Tampilkan posting dengan label ANBTI for PANCASILA. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label ANBTI for PANCASILA. Tampilkan semua posting

BELUM ADA JUDUL

__[Pendapatku tentang kontroversi pawai budaya ANBTI di Makassar]__

Salah satu paket kegiatan dari Konsolidasi Bhinneka Tunggal Ika Regional Sulawesi Maluku beberapa waktu silam adalah pawai budaya. Dalam keseluruhan kegiatan tersebut, saya berposisi sebagai notulensi sehingga “hampir-hampir” tidak ada satupun paket kegiatan yang terlepas dari pengamatan saya. Berdasarkan itulah saya merasa perlu angkat bicara walaupun dalam bentuk tulisan di blog peribadi mengenai kontroversi bahkan tuduhan-tuduhan yang diarahkan ke Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) dalam kaitannya dengan kegiatan konsolidasi yang berlangsung di Makassar.

Sebelumnya saya minta maaf kepada teman-teman dan senior-senior pendahulu ANBTI, saya tidak bermaksud “sok tahu” tapi saya hanya mau menjawab keresahan pribadi berdasarkan batasan pengetahuan saya yang berangkat dari pengamatan saya terhadap kegiatan konsolidasi regional Sulawesi Maluku. Ini hanyalah sebuah pandangan saya terhadap ANBTI terhadap tuduhan yang dilontarkan oleh mereka-mereka yang … (maaf) saya juga bingung siapa mereka sebenarnya… sebuah forum yang lahir secara aksidentil kemudian hilang bagai ditelan bumi.

Tuduhan sebagai “Kendaraan Politik” capres tertentu

Hal ini sangatlah naïf, berdasarkan hasil pengamatan saya ANBTI adalah sebuah aliansi atau forum yang anggotanya terdiri dari organisasi-organisasi swadaya masyarakat ataupun NGO yang tersebar di seluruh Indonesia dan di deklarasikan di Surabaya. Sebuah aliansi bukanlah sebuah Partai Politik, dan bukan organisasi turunan dari partai politik. Kendaraan Politik untuk Negara kita yang dikenal adalah Partai Politik (Parpol) dan untuk mendukung kinerja-kinerjanya serta visi misinya partai politik melahirkan organisasi turunan, misalnya Partai Golkar memiliki organisasi AMPG dan Kosgoro, di PDI-P ada Banteng Muda Indonesia, begitupun di partai-partai lainnya. Dalam hal ini saya tidak menemukan dalam organ yang bergabung di ANBTI memiliki hubungan langsung dengan sebuah partai politik, bahkan beberapa organ yang saya kenal betul selalu menjadi antithesis dalam setiap kebijakan politik yang dikeluarkan oleh parpol tergabung dalam organisasi ANBTI.

Mengenai adanya tuduhan mengenai beberapa individu dari Steering Committee atau Organizing Committee yang memiliki pandangan politik dan akhirnya dengan kesadaran politik tersebut terlibat dalam aktivitas politik praktis, menurut saya adalah hal yang wajar dan sangat manusiawi. Pandangan politik yang melahirkan sikap politik dalam kegiatan politik praktis bagi seorang Individu menurut saya merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) yang harus mendapat tempat dalam bingkai toleransi. Bukankah kita semua sering “ngaku-ngaku” sebagai pejuang HAM??!! Di negara kita sendiri memberikan kebebasan berkumpul, berserikat dan mengeluarkan pendapat pada masyarakatnya.
Mengenai mereka masih ada di tubuh ANBTI, itu (menurut saya) adalah hak dasar mereka dan hak prerogative AD/ART ataupun statuta dari organisasi selama tidak memberikan opini pubik bahwa keberadaan ‘dia’ di tubuh ANBTI “sama dengan” ANBTI mengikuti pandangan dan sikap politiknya. Tidak logis tuduhan keberadaan individu yang terlibat di politik praktis menjadikan ANBTI adalah kendaraan politik (menurut akal sehat saya). Dimana ANBTI tidak didirikan/deklarasikan oleh individu-individu tapi melainkan organisasi-organisasi.

