SETAN ATAU KESALAHAN-KESALAHAN BERPIKIR

Pahaman selama ini yang beredar dalam mayoritas masyarakat tentang setan yang berwajah buruk, menakutkan, yang memiliki keberadaan di luar manusia sehingga mampu mencekik leher manusia, membunuh manusia. Seperti yang dilakukan setan Sumiati, Si Manis Jembatan Ancol atau Sundal Bolong adalah merupakan pahaman yang keliru. Kita pada umumnya belum bisa membedakan mana jin dan mana setan.
Dalam dunia mistik diketahui bahwa yang selama ini yang menakut-nakuti manusia yang memiliki keberadaan di luar manusia yang mampu mencelakakan manusia secaras fisik dan ruhani dengan langsung semuanya adalah kerjaan jin yang mengaku sebagai setannya ruh si A dan setannya ruh si B. Mungkin anda bertanya jika demikian setan sendiri yang mana?, setan tidak memiliki kedimanaan! pertanyaan “yang mana“, bermakna menunjukkan keberadaan sesuatu. Sementara setan tidak memiliki keberadaan, (baca pula: non eksistensi di luar pahaman). Singkatnya, setan hanya terbatas pada wilayah pemikiran manusia saja, tidak sampai mempengaruhi jasad. Dan otoritas pengaruhnya terhadap pikiran manusia pun masih terbatas juga, dengan hanya mampu melahirkan keraguan (was-was) dan menunjukkan yang batil terlihat sebagai kebenaran. Intinya setan muncul ketika kita tidak menggunakan akal yang biasanya dalam bentuk kesalahan-kesalahan berpikir. Al-Quran menukil jawaban setan sendiri terhadap mereka yang termakan rujukannya:
“Sekali-sekali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan aku sekedar menyeru dan kamu menjawab seruanku itu. Maka, janganlah kamu mencercahku, cercahlah dirimu” (QS 14: 42).
Jadi sekiranya kita telah mampu menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, otomatis kita telah mematikan yang apa yang disebut setan. Olehnya itu harus tahu apa saja bentuk dari kesalahan-kesalahan berpikir itu, yang sebenarnya telah dikemukakan untuk pertama kalinya oleh guru kami yang tercinta Prof. Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat─semoga Allah merakhmatinya- dalam bukunya Rekayasa Sosial. Dan saya hanya menambahkan beberapa saja diantaranya, semoga mampu memberikan sebuah gambaran kepada kita tentang kesalahan-kesalahan berpikir itu.

1.Over-Generalisation : Yaitu, penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat umum. Kerancuan berpikir seperti ini acap kali terjadi dalam lingkungan kita.

Misalnya, ketika sebagian teroris itu adalah memeluk agama Islam. Maka dengan serta merta Amerika dan Dunia Barat mengatakan bahwa Islam adalah teroris. Nampaknya negara super power itu terjebak dengan apa yang kita sebut dengan over-generalisation. Demikian pun halnya apa yang dikatakan Karen Armstrong penulis yang terkenal itu dalam bukunya “A history of God, Nizam Press 2001”, bahwa Tuhan telah mati, karena di Eropa gereja-gereja sudah kosong. Ini adalah salah satu bentuk kesalahan berpikir juga, karena tidak bisa gereja yang kosong dijadikan parameter tentang matinya Tuhan, bukankah gereja hanya milik orang Kristen saja dan bukankah pula itu terjadi hanya di Eropa saja. Bagaimana dengan Tuhannya orang Islam, Hindu, Budha ? bagaimana dengan gereja-gereja di luar Eropa?.

2.Post Hoc Ergo Proter Hoc : Inti dari kesalahan berpikir ini ketika seseorang berargumentasi dengan menghubungkan sesuatu yang tidak berhubungan. Misalnya, ketika KH. Zainuddin MZ dalam salah satu kegiatan tournya untuk ceramah keliling di berbagai daerah. Di salah satu daerah sebelum beliau naik mimbar untuk berceramah hujan begitu deras turun dan ketika ia naik untuk ceramah maka hujan pun jadi reda. Lalu orang di dalam mesjid pada umumnya mengambil kesimpulan bahwa karena K.H.Zainuddin MZ lah sehingga hujan menjadi reda, nampaknya para penikmat ceramah telah terjebak dalam kesalahan berpikir tersebut.

