakarta sejak masih bernama batavia dulu sudah menjadi langganan banjir, namun sangat aneh jika di era kecanggihan sains dan teknologi saat ini kota sekelas Jakarta masih juga harus terendam banjir. Jangankan warga jakarta yang merasakan banjir tersebut, di daerah lainpun tetap dapat menonton kondisi jakarta yang direndam banjir melalui media televisi, namun belum ada upaya solutif yang bisa dihadirkan oleh pemda setempat dan pemerintah nasional untuk mampu membebaskan wilayah ini dari banjir.

Ayo kita bersama-sama menyalahkan kondisi morfologi dan topografi kota Jakarta yang memang tidak stabil rata, namun bukan berarti analisis arah dan drainase tidak bisa di jadikan solusi. Bukankah Belanda telah memberi contoh yang baik, bagaimana kotanya yang berada di cekungan yang ketinggiannya lebih rendah di bawah permukaan lautpun bisa terbebas dari genangan air sejak jaman dahulu.

Saat ini pemerintah masih salaing tuding dengan masyarakatnya tentang kondisi tersebut. Bagi pemerintah, masyarakatnyalah yang sering membuang sampah sembarangan sehingga menutup aliran air di saluran drainase dan disisi lain masyarakat menyalahkan balik pemerintah yang tidak memiliki kerja solutif untuk antisipasi banjir itu sebagai tanggungjawabnya untuk memberikan rasa nyaman bagi masyarakat.

Ribuan Mall
Teman saya yang sudah lama berdomisili di kota Jakarta mengatakan kepada saya saat ngopi di Kopi Luwak Plaza Blok M, “Rumi, kalau di kota kita Makassar di juluki kota ribuan Mall, maka Jakarta ini dapat kita juluki kota ribuan Mall dan plaza".

Memang benar, hampir di setiap kecamatan bahkan kelurahan di DKI jakarta ini memiliki mall, plaza ataupun square.

Entah ini sebuah kesengajaan dalam penataan ruang kotanya ataukah karena tuntutan para pengusaha yang ingin menanamkan investasinya di bidang jasa perdagangan modern dengan memanfaatkan kepadatan penduduk yang ada di setiap kecamatan sampai kelurahan di kota Jakarta ini. Bagaimanapun ini hanya kesimpulan sementara dalam perjalanan kali ini yang membuatku rindu dengan kedamaian dan kejujuran di kota makassar.

Makassar boleh di katakan rusuh di televisi atau media, tapi Jakarta adalah sebuah kota yang memperlihatkan kekejaman yang terselubung di balik gedung-gedung megahnya yang akan saya coba bahas dalam kesempatan lain jika 'mood' nulisku lagi datang.



terbanglah Elang-elang laut, saya lagi ngopi... (i wanna hear my heartbeat in the darkness)

catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Sunday, 19 June 2011 at 09:48


Beberapa hari yang lalu, belum lama ini...

Pertemuan itu tidak singkat, memberi sebuah solusi dan kritikan namun membangun untuk sebuah desain dari rencana "karya" yang sedang kami susun. Sebuah diskusi dengan salah seorang yang berstatus Doktor (Dr.) di Universitas Negeri Makassar dan berkedudukan sebagai salah satu pejabat di LPM-UNM. Diantara sekian banyak topik diskusi saat itu, dihidangi teh kemasan botol traktiran beliau, ada satu point penting yang terkenang dan merubah sedikit fokus konsentrasi berfikirku. "Hari ini saya dalam kondisi bad mood" ucapnya lirih, "tadi di jurusan tempat saya mengajar, saya mengikuti rapat tentang persoalan Guru Besar yang digugat melakukan plagiat dan bukti sangat kuat" sambil menatap kosong ke arah saya dan kedua temanku. ya_ saat beliau menjelaskan tentang Guru Besar bermental instan.