Dalam Kegiatan Konsolidasi Bhinneka Tunggal Ika Regional Sulawesi dan Maluku yang dilaksanakan di Makassar, menurut saya “SEHARUSNYA”-LAH kita mampu menunjukkan jati diri kita sebagai tuan rumah yang santun dan (maaf) berakal sehat. Istilah berakal sehat ini saya berangkat dari buku “Rekayasa Sosial” karangan Jalaluddin Rahmat. Penuhi variabel-variabel dalam tulisan tersebut sehingga kita bisa sehat dalam berakal dan merdeka dalam berfikir. Fu**ing Intervention!!!.

Tuduhan untuk menyusun agenda politik capres

Saya sangat sepakat dan sangat mendukung 150% kalau keresahan masyarakat adat yang terungkap dalam kegiatan Konsolidasi Bhinneka Tunggal Ika dijadikan sebagai agenda politik capres. Bahkan menurut saya, seluruh capres-capres yang ada harus, wajib, mutlak, dan komit untuk memperhatikan keresahan mereka dan berjuang mengeluarkan mereka dari persoalan yang mereka hadapi di kampung-kampung dan desa-desa mereka.
Coba simak ungkapan yang terungkap dari salah seorang tokoh dari Maluku Utara:
“…Menanggapi soal kenakalan remaja yang berdampak pada etnis dan agama, bukan hanya terjadi di Maluku utara. Untuk konteks di Maluku utara, kenakalan remaja yang terjadi di tingkat sekolah atau perguruan tinggi berdampak pada etnis…”

Terungkap bahwa kenakalan remaja telah menjalar pada isu etnis, dan hal ini juga yang sering kita rasakan di kampus-kampus kita di Makassar. Kenakalan remaja harus diselesaikan!!! Oleh siapa pun juga, apa lagi presiden. Apa yang salah kalau persoalan yang tersingkap ke permukaan di jadikan sebagai agenda oleh mereka yang ge-er atau merasa mampu untuk menjadi presiden ??? saya khawatir dan resah kalau para aktivis progresif ataupun yang merasa aktivis tampil sombong dan angkuh sehingga merasa “hanya dia-lah” yang mampu membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Pertanyaan lain: Masyarakat SIAPA?

Saya lebih sepakat dengan asumsi “The Right Gun in the Right Hand”… berdasarkan kompetensi kita masing-masing berjuang dan bekerja berdasarkan kapasitas kita untuk mencapai kesejahteraan manusiawi yang hakiki. Saya masih yakin bahwa kita semua masih memiliki Fikiran yang Merdeka dan tidak mungkin di-“beli” murah untuk digadaikan ke arah kepentingan penguasa.

Tuduhan memanfaatkan ke-polos-an masyarakat

Ini yang lebih aneh lagi menurut saya. Beberapa aktivis masih menganggap bahwa masyarakat dampingannya adalah masyarakat yang “polos”. Bagi saya masyarakat kita adalah masyarakat yang cerdas dan memiliki environmental skill. Mereka hanya tidak mampu keluar dari cengkraman hegemoni dan dominasi Negara yang birokratis menciptakan kebijakan-kebijakan tidak berpihak kepada masyarakat tapi kepada pemilik modal.
Seharusnya (menurut saya) tugas kita adalah mencerahkan dan memerdekakan mereka dalam kerja-kerja pemberdayaan sehingga mampu melahirkan sebuah perlawanan dalam bentuk social movement dari penjajahan dominasi dan hegemoni penguasa.