3.Argumentum Ad Verecundiam : Berargumentasi dengan menggunakan otoritas seseorang yang belum tentu benar atau berhubungan demi membela kepentingannya dalam hal ini kebenaran argumentasinya. Seperti contoh yang sangat ekstrim pada doktrin yang beredar dalam masyarakat kita yang difatwakan Ibnu Taimiyah yang berbunyi; “Barang siapa yang berlogika maka ia kafir” sehingga dari fatwa yang belum tentu benar ini, seringkali saya bertemu orang yang mengambil kesimpulan bahwa karena Ibnu Taimiyah mengharamkan logika maka kita hendaknya tidak belajar logika atau karena Imam Al-Ghazali melarang filsafat maka haram hukumnya belajar filsafat. Maka seluruh umat Islam jangan belajar filsafat, karena hal itu menyesatkan. Di sini kita terjebak Argumentum Ad Verecumdiam. Adapun argumentasi tentang ketidak-benaran kedua fatwa tersebut akan kita bahas pada pembahasan doktrin-doktrin yang keliru.

4.Circular Reasoning : Circular Reasoning artinya pemikiran yang berputar-putar, menggunakan kesimpulan untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk mendukung kesimpulan awal. Misalnya terjadi perdebatan tentang pembuktian keberadaan Tuhan dengan mengatakan bahwa “adanya Tuhan terbukti karena adanya alam ini, karena Tuhanlah yang menciptakan alam”. Tetapi jika ditanya, apa buktinya bahwa alam ini Tuhan yang ciptakan ? Ya.., karena Tuhan maha pencipta maka alam ini Tuhan yang ciptakan. Terus ditanya lagi apa bukti bahwa Tuhan maha pencipta? Ya.., tentu saja karena adanya alam ini. Dengan jawaban seperti ini, kita akan kembali masalah awal lagi. Perdebatan ini terus berputar di sekitar itu saja.
Contoh lain ketika seorang peserta Bastra (Basic Training) HMI berdebat dengan saya, ia ingin membuktikan ketauhidannya dengan mengatakan bahwa “Hanya ada satu Tuhan yakni Allah”. Dan saya balik tanya apa buktinya bahwa Allah itu satu? Ya .., tentu saja Allah itu satu karena jika lebih dari satu Allah itu akan berkelahi dengan Tuhan lainnya. Terus saya tanya lagi, apa buktinya jika Allah lebih dari satu itu akan berkelahi? Ya.., tentu saja karena jika Allah satu dia tidak akan berkelahi karena tidak ada lawannya berkelahi. Terus ditanya lagi, apa buktinya bahwa Allah itu satu. Ya.., kalau Allah lebih dari satu ia akan berkelahi. Yah…kembali lagi kepermasalahan awal ! Inilah contoh Circular Reasoning. Ini sama saja pernyataan bahwa Tuhan itu terbukti adil karena jika dia tidak adil dia bukan Tuhan. Makanya Tuhan itu terbukti adil.

