Catatanku yang tersisa dari Blok M... tentang JAKARTA

catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Friday, 20 May 2011 at 05:31


Blok M, jakarta 27 okt 2010


Jakarta sesungguhnya sebuah kota yang ingin dituju oleh hampir semua orang di Indonesia, apa lagi jika ada peluang bisnis atau harapan masa depan yang menjanjikan. Banyak hal yang mendasari, diantaranya karena jakarta sebagai ibu kota negara yang otomatis menjadi pusat pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Investasi terus bertumbuh seperti jamur di musim hujan, layaknya keseuaian lahan yang luar biasa gedung dan infrastruktur terus tumbuh seperti tanpa hambatan.

Kemacetan dan kebingungan
Pesatnya pertumbuhan infrastruktur menjadi magnet yang mengantarkan arus urbanisasi luar biasa. Kendaraan juga bertambah sebagai konsekuensi logis mobilitas yang tinggi bagi masyarakatnya. Selain pertambahan kendaraan pribadi, pertambahan sarana transportasi umumpun juga tak dapat di hentikan.

Hampir semua jenis transportasi darat umum di wilayah ibukota negara ini ada; kereta api, angkot, metro mini, mini bus, bus, bajay, ojek, bus way, taxi, dll. Hanya kendaraan umum yang tidak bermesin saja yang tidak akan kita temui seperti becak, delman dan kereta kuda lainnya.

Transportasi umum tersebut tentu lahir dari peran investasi yang menuntut keuntungan namun berhadapan dengan tantangan persaingan sesama rekan penyedia jasa angkutan lainnya. Persaingan memang memberikan dampak positif bagi konsumen, yaitu murahnya harga angkutan umum namun bukan berarti terlepas dari dampak negatif. Rendahnya biaya beban yang di berikan kepada penumpang dan tingginya nilai setoran yang harus di berikan kepada pemilik usaha jasa tersebut memaksa para supir dan kondektur untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya.

Tuntutan mendapatkan penumpang inilah yang kemudian memunculkan ketidak nyamanan bagi calon penumpang yang belum menguasai jalur dan arah transportasi umum di kota Jakarta. Terkadang penumpang diarahkan untuk asal naik saja sehingga harus menyambung angkutan lain untuk sampai ketujuan walaupun ada angkutan lain yang memang mengarah ke tempat yang ingin di tuju. Namun demi ingin mendapatkan penumpang, sang konduktor menyembunyikannya dari penumpang tersebut.

Taksi dan bajay juga memiliki trik yang berbeda. Hanya dengan menebak logat (dialek) sang supir sudah mengetahui bahwa penumpangnya tersebut tidak berasal dari Jakarta atau seseorang yang memang baru berkunjung ke jakarta. Hal ini menjadi kesempatan bagi sopir taksi dan bajay dengan cara mengarah ke berbagai jalan yang menambah jarak tempuh dan melalui jalur macet atau bahkan pura-pura pusing dan bingung mengenai lokasi yang akan dituju di tengah perjalanan.

Walaupun sebelum naik tetap ada komunikasi antara penumpang dan supir, namun ditengah perjalanan biasanya supir akan menanyakan kembali ke penumpang bahkan untuk dapat lebih natural sang supir akan singgah bertanya ke orang di pinggir jalan. Supir bajay jauh lebih “sakti” lagi untuk urusan ini, mereka malah singgah di pangkalan ojek-nya dan bertanya ke rekanannya yang lagi parkir dan dengan cekatan rekan-rekan supir bajay tersebut langsung tanggap dan berdiskusilah mereka tentang jalur (yang sesungguhnya telah mereka kuasai) hingga suaranya di dengarkan oleh penumpang yang hanya bisa menganga di bajay.

Trik ini tidak lain untuk dapat meningkatkan terus argo pembayaran karena lamanya waktu diatas taksi ataukah bagi supir bajay menjadi kesempatan meminta pertambahan biaya dari yang telah disepakati sebelumnya dengan alasan jauh. Jika kejadian ini terus berlanjut, sungguh tidak bermoral dan profesional.

Banjir
Memang benar jika jakarta sejak masih bernama batavia dulu sudah menjadi langganan banjir, namun sangat aneh jika di era kecanggihan sains dan teknologi saat ini kota sekelas Jakarta masih juga harus terendam banjir. Jangankan warga jakarta yang merasakan banjir tersebut, di daerah lainpun tetap dapat menonton kondisi jakarta yang direndam banjir melalui media televisi, namun belum ada upaya solutif yang bisa dihadirkan oleh pemda setempat dan pemerintah nasional untuk mampu membebaskan wilayah ini dari banjir.

Ayo kita bersama-sama menyalahkan kondisi morfologi dan topografi kota Jakarta yang memang tidak stabil rata, namun bukan berarti analisis arah dan drainase tidak bisa di jadikan solusi. Bukankah Belanda telah memberi contoh yang baik, bagaimana kotanya yang berada di cekungan yang ketinggiannya lebih rendah di bawah permukaan lautpun bisa terbebas dari genangan air sejak jaman dahulu.

Saat ini pemerintah masih salaing tuding dengan masyarakatnya tentang kondisi tersebut. Bagi pemerintah, masyarakatnyalah yang sering membuang sampah sembarangan sehingga menutup aliran air di saluran drainase dan disisi lain masyarakat menyalahkan balik pemerintah yang tidak memiliki kerja solutif untuk antisipasi banjir itu sebagai tanggungjawabnya untuk memberikan rasa nyaman bagi masyarakat.

Ribuan Mall
Teman saya yang sudah lama berdomisili di kota Jakarta mengatakan kepada saya saat ngopi di Kopi Luwak Plaza Blok M, “Rumi, kalau di kota kita Makassar di juluki kota ribuan Mall, maka Jakarta ini dapat kita juluki kota ribuan Mall dan plaza".

Memang benar, hampir di setiap kecamatan bahkan kelurahan di DKI jakarta ini memiliki mall, plaza ataupun square.

Entah ini sebuah kesengajaan dalam penataan ruang kotanya ataukah karena tuntutan para pengusaha yang ingin menanamkan investasinya di bidang jasa perdagangan modern dengan memanfaatkan kepadatan penduduk yang ada di setiap kecamatan sampai kelurahan di kota Jakarta ini. Bagaimanapun ini hanya kesimpulan sementara dalam perjalanan kali ini yang membuatku rindu dengan kedamaian dan kejujuran di kota makassar.

Makassar boleh di katakan rusuh di televisi atau media, tapi Jakarta adalah sebuah kota yang memperlihatkan kekejaman yang terselubung di balik gedung-gedung megahnya yang akan saya coba bahas dalam kesempatan lain jika 'mood' nulisku lagi datang.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]