Memandang bahwa mereka polos adalah sebuah “ketidak adilan” sehingga melahirkan stigma buruk dalam diri masyarakat sendiri. Biarkanlah masyarakat merdeka dalam menafsirkan aktifitas ANBTI, mereka adalah figure yang bijaksana dan memiliki basic knowledge untuk menilai sebuah kegiatan yang berorientasi pada mereka. Bukan Kita… Bukan Aktivis Prodem (insya Allah). Fungsi kita hanyalah menunjukkan rule atau koridor kebenaran, dan mereka sendirilah yang akan berjalan di atas koridor kebenaran tersebut. Kita tidak punya hak untuk membuat sebuah pengklaiman, karena hal itu hanyalah menciptakan ketersinggungan dalam diri masyarakat. “KECUALI” kita merasa bahwa masyarakat dampingan kita dirampas (hahahaha lucu… menurut saya), sehingga setiap aktifitas mereka harus tabe’ dan pamit ke organ yang mendampingi dulu maka apa bedanya kita dengan penguasa yang otoriter mengatur dan menentukan sikap mereka.

ANBTI adalah sebuah kendaraan perjuangan untuk menciptakan pengakuan dan penghargaan terhadap kebhinnekaan. Kemudian, apakah ANBTI masih komitmen pada jalur perjuangannya? Biarkan masyarakat yang menilai. Secara statistikpun kita sudah tertolak untuk menjadi wakil masyarakat dalam menilai ANBTI masih komitmen atau tidak, maka biarkanlah masyarakat sendiri yang menilai. Jika kita memang orang yang lurus, dan masih dalam kategori tercerahkan dan menilai ada yang salah di tubuh ANBTI, maka (saran saya) bergabunglah dalam ANBTI dan singkirkan semua yang salah di tubuh ANBTI dengan cara-cara yang santun dan bijaksana.
Saya yakin dan terus berharap bahwa akan ada masa dimana ANBTI tidak diperlukan lagi oleh masyarakat dan ANBTI akan bubar dengan sendirinya. Masa itu adalah masa dimana Keberagaman telah bangkit dan mendapat tempat yang proporsional serta berhasil menyingkirkan hantu-hantu keseragaman.

Apakah dalam kontroversi yang terjadi, saya ada di ANBTI

Dalam beberapa kali dialog dan berdebat dengan teman-teman di Makassar, saya selalu dikatakan “lebih berat” ke ANBTI. Melalui blog pribadi saya ini saya katakan bahwa saya bukan (atau mungkin saja belum) menjadi anggota ANBTI. Tapi satu hal yang tidak dapat saya pungkiri dalam nurani yang lemah ini bahwa saya terlahir 27 tahun silam dengan membawa visi yang mirip dengan visi ANBTI melalui tali plasenta di rahim ibu saya. Dalam kandungan, ayah saya harus berhadapan dengan moncong senapan hanya lantaran “asrama butonnya” harus di ambil alih oleh aparat militer. Sebuah bentuk perjuangan untuk mengatakan bahwa “mahasiswa asal buton” juga punya hak untuk tinggal di kota daeng.

Jadi sekali lagi, saya akan terus resah jika visi ANBTI yang oleh SC dan OC-nya menafsirkan dalam bentuk agenda kerja ditafsirkan sepihak oleh komunitas atau forum tertentu (apalagi kalau forum tersebut seperti hantu yang tidak jelas dan abstrak). Saya adalah saya, yang mencoba untuk merdeka dalam berfikir dan meninju langit sambil teriak FUCKING INTERVENTION dan biarkan saya bebas berfikir.



"Konsolidasi Bhinneka Tunggal Ika" Regional Sulawesi dan Maluku

Sebuah catatan bebas (#3)

Pertemuan (bukan) yang terahir di Hotel Yasmin

Rabu pukul ±09.00 am tanggal 25 februari 2009, saya terbangun seperti biasa dan pagi hari itu tidak ada yang istimewa. Saya masih ingat kalau hari ini saya punya beberapa agenda pribadi dan agenda lainnya yang harus segera saya selelsaikan. Tomi adalah orang pertama hari ini yang mengajakku berkomunikasi alias membangunkan, karena dia mau mencoba tertidur di pagi itu setelah semalam menyelesaikan project system informasi resto yang kami garap bersama untuk sebuah perusahaan yang bergerak di bidang hiburan dan resto di jalan Alauddin. Sisanya adalah bapak yang menginformasikan bahwa tadi ada telepon dari teman-teman dosen tim UMI menanyakan tentang gambar rencana pembangunan BLK yang belum saya rampungkan sejak kesibukan di Arama Haji Sudiang.