5.Black and White Fallacy : Inti dari kesalahan berfikir ini ketika seseorang melakukan penilaian atau berargumentasi berdasarkan dua alternative saja dan menafikan alternative lain. Saya akan memberikan contoh yang terjadi pada teman saya. Mungkin bagi mahasiswa angkatan saya sangat patut diragukan ke-Unhasan-nya jika tak mengenal orang ini. Namanya Ahmad Naki, mahasiswa Fak-Kedokteran Angk.98. Di Fakultasnya Ahmad Naki dianggap orang yang sesat namun di sisi lain ia juga adalah aktifis HMI, sehingga banyak mahasiswa Unhas yang meragukan kebenaran berita ini. Saya sendiri ingin tahu kebenaran berita ini. Dan apa yang menyebabkan sehingga Ahmad Naki bisa dikatakan kafir? Ternyata cek per cek, Ahmad Naki dikafirkan karena ia pernah kedapatan sekali tidak pergi shalat Jum’at. Dan berita ini saya dapatkan langsung dari seorang ahwat (perempuan) yang melihat Ahmad Naki tidak pergi shalat Jum’at. Waktu itu saya hanya bisa mengatakan pada teman ini bahwa kita tidak bisa berfikir seperti itu, sebab itu adalah bentuk kesalahan berfikir. Karena bisa jadi ada alternatif lain yang pada saat itu membuat Ahmad Naki tidak sempat pergi shalat Jum’at. Karena sekiranya seperti ini cara berfikir kita, berarti semua yang tidak shalat Jum’at kafir, dan semua yang pergi shalat Jum’at beriman. Meskipun ia tidak tahu kenapa ia harus shalat Jum’at dan hukum-hukum shalat Jum’at. Singkatnya ia shalat Jum’at hanya ikut-ikutan saja atau karena kebiasaan saja. Dan tentunya anda dan saya pun tidak setuju jika seseorang dapat disebut beriman hanya dengan faktor kebiasaan dan ikut-ikutan saja.

6.The Fallacy of Illicit Minor : Kesalahan berfikir ini terjadi dikarenakan menghubungkan pernyataan yang bersifat khusus dengan pernyataan yang bersifat umum dengan cara melampaui hubungan kedua pernyataan tersebut. Misalnya,
Pernyataan pertama, wajah Laskar Jihad seram-seram.
Pernyataan kedua, Laskar Jihad adalah umat Islam.
Kesimpulan, wajah umat Islam seram-seram.

7.The Fallacy of Illicit Mayor : Kesalahan berfikir ini kebalikan dari point enam, yakni menghubungkan pernyataan yang bersifat umum dengan pernyataan yang bersifat khusus meskipun melampaui hubungan keduanya. Sebagai contoh, kasus ini saya alami sendiri, pada pengkaderan tingkat II HMI yang biasa disebut “Intermeidit” di acara itu terjadi diskusi panel antara ketua-ketua ormas kepemudaan Islam yang ada di Sul-Sel. Dan pemikiran yang dilontarkan utusan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) pada saat itu cukup menarik dan saya pun turut menyimaknya dengan seksama. Singkat cerita, setelah acara usai saya secara pribadi meminta waktu untuk bertanya dan belajar lebih banyak lagi tentang Islam pada beliau. Nama sapaannya kak Oji karena ia adalah senior saya di Unhas. Alhamdulillah beliau menyetujuinya. Dua jam setengah lamanya kami berbicara, yang di dalamnya sempat terjadi perbedaan pendapat. Dan inti dari perbedaan pendapat kami adalah masalah kemaksuman Nabi Muhammad SAW semoga shalawat senangtiasa tercurahkan untuknya. Saya setuju jika Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang maksum (terhindar dari kesalahan), dan kak Oji ini sangat tidak setuju jika Nabi Muhammad SAW maksum. Dengan argumentasi beliau kurang lebih seperti ini,
Premis pertama : Manusia bisa salah.
Premis kedua : Muhammad SAW manusia.
Kesimpulan : Muhammad SAW bisa salah.
Beliau pun berkata, Muhammad SAW kan juga manusia biasa seperti kita. Seraya menambahkan kutipan hadist yang berbunyi “Engkau lebih mengetahui urusan duniamu dari pada aku” (Shahih Muslim, Jus II halaman 426).
Sekilas argumentasi senior saya ini cukup kuat, tetapi bagi orang yang pernah sedikit saja bersentuhan dengan “logika”, argumentasi di atas tidak lebih dari sebuah kesalahan berfikir. Olehnya itu kita akan mendiskusikannya satu persatu dan saya akan membahasnya lebih mendalam karena bagi saya ini masalah yang penting dalam Islam yang termasuk dalam persoalan Ushuluddin, yakni iman kepada kenabian. Lagi pula sangat erat hubungannya dengan pembahasan pada BAB VI dalam tulisan ini.
Alasan pertama, di sini kak Oji terjebak dengan Fallacy of Illicit Mayor, dimana susunan premisnya seperti berikut :
Premis pertama ; “Manusia bisa salah”. Dari kalimat ini bukanlah berarti semua manusia mesti salah dan telah melakukan kesalahan. Karena makna kata “bisa salah” dalam kalimat “manusia bisa salah” tidaklah sekali-kali memastikan kesalahan pada manusia. Karena saya juga bisa pakai argumentasi seperti beliau yakni :
Premis pertama : Manusia bisa makan babi
Premis kedua : Sofian manusia
Kesimpulan : Sofian bisa makan babi

