Kesejahteraan versus Keserakahan

Dalam sebuah buku karangan Mubiyarto “Moral Ekonomi Petani” dilukiskan bahwa para petani di pedesaan kita dalam berusaha mengelola tanah-tanah pertaniannya adalah bersifat subsisten; yang artinya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanaman utama adalah tanaman untuk bahan makanan (padi, jagung, sayuran dan buah-buahan). Jadi bukan suatu bentuk ekonomi kapitalis yang berorientasi pasar untuk mengejar keuntungan dengan mempertimbangkan dan meperhitungkan selisih biaya produksi dengan keuntungan yang dapat diraup. Perekonomian kebanyakan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, didominasi oleh sektor pertanian. Perekonomian yang didominasi sektor pertanian sulit maju, maka langkah awal yang perlu dilakukan ialah memacu industrialisasi.

Karena itu pula, maka pemerintah Sulawesi Selatan, di era Ahmad Amiruddin, mencanangkan program perubahan pola pikir dan program petik – olah – jual, suatu program yang mengantar masyarakat Sulsel yang mayoritas petani ini agar dalam usaha pertaniannya berorientasi pasar. Agar para petani mulai berpikir tentang tanaman komoditi ekspor, tanaman bahan industri yang bisa laku di pasar luar negeri dengan harga yang menguntungkan. Program yang menghendaki agar petani tidak menjual hasil pertaniannya dalam bentuk mentah-mentah sebelum diolah, agar harganya lebih tinggi, meningkatkan nilai tambah komoditi petani. Pewilayahan komoditas menunjuk pada lahan-lahan mana yang cocok untuk pengembangan tanaman perkebunan guna menunjang pengembangan industri dalam negeri. Di wilayah mana saja di Sulsel yang tanah-tanah pertaniannya cocok untuk dikembangkan tanaman coklat, cengkeh, kopi, merica, tebu dan lain-lain. Juga di wilayah mana saja di Sulsel yang harus mempertahankan tanaman pangan untuk ketahanan pangan dalam swasembada beras. Kecocokan antara kemampuan lahan dengan jenis tanaman yang akan dikembangkan berdampak positif pada efisiensi teknik dan efisiensi harga faktor produksi, pengurangan biaya pupuk misalnya. Semuanya tertuju untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sulsel yang mayoritas petani.

Sejalan dengan program-program pemerintah itu, lahirlah pula saudagar-saudagar Bugis-Makassar yang benar-benar pengusaha sungguhan, pengusaha yang bekerja keras dalam berbagai bidang produksi pertanian, perikanan, peternakan, pertambangan, industri, perdagangan dan jasa. Mereka berusaha menciptakan barang dan jasa yang tidak semata-mata mengejar keuntungan (profit) belaka, tetapi juga benar-benar memuaskan para konsumennya. Semboyan “Resopa temmangingngi naiya naletei pammasena Dewata” benar-benar menjiwai para saudagar sungguhan ini. Mereka kerja keras, karena kerja keras adalah “panggilan bathinnya”, sebagai makna dari “resopa temmanginggi”. Cara yang dilakukannya pun adalah cara berusaha yang benar, wajar, karena dalam cara yang benar itu akan menjadi titian “pammasena dewata”, yaitu ridho Allah SWT.

Namun di balik itu, lahir pula pengusaha-pengusaha pemangsa (predator, kanibalis, sianre bale) yang semata-mata mengejar keuntungan (profit, laba) belaka, tanpa mempertimbangkan halal-haramnya cara berbisnis. Berbagai macam trik-trik licik dalam berbisnis dilakukannya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa kerja keras. Tragedi Kospin di Pinrang dan KSU Milik Bersama adalah contoh yang paling nyata; dan akan banyak contoh yang lain-lainnya lagi bila diperhatikan. Ciri-ciri pengusaha predator (pembunuh usaha orang lain) ini antara lain:
  1. Bermain kongkalikong dengan penguasa untuk menghidar dari tagihan pajak dan tuntutan hukum atas pejahatan bisnisnya.
  2. Bekerja sama dengan militer untuk mengamankan bisnis monopolinya.
  3. Berkantor di gedung dengan perabot mewah dan bemobil mewah untuk memamerkan seakan-akan perusahaannya adalah perusahaan yang bonafid.
  4. Membanting harga barangnya untuk mematikan usaha pesaingnya.
  5. Menyembunyikan barang dan mengurangi pasokan barang untuk menaikkan harga.