Okey… seperti hari-hari yang lain, semua di mulai dengan mandi dan mengenakan kostum sesuai dengan perencanaan yang akan dilalui hari ini. Satu hal yang pasti dalam konsepsi yang terlintas di kepala saya adalah, saya harus menggunakan pakaian yang formal namun terkesan santai karena hari ini tidak ada agenda yang bersifat birokratis formal walaupun akan bersentuhan dengannya, diantaranya kefakultas MIPA UNM, Gedung Pasca Sarjana Unhas dank e Hotel Yasmin mengantarkan buku notulensi ke panitia pusat Konsolidasi Bhineka Tunggal Ika, menemui bos star entertainment, dan terakhir kak Reni di Quality hotel yang sedang pelatihan.

Tanpa sarapan tapi sudah mandi dan gosok gigi segera saya menyalakan mesin motor Suzuki arashi-ku dan meluncur ke hertasning rumah si Adi untuk menjemput Rini. Bersamanya ke Fakultas MIPA tapi dia singgah dulu ke Jurusan Biologi dan kami janjian ketemu lebih lanjut di Dg. Lu sambil ngopi sebelum berangkat ke Hotel Yasmin untuk mengikuti acara penutupan pelatihan Data Base yang diselenggarkan oleh ANBTI. Sembari ngopi di Dg. Lu, saya ngobrol serius dengan sobat kampus saya, Iccank membahas mengenai penerapan Pancasila di Negara ini yang berjalan pincang. Sambil ngobrol, saya melakukan up date jadwal dengan si eqil untuk ke Star Entertainment.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang lewat dan azan dzuhur di mesjid sudah terdengar, berarti waktu untuk ke Hotel yasmin sudah tidak bisa di tunda lagi. Pamitan ke Dg. Lu dengan meninggakan utang kopi Rp. 1.500,- saya meluncur ke kompleks China Town tempat hotel Yasmin berada. Seperti biasa kami berdiskusi untuk memastikan bahwa di Buku Notulensi yang telah kami print out dan jilid spiral sudah tidak ada lagi kesalahan, yang walaupun ada kami sudah siapkan format soft copynya untuk di edit oleh teman-teman dari Jakarta.

Kami tiba tepat pada saat materi terakhir selesai, memasuki jadwal makan siang dan panitia dalam persiapan untuk melakukan acara penutupan. Saya senang karena masih sempat bertemu dengan Puang Sa’idi tokoh dan pemimpin masyarakat adat Bissu, sebuah komunitas adat yang masih memegang tradisi ke-sakralan dan agama lokal di Sulawesi selatan. Siang itu sepertinya tidak ingin saya lalui begitu saja, semua detik saya serap dengan penuh pemaknaan sambil berdiskusi lepas dengan sesekali melempar humor, maklum semua menyadari bahwa seentar lagi kita akan berpisah setelah semua paket kegiatan telah diselesaikan dan berjalan sukses.

Acara terakhir adalah foto bersama, ini dia nih yang tidak ingin aku lewatkan. Mungkin seluruh paket kegiatan di pelatihan Data Base ini tidak aku ikuti karena harus merampungkan buku notulensi tapi untuk foto bareng, hmm jangan harap saya tidak ada di dalamnya. Di teras hotel semua berjejer rapi, saya berdiri disamping kamera saat itu, apalagi kalau bukan membangun imaginasi mengenai Dimana posisi yang tepat untuk saya tempati diantara rombongan. 3 … 2 … 1 … aba-aba dari fotografer menandakan session pemotretan untuk para peserta selesai, berarti selanjutnya adalah peserta dan panitia, nah disini saya memilih posisi di sebelah kiri kamera setelah mempertimbangkan angel dan frame pic nantinya. 3 … 2 … 1 … selesai sudah session pemotretan.