Premis pertama : Mahasiswa bisa menjadi pecandu narkoba
Premis kedua : Zubair mahasiswa
Kesimpulan : Zubair bisa menjadi pecandu narkoba
Dan apakah Sofian dan Zubair telah pasti makan babi dan menjadi pencandu narkoba, atau argumen lain yaitu,
Premis pertama : Manusia bisa benar.
Premis kedua : Fir’aun manusia.
Kesimpulan : Fir’aun bisa benar.
Dan apakah ini berarti Fir’aun pasti benar. Dan jika premis ini kita terima berarti, Al Qur’an pun menjadi bisa salah yang memastikan Fir’aun salah, yang ternyata Fir’aunnya bisa benar.
Mungkin anda berfikir kenapa sampai serancu ini? Ketahuilah, sebenarnya akar kesalahan kita yakni dalam mamaknai kata “bisa salah” pada kata kalimat manusia bisa salah. Yang sebenarnya tidak berlaku pada setiap manusia, juga hanya bermakna suatu kemungkinan. Dan suatu kemungkinan tidak bisa kita hukumi sebagai suatu kepastian, karena sesuatu yang mungkin itu tidak punya keberadaan yang pasti. Kemungkinan itu kan hanya sebuah kemungkinan saja. Dan juga hanya melahirkan sebuah kemungkinan pula. Terus bagaimana mungkin kita bisa berangkat dari argumentasi yang mungkin untuk memastikan suatu argumentasi.
Premis kedua: Muhammad manusia. Pada kalimat ini tidak berartikan lagi manusia yang bisa salah itu termasuk Muhammad SAW di dalamnya. Karena sebagaimana maklum tidak semua manusia bisa salah dan hanya merupakan kemungkinan saja.
Kesimpulannya : Karena kesimpulan diambil dari menghubungkan premis pertama dengan premis kedua. Sementara kedua premis tersebut terdapat pengecualian bagi Muhammad SAW, jadi tidak ada lagi alasan untuk mengatakan Nabi Muhammad SAW bisa salah.
Alasan kedua, kak Oji mengatakan bahwa, Nabi Muhammad SAW-kan juga manusia biasa seperti kita. Perkataan ini sebenarnya ayat di dalam Al’Qur’an sepanjang pengetahuan saya terdapat dua ayat yang berbunyi dalam surah Fushilat ayat 6 dan Surah Al Kahfi ayat 110.
“Anaa basyarun mislukum” Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu.
Adapun letak kesalahan senior saya ini karena ia menerjemahkan kata “basyar” pada ayat tersebut dengan arti manusia. Padahal dalam Bahasa Arab arti kata “basyar” adalah manusia dalam aspek biologis atau jasad/fisik. Begitupun pada kata “Inzan”, dalam ayat berbunyi, “wama halaktull jinna wal inza illa liyabudun”(Az-Zariyat:56). Dalam Bahasa Indonesia juga diartikan sebagai manusia. Padahal inzan itu berkenaan dengan spiritualitas manusia. Juga pada kata “Naas” dalam Surah An -Naas, itu berkenaan dengan tata pergaulan manusia. Tetapi dalam Bahasa Indonesia diartikan sama yakni sebagai manusia saja. Jadi, ketika Rasulullah SAW─semoga shalawat senangtiasa tercurahkan untuknya, berkata; ”Aku manusia biasa seperti kamu juga” itu dalam aspek biologis atau jasadiah yakni, Beliau juga makan, minum, ngantuk, seks, dan sebagainya. Dan memang dari aspek ini kita tidak ada bedanya dengan Rasul. Tetapi adapun mengenai derajat kenabian, derajat kemaksuman itu bukan berkenaan dengan aspek biologis. Melainkan berkenaan dengan aspek spiritual. Dan ini sangat jauh berbeda dengan diri kita yang teramat bodoh ini. Jadi sebenarnya senior saya ini terkena juga kesalahan berfikir yang kita sebut Post Hoc Ergo Propter Hoc, menghubungkan sesuatu yang tidak berhubungan. Yakni, perkataan Rasul aku manusia biasa seperti kamu, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dapatnya Nabi Muhammad SAW berbuat salah.
Alasan ketiga, ada hadist yang berbunyi “Engkau lebih mengetahui urusan duniamu dari pada aku.” Terus terang hadist ini adalah hadist yang paling sekuler yang pernah saya dengar, dimana adanya pemisahan ajaran Islam yakni masalah akhirat saja yang kita berpegang sama Rasul atau Islam, adapun urusan dunia kita lebih mengetahuinya dari pada Rasul. Timbul pertanyaan, apakah Rasul itu hanya tahunya masalah akhirat saja sehingga kita menjadi lebih pintar dalam masalah dunia? Mestinya senior saya ini menanyakan terlebih dahulu kesepakatan saya tentang hadist yang menurut saya kontroversi ini. Dan nanti setelah saya sepakat barulah ia dapat berargumentasi dengan hadist tersebut. Karena bagaimana mungkin kita berargumen dengan sesuatu yang masih dipertanyakan. Ingat! berangkat pada sesuatu yang masih dipertanyakan hasilnya pun masih dipertanyakan. Jadi kesimpulan dari ketiga argumentasi kak Oji. disamping tidak ada satupun yang berhasil menggugurkan kemaksuman Rasul, juga memberikan kita contoh dari beberapa kesalahan berfikir sehingga kita tidak mungkin lagi melakukannya.

