Biskal tentang Ospek

Setiap ajaran baru lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan khususnya di tingkat perguruan tinggi membuka pintu kampusnya untuk penerimaan mahasiswa baru. Dimulai dengan pendaftaran dan ujian seleksi hingga pengumuman lulus masuk dan pendaftaran kembali bagi yang dinyatakan lulus tes. Sebagai anggota baru dalam masyarakat kampus, mahasiswa baru (disingkat: maba) itu kemudian diharuskan mengikuti serangkaian acara pengenalan kampus. Ada bermacam-macam model acara yang diselenggarakan sesuai dengan kebijakan di kampus masing-masing.

Selama beberapa dekade yang lalu, di tahun-tahun 1950-1960-an, acara pengenalan kampus oleh maba disebut dengan perpeloncoan. Salah satu ciri perpeloncoan yang amat menyakitkan maba adalah “pencabutan hak sebagai manusia” dengan segala konsekuensinya, antara lain pembentukan mental penjajah. Ada kelompok yang berperan sebagai penjajah dan ada kelompok yang berperan terjajah. Dengan berlindung di balik paham mengubah kebiasaan perilaku dunia SLTA untuk masuk ke kebiasaan perilaku baru di dunia kampus perguruan tinggi; sesungguhnya acara-acara yang ditampilkan mengarah kepada pembentukan perilaku penjajahan. Senior/seniorita sebagai penjajah dan cama-cami (singkatan dari calon mahasiswa dan calon mahasiswi) sebagai kelompok terjajah. Hasilnya ialah, ketika para mahasiswa itu menjadi alumni dan memegang jabatan atau pemimpin masyarakat, maka mental mereka terbawa ke masyarakat menjadi mental penjajah yang selalu mau dilayani oleh mereka yang bernama rakyat atau bawahan dan bukan sebagai pejabat yang berkewajiban melayani kepentingan rakyat.

SEHARUSNYA
Mahasiswa (i) baru disiapkan untuk mengenal kampus perguruan tinggi; disiapkan mengenal norma dan budaya kampus. Norma dan budaya Kampus Perguruan Tinggi itu dilandasi oleh sikap dan perilaku Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan/pembelajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

KOMPETENSI INTI
Kampus perguruan tinggi adalah suatu lingkungan hidup kependidikan yang memiliki karakteristik tersendiri. Kampus adalah lembaga penyelenggara pendidikan tingkat tinggi, yang masyarakatnya terdiri dari kelompok-kelompok akademisi, pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kampus adalah pusat kegiatan keilmuan, teknologi dan seni yang menyiapkan manusia menjadi anggota masyarakat yang bertradisi rasional, cerdas dan berkepribadian luhur, berakhlak mulia.

Tiga pilar perguruan tinggi yang melandasi norma dan budaya kehidupan kampus disebut Tridarma Perguruan Tinggi (TPT), yaitu Pendidikan (pembelajaran), Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat. Ketiga pilar ini relevan dengan tradisi keilmuan, bahwa filosofi setiap ilmu pengetahuan harus mempunyai tiga kompenen dasar, yaitu ontologis, epistemologis dan aksiologis.
(1) Aspek ontologis adalah bahwa suatu ilmu pengetahuan mempunyai objek studi tertentu yang jelas; apa sasaran objek “materi” yang dipelajari oleh ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Halnya menyangkut bahan-bahan materi dan/atau non materi dan sumber belajar.
(2) Aspek epistemologis mengkaji tentang model-model pendekatan, metodologis atau strategi-strategi spesifik yang digunakan untuk mencari dan menemukan realitas kebenaran tentang objek studinya. Ini terangkum dalam darma penelitian.
(3) Aspek aksiologis adalah aspek tujuan dan penerapan ilmu pengetahuan untuk menjawab atau mengatasi problema-problema kehidupan ummat manusia, yaitu tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk menciptakan kesejahteraan ummat manusia. Halnya, terkandung dalam darma pengabdian kepada masyarakat.

Maba adalah kelompok masyarakat usia muda pilihan (melalui seleksi) dari masyarakat luar kampus yang mulai hadir/masuk kampus. Sebagai anggota baru dalam masyarakat kampus, maka maba perlu diperkenalkan dengan tradisi berupa nilai-nilai dan norma budaya kehidupan kampus perguruan tinggi yang berlandaskan Tridarma Perguruan Tinggi (TPT) tersebut. Suatu norma budaya kehidupan kampus yang berlandaskan TPT, berarti perilaku individu dan kelompok yang ditampilkan juga adalah representasi kemampuan sebagai pencerminan kehidupan ber-TPT yang baik dan benar. Masyarakat kampus adalah masyarakat yang berbudaya luhur; memiliki kearifan dan bijaksana, persaudaraan, senang memberi dan menerima. Masyarakat kampus bukan individu-individu yang bodoh dengan ciri kebodohan seperti angkuh, sombong, egois, serakah atau sejenisnya. Ciri masyarakat kampus perguruan tinggi adalah kehidupan kelompok kebersamaan yang cerdas, berbudaya dan beradab; makin berilmu makin arif; ibarat padi, “makin berisi makin merunduk”.

Jadi, hakikatnya adalah mempertegas realitas perilaku komunitas kampus yang mengetahui, menerima dan menguasai nilai-nilai luhur dari TPT, dan menolak (membenci, menjauhkan) penampilan yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma budaya TPT. Karena itu, seharusnya, porsi aktivitas dan even-even (jenis acara) yang ditampilkan dalam masa perkenalan maba adalah lebih besar penekanannya pada/dalam rangka membangun SIKAP (afektif) menerima nilai-nilai dan norma budaya kampus yang berlandaskan TPT. Dengan demikian, maka porsi aspek pengetahuan (kognitif) dan psikomotorik ditampilkan se-“kadar” sebagai faktor pendukung terbangunnya sikap positif maba terhadap nilai dan norma budaya kampus yang ber-TPT, karena aspek kognitif dan psikomotorik akan diperolehnya selama aktivitas perkuliahan berlangsung.

Jika dan jika SIKAP yang utama hendak dibangun, maka pendekatannya adalah pendekatan kecerdasan emosional (Emotional Quotient) dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Dan, bukan pendekatan kebodohan emosional (pa’bambangang na tolo) yang mempertontonkan kesombongan, egoisme, kekerasan dan pendendam.

Secara praktis yang dibutuhkan oleh maba adalah kecerdasan dalam berpikir, bersikap dan bertindak sebagai mahasiswa yang mampu mencari dan memanfaatkan peluang di dunia kampus sebagai lingkungan belajar secara efektif dan efisien. Dalam hal ini, menyangkut kecakapan yang dimiliki seseorang mahasiswa untuk mampu menghadapi problema hidup dan kehidupan kampus dengan wajar tanpa merasa tertekan (terjajah), kemudian secara kreatif dan proaktif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Untuk itu, aktivitas dan even-even yang diselenggarakan oleh panitia dan segenap pihak yang terlibat dalam rangkaian masa perkenalan maba dimaksudkan membantu para maba dalam mengembangkan kemampuan sebagai anggota “masyarakat belajar” (learning community). Mahasiswa baru diharapkan dapat mengembangkan potensi diri untuk menghadapi dunia nyata di lingkungan kehidupan kampus sehingga mampu memecahkan masalah-masalah kehidupan kampus yang akan dihadapinya. Sementara mahasiswa senior menempatkan diri sebagai konsultan sebaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]