Saya kembali masuk dan bertemu k’ ippank dan kuman lalu berdiskusi lepas mengenai perubahan garis pantai kota Makassar bagian selatan. Saya berjanji untuk memberikan peta perubahan garis pantai tersebut berdasarkan hasil interpretasi citra satelit dari beberapa tahun terakhir. And now… waktunya balik ke kampus.

Setelah Rini menandatangani beberapa berkas ‘penting’ saya segera keparkiran dan bersiap untuk pulang dengannya. Baru mengenakan helm, tiba-tiba ada suara yang menahan “tunggu…”. Ternyata itu adalah suara mba’ Nike yang membawakan kwitansi yang belum aku tanda-tangani. Momen itu dimanfaatkan oleh rini untuk bertukar nomor telepon dan alamat email serta facebook, saat itu saya terfokus pada dokumen kuitansi yang harus saya tandatangani dan berfikir biar nomor hp-nya diambil oleh rini saja, sayakan bisa meminta sebentar nomornya mba’ nike di rini.

Selesai sudah moment pertemuan dengan teman-teman dari ANBTI Jakarta. Saya tidak bisa memastikan kapan lagi dapat bertemu dengan mereka semua, namun harapan itu tetap saya simpan mengingat saya dan mereka memiliki ideology movement yang sama walaupun pertemuan ini awalnya adalah ketidak sengajaan yang bermula dari pertemuanku dengan ka’ Anto. Tapi satu hal, saya sudah sering bertemu dengan berbagai kelompok dari berbagai daerah ataupun mendatangi komunitas lain ke daerahnya dari berbagai pulau di Indonesia ini tapi entahlah mengapa komunikasi itu sulit terjalin secara intensif untuk membangun jaring-jaring persahabatan se-Nusantara.





Mimpi yang aneh...

Setelah menyusun Buku Notulensi Konsolidasi region ANBTI Sulawesi Maluku


Malamnya saya bermimpi, kebetulan tertidur dalam kelelahan dimana baru saja menyelesaikan ‘Buku Notulensi’ Konsolidasi Bhinneka Tunggal Ika. Mimpi itu seperti nyata dan saya mengenal aktor-aktor dalam mimpi itu dengan sangat jelas. Oh iya … sepertinya saya harus menyebutkan tanggal supaya tidak tersesat dalam sejarah posting ini nantinya, saat itu tanggal 25 februari 2009. Dalam memori saya waktu itu, saya melihat hanyku tersayang, Samrina Jayusman terus sobatku di prukut Ipink dan seseorang yang saya tidak kenal, namun seperti pernah melihatnya. ‘bout mimpi itu saya singkat saja…

Rina duduk di teras sebuah rumah panggung dengan baju yang saya kenal betul karena sering dia kenakan kalau keluar denganku untuk hal-hal yang sifatnya santai, sebuah baju kaos berwarna merah dengan lengan panjang + jeans. Dia duduk sambil (kalau tidak salah) memperhatikan kebersihan kukunya seperti yang selalu dia lakukan di halaman rumahnya di jalan mappaouddang. Ipink menggunakan baju berwarna hitam dan sedang ngobrol denganku di bawah kolong rumah. Kondisi existing rumah tersebut adalah rumah panggung tepat di pinggir laut dengan kesibukan pekerjaan sebuah proyek konstruksi  fisik bangunan yang sepertinya sedang membangun pondasi dia atas garis pantai.