8.Argumentum Ad Miseria : Kesalahan berfikir karena menarik kesimpulan dengan berdasarkan rasa kasihan tanpa berdasarkan bukti. Misalnya, “memang benar Soeharto itu korupsi, tetapi dia kan juga mantan Presiden kita. Olehnya itu kita ampuni saja.” Atau “memang benar Hafsah dan Aisya bantu membantu menyusahkan Nabi sebagaimana mereka ditegur dalam Surah At-Tahrim ayat 4, tetapi bagaimanapun juga mereka itu adalah istri Nabi yang harus kita hormati.”

9.The Fallacy Of The Undistrubed Midle Term : Kesalahan berfikir karena orang yang mengambil kesimpulan tidak melakukan sesuatu apapun selain menghubungkan dua ide dengan ide ketiga, dan dalam kesimpulannya orang yang mengambil ide mengklaim bahwa telah menghubungkan satu sama lain. Misalnya, Katolik percaya adanya sistem kependetaan yang harus diikuti. Islam percaya adanya sistem keulamaan yang harus diikuti. Jadi Islam itu identik dengan Katolik, ini sama saja dengan kesalahan kesimpulan premis berikut; jika 2+2 = 4 dan 100-96 = 4 maka 2+2 itu identik dengan 100-96. Atau Islam percaya sama Tuhan, Hindu percaya sama Tuhan, apakah ini berarti Islam dan Hindu identik?.