Dan masih banyak lagi ciri sebagai pengusaha di mana uang atau modal dipandangnya lebih kepada alat mengeksploitasi keuntungan daripada sebagai asset yang seharusnya dikelola secara efisien untuk memuaskan kebutuhan konsumen. Mereka tidak peduli apakah perilaku ekonominya merugikan orang lain atau tidak.

Kita pun akan banyak melihat para petani kita di pedesaan yang memeras keringat demi tuntutan cita-cita orang tua dan biaya pendidikan anaknya yang sedang sekolah di Makassar atau di Jawa sana, atau cita naik haji ke Tanah Suci menyempurnakan rukun ibadah Islamnya. Ranting-ranting pohon dan sesemakan ditebas untuk diolah menjadi tanah-tanah kebunnya demi cita kesejahteraan hidup yang ingin diraihnya. Cucuran keringat kelelahannya terlupakan dengan membayangkan onggokan-onggokan padi atau jagung di kamar, atau hamparan biji-biji coklat dan cengkeh yang dijemur di halaman.

Tetapi juga di balik itu, kita akan menyaksikan gaung-gaung senso para konglomerat yang menyapu bersih hutan-hutan lindung tanpa memperdulikan siapa lagi yang akan menjadi korban banjir, kehilangan jiwa dan harta bendanya. Di laut, kita akan menyaksikan para pengusaha ikan dengan pukat harimau, cara membom dan meracun ikan-ikan yang ikut menghancurkan ekosistem terumbu karang (potasium sianida, kalium sianida, KCN) “Cucuran keringat kelelahannya” terlupakan dengan membayangkan onggokan-onggokan uang di kamar atau tumpukan kartu kredit (credit card) di dompet. Kitapun dapat menyaksikan bagai mana manusia wanita bukan lagi dipandang sebagai faktor produksi tenaga kerja yang bekerja meningkatkan produksi, tetapi sudah lebih sebagai barang komoditas yang diperjual-belikan dalam bungkus kemasan ruangan berlampu remang-remang, berkelap-kelip, dan dalam alunan musik aliran barat. Sementara di depan rumah-rumah karaoke itu terpampang gambar dan merek-merek minuman bergengsi, kehormatan manusia modern, merek dan gambar minuman keras.
Cobalah kita saksikan sebuah contoh lagi, misalnya mengikuti konvoi mobil-mobil truk pengangkut kayu dari Luwu, dari tepi danau Towuti, dari DAS Malili, DAS Kalaena; dan perhatikan apa yang terjadi di setiap singgah di suatu pos penjagaan antara sang sopir dengan sang penjaga pos. Apakah itu rahasia umum? Hati-hatilah menegur mereka, karena mereka dikawal oleh anggota koramil dari kecamatan “Negeri Entah Berentah”. Belum lagi jika memeriksa, misalnya, SAKO-nya (Surat Angkutan Kayu Olahan) yang diterbitkan oleh Dinas Kehutanan setempat, Anda akan dibuat “tercengang”. Lalu bagaimana kelak dengan nasib DAS Malili, DAS Kalaena, DAS Kobo dll-nya, maka pasti akan sama dengan nasib DAS Walanae, DAS Bila yang telah dan akan banyak menyubangkan atau memberi kontribusi, antara lain, musibah banjir bagi penduduk Wajo dan Soppeng.

Kini generasi muda dan juga generasi dewasa kita sedang larut dalam jaringan bisnis para pengusaha predator kesejahteraan masa depan bangsa. Sebuah trik bisnis baru yang semata-mata mengejar uang; yaitu bisnis komoditi sabu-sabu, narkotika, obat-obat psikotropika dan lain-lain nama labelnya.
Dan akan banyak contoh, banyak contoh lagi jika kita mau mencermati para pelaku bisnis, pengusaha predator kita yang terhormat karena mampu menyumbang untuk bangunan mesjid, pesantren, isi amplop di pesta perkawinan dan lain-lain.

Demikian pula dalam perilaku konsumen, kita akan menyaksikan ada dua macam pola konsumen. Ada konsumen yang secara wajar ingin memperoleh manfaat atau kepuasan yang sebesar-besarnya dari tiap barang yang dikonsumsinya. Mereka menikmati dengan penuh rasa syukur apa yang diperoleh dengan