Di atas sebuah pondasi, saya melihat sebuah perempuan berdiri sendiri dengan mengenakan baju kaos berwarna putih dengan rambut seleher, beberapa kali melihat kearah kami (saya dan ipink) yang sedang berdialog. Ipink kemudian beranjak pergi dan saya melihat kearah Rina dengan maksud mendatanginya, namun masih dua langkah tiba-tiba saya meihat kearah perempuan tersebut yang ternyata sedang menceburkan diri kedalam laut. Saya kaget dan berlari sambil melompat dengan meceburkan tangan yang mengarah kedepan lebih dulu dan merapatkan kedua kaki di belakang dengan maksud menyelam. Tapi koq aneh yah? Saya tidak merasa nafas saya terganggu di dalam air begitupun dengan penglihatan saya. 

Saya mengayunkan badan kearah kiri dan melihat perempuan tersebut mengapung rileks di dalam air laut sambil mengarahkan tangan kanannya kearahku seolah-olah hendak berkenalan. Saya tiba-tiba merasa lupa dengan keanehan yang sedang terjadi bahwa saya sedang melanggar hukum alam yaitu dapat berkomunikasi di dalam air dan menyambut tangannya dengan tangan kananku dan menyelesaikan ritual perkenalan ini. Saat mengajaknya kembali kepermukaan, saat itulah saya terbangun.



"Konsolidasi Bhinneka Tunggal Ika" Regional Sulawesi dan Maluku

Sebuah catatan bebas (#2)

Aku sang Noteker (membuatku kembali cinta Negeri ini)

Aku bertemu dengan kak Anto di warkop Cappo jl. Sultan Alauddin, Makassar, seorang aktivis ‘semi progresif’ yang sedang sibuk mempersiapkan perhelatan akbar untuk mempertemukan ratusan orang yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat dari seluruh provinsi yang ada di region Sulawesi dan Maluku. Istilah ‘semi progresif’ tersebut saya gunakan pribadi untuk penyebutan kepada mereka-mereka yang loyal dalam gerakan dan memegang berbagai peran strategis di akar rumput (grass root) namun memunculkan ketegasan dalam sikap lembut dan kesantunannya.

Ok, supaya tidak lama berbasa-basi, aku lanjutkan ceritanya… beliaunya lagi pusing (maklum kak Anto adalah ketua panitia lokal di Sulsel sebagai tuan rumah) mempersiapkan kepanitiaan, administrasi, akomodasi dan lain sebagainya (hehe…he… itu hanya tebakan, yang benar beliaunya belum makan siang). Sambil mengajak makan nasi goreng waktu itu, ka’ anto bertanya: 
“rum, bisa jadi notulen di acaranya teman-teman?” 
dalam hati saya sih sudah ada jawaban ‘iya’ namun demi basa-basi dan strategi supaya di traktir nasi goreng, aku bertanya balik 
“sebenarnya yang dibutuhkan berapa orang kanda?” (hmmmm… pertanyaan di jawab pertanyaan), 
“dua orang” beliau menjawab ringkas
kontan aku teringat sobat karibku ‘si Rini’ dan segera saya jawab 
“Oke kanda, asal dengan Rini semoga saja dia sudah balik dari Wawoni’i (sultra), dan mungkin lagi di Pinrang sekarang”.
Ka’ Anto tanpa basa-basi lagi mungkin karena sudah terlalu lapar beliau bergumam
“Alhamdulillah, akhirnya saya tidak mencari notulensi lagi, ayo pesan makan rum…” ajaknya…
Seperti dugaanku, pasti saya akan ditraktirnya makan… kebetulan lama online untuk posting blog dan lagi mantau posisi satelit NOAA 19 membuat perut lapar dan kroncongan.

Sambil makan saat itu beliau bercerita tentang kegiatan yang akan dilaksanakan di Asrama Haji tersebut. Begitu antusias saya mendengarnya sampai tidak sadar kalau ternyata nasi gorengku sudah habis. Segera saya balik ke Laptopku untuk menyelesaikan postinganku saat itu dan berkomitmen mengusahakan yang terbaik buat amanah yang diberikan oleh beliau.