10.Fallacy Determinisme Paranoid : Pada umumnya istilah paranoid kita kenal dalam disiplin ilmu psikologi. Yaitu suatu kondisi kejiwaan seseorang yang merasakan rasa takut yang berlebihan tanpa alasan yang patut dibenarkan. Biasanya kasus ini kita temukan pada orang yang trauma atau memakai sabu-sabu (salah satu jenis narkoba). Tetapi dalam kesempatan ini kita membahas paranoid yang timbul karena kesalahan berfikir, yakni adanya rasa takut yang berlebihan karena tekanan kebodohannya. Contohnya yang terjadi di almamater saya, dalam salah satu pengkaderan yang dilakukan MPM (Mahasiswa Pencinta Musallah) biasanya disebut dengan istilah pesantren kilat. Waktu itu kami masih mahasiswa baru sehingga kami masing “kosong”. Tetapi anehya kami dipesankan agar jangan baca buku-buku penerbit Mizan, Lentera, dan buku-buku Kiri!. Nanti kamu sesat !, buku-buku seperti itu tidak ada gunanya. Bahkan lebih ekstrim lagi sampai menyebut nama pengarangnya, yang saya tidak usah sebutkan. Mereka mengatakan bahwa akan membahayakan Islam. Nanti belakangan barulah saya tahu cara berfikir seperti ini adalah bentuk dari kesalahan berfikir. Karena timbul pertanyaan, Islam yang mana yang dibahayakan? Setahu saya yang namanya umat Islam itu tidak pernah mundur dalam hal intelektual atau ilmu. Kenapa kita begitu takut membaca buku yang berbeda dengan golongan kita, entah itu Kiri atau Kanan. Atas atau Bawah. Justru kita akan mundur jika hanya membaca buku itu-itu saja. Ibarat katak dalam tempurung. Kalau memang Islam benar kenapa harus takut, karena menurut saya hanya orang yang salahlah yang takut. Saya teringat ketika salah satu tokoh Marxian datang jauh-jauh berkunjung ke Najaf di Irak hanya untuk berdiskusi dengan Ayatullah Muhammad Baqir Sadhar, dan disambut baik oleh beliau. Atau surat menyurat seorang Rektor Universitas Al-Azhar di Kairo Asy-Syaikh Salim Al-Bisyri Al-Maliki dari Sunni dengan A. Syarafuddin Al Musawi seorang ulama Syiah yang telah dibukukan dalam buku setebal 500 halaman lebih dengan judul “Dialog Sunnah – Syiah”. Juga Presiden Iran Muhammad Khatami Hujjatul Islam mengirim surat kepada Paus Yohannes Paulus II di Vatikan untuk berdialog antar agama. Ataukah juga Imam Khomeini ketika mengundang para cendikiawan Uni Soviet untuk belajar di Qum Iran, melalui suratnya pada Michael Gorbachev yang menjabat Presiden Uni Soviet waktu itu. Yang ditanggapi dengan baik dengan dikirimkannya beberapa cendikiawan Uni Soviet. (Lihat buku, Pesan Sang Imam, hal-195). Mereka inilah contoh yang tidak terjebak dengan kesalahan berfikir (Fallacy Determinisme Paranoid).

Setelah kita mengetahui beberapa kesalahan berfikir cukuplah kiranya bagi kita untuk tidak melakukannya lagi. Karena ibarat sebuah semesta himpunan yang memiliki anggota seluruh peristiwa yang terjadi dalam diri kita, kemudian dalam diagram venn itu di tengah-tengahnya terdapat himpunan peristiwa yang berdasarkan akal, sedang di luar himpunan itu adalah negasinya, yaitu himpunan peristiwa yang berdasarkan setan. Dengan mengetahui hal-hal yang berdasarkan setan, kita bisa menarik garis pembatas lingkaran yang ada di pusat ini menjadi batas dari akal dan setan. Dan dengan mengetahui garis pembatas ini, dimasa depan kita tidak bakalan terbujuk lagi dengan setan dalam bentuk kesalahan-kesalahan berfikir.
Sekedar tambahan, setan juga bisa berbentuk kesalahan berfikir yang mengakibatkan penyakit hati seperti; iri hati, sombong, kikir, dan banyak lagi. Dan untuk membahasnya itu di luar tema lembaran ini dan kemampuan kami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]