Ada makna dan pesan yang sangat kuat di balik keluhan yang beliau ungkapkan... seakan meminta kami untuk tetap berorientasi pada hasil tapi tetap berfokus pada proses. Proses terkadang berat, mengecewakan, tidak kita inginkan, sulit di terjemahkan, membuat kita lambat mencapai hasil, "namun itulah proses 'nak" tegasnya. seolah meminta kami untuk tidak mengikuti pendahulu (beliau menyebutnya 'teman') yang ter-gugat plagiat tersebut. Tidak ada manusia yang sempurna, itu pasti, tapi cobalah lalui semua proses itu... karena kausalitas itu ada.


Sesaat itu, dalam perbincangan kami tersebut saya terkenang dengan semua kesalahan, kebodohan, kesengajaan, yang kulalui saat kuliah dulu... bagaimana data yang kumanipulasi, bagaimana laporan praktikum laboratorium orang lain yang kucontek menjadi laporanku, dokumen yang kurekayasa, konspirasi birokrasi untuk mendapatkan nilai baik, dan semua perbuatan instan untuk merekayasa proses... semua tergambar kembali di ingatan saya tanpa harus kuungkap dalam dialog itu, agar saya terkesan "suci" dalam diskusi (arrrrghh, kutemukan diriku sebagai orang munafik).


Saat proses "konsultasi-ku" tersebut, sebuah kutipan paragraf yang bapak saya pernah tulis muncul tidak sengaja di lembar buku pocket-ku, seolah ikut memberi guncangan batin baru;


"Pemuda adalah bagian terpenting dari masyarakat bangsa; karena pemuda adalah harapan bangsa. Mahasiswa adalah bagian terpenting dari golongan pemuda. Mahasiswa adalah gelar bagi segolongan masyarakat pemuda yang dalam perkembangan secara biologis berada pada kurun usia matang untuk siap melakukan “gerilya” mencari, menemukan dan menguasai ilmu pengetahuan dan terampil berteknologi. Karena itu masyarakat menempatkan mahasiswa sebagai tumpuan harapan. Masyarakat menanam investasi (korbanan modal) pada kehidupan mahasiswa".

Saya memang bukan mahasiswa s1 lagi, proses itu telah kulewati, tapi saya memiliki banyak teman dan saudara 'se-ideologi' yang sedang melalui proses itu. Betapa bodohnya saya yang telah mengantarkan mereka ke jurang neraka ilmu dan intelektual ketika mengajarkan dan mengarahkan mereka ke cara-cara praktis-pragmatis dan instant dengan merekayasa aturan kusertai sederet 'pembenaran' yang tidak wajar namun terkesan logis.


ya_ beliau benar, dengan mengungkapkan aib dari teman segenerasinya tersebut bermaksud untuk kami menjaga kualitas generasi kami saat ini. Banyak contoh di masa lalu bagaimana aturan itu di rekayasa, bagaimana ketetapan itu dirubah atas nama keluarga, atas nama teman dan sebagainya. Haruskah generasi sekarang menciplak proses itu? Saya 'dipaksa' sadar bahwa begitu besar pengorbanan masyarakat menempatkan mahasiswa yang bagian penting dari golongan pemuda sebagai tumpuan harapan. Sekarang, bagaimana pemuda ini menjawab harapan itu??? terbanglah Elang-elang laut, sementara itu biarkan saya sejenak menghabiskan kopiku yang sudah dingin ini, sudah cukup banyak dosa yang kulalui di masa lalu dan tidak mungkin lagi kurubah jadi abu seperti abu rokok yang ku tumpahkan di asbak besar ini.


she was... [そのときは彼によろしく]

catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Monday, 04 July 2011 at 06:27

makassar, 4th of July 2011

-----------------------------------------

for now, everything is black shadow on darkness
but i believe the lucid line will come
take the color of the rainbow

when i standing on a beach
i can see afar the ship-lights faintly shine
and i know you were there

... she was there

Morn came and went
Were chilled into a selfish prayer for light;
when the clouds perished!

darkness had no need
oh my Lord, your aid from them
oh my God, don't give me the despairing light

... she was the Universe!
... she was the moon when eclipse
... she was a dolphin from the bottom of darkness
-----------------------------------------

[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]