Pertemuan tersebut yang kemudian ternyata menjadi tiket saya untuk bertemu dengan saudara-saudara saya lainnya di Indonesia yang “ternyata” memiliki keresahan yang sama denganku dalam melihat kondisi Negara ini yang sangat bangga memiliki ideologi bernama PANCASILA.

Sebenarnya saya malas ngomongin Negara pada saat itu, soalnya saya terlanjur merasa lelah teralienasi dengan sikap intelektual dan politis yang saya yakini seakan tidak memiliki tempat di Tanah Air ini. Tapi kehadiran beliau ternyata mengantar saya untuk menerima air sejuk di tengah gersangnya sikap apatis saya terhadap ideologi Negara yang walaupun saya betul-betul bangga memilikinya, “Bhinneka Tunggal Ika”.

 Thanks kanda…

"Konsolidasi Bhineka Tunggal Ika" Regional Sulawesi dan Maluku

Sebuah Catatan Bebas (#1)


Sebuah pengalaman menarik dari perjalanan kegiatan Konsolidasi Bhineka Tunggal Ika Regional Sulawesi dan Maluku yang pelaksanaannya berpusat di Asrama Haji Makassar sejak tanggal 18 sampai 22 februari 2009. Dalam kegiatan tersebut terdapat perwakilan dari berbagai elemen masyarakat yang tersebar di tiap provinsi Sulawesi dan Maluku. 

Terfokus pada kebhinekaan yang menghargai banyaknya perbedaan di tiap wilayah di tanah air memunculkan fakta-fakta logis diantaranya keberagaman adalah sebuah sunnatullah atau konsekuensi logis terhadap keberadaan masyarakat dalam interaksinya yang melahirkan etnis dan budaya. Celakanya, fakta lain juga muncul bahwa terdapat indikasi yang disadari atau tidak menjadi ancaman dari keragaman tersebut yang menjurus kepada keseragaman. 

Persoalan keseragaman ini ternyata merupakan sebuah hegemoni dari mainstream besar yang berpotensi mengancam keteguhan kebhinekaan sehingga implementasi Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia hampir-hampir hanya menjadi sebuah ideologi dalam konteks tekstual saja.

Adalah sebuah Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) lahir dari kesadaran individu-individu dan kolektif yang merdeka dalam melakukan analisis realitas secara kritis terhadap pelaksanaan Negara sejak masa lalu, kondisi kekinian dan penafsiran masa depan. Disadari atau tidak oleh kita, tapi mereka telah menemukan berbagai upaya dari berbagai pihak yang mencoba ‘mengaburkan’ Pancasila sebagai ruh gerakan Negara Indonesia untuk mencapai cita-citanya.

Istilah mengaburkan yang saya gunakan tersebut sesungguhnya adalah istilah yang saya gunakan untuk menunjukkan bahwa berbagai kebijakan Negara yang ada sejak era orde baru hingga saat ini ternyata sangat kontradiksi dengan pancasila yang menjadi sumber dari segala sumber hukum dari Negara kita. Dalam hal ini Negara dengan perangkat-perangkatnya telah menghegemoni rakyatnya sendiri dalam bentuk penyeragaman yang terstruktur. Bukankah ini sebuah bentuk penghianatan terhadap Pancasila?

Bukan hanya Negara, tapi beberapa kelompok masyarakatnya sendiripun melakukan upaya-upaya untuk mengganti ideologi Negara ini dimulai dengan cara-cara dominasi dan kekerasan untuk mempertontonkan kekuatannya ke kelompok masyarakat lain. 

Ada apa dengan Pancasila? 

Ini hanya menjadi posting pertama (semoga berlanjut) saya yang coba mengungkapkan berdasarkan “Kemerdekaan Berfikir”ku untuk mengkaji PANCASILA dengan keterbatasan yang saya miliki.


artikel mengenai kegiatan ini juga dapat di baca di Redaksi:
atau di media cetak lainnya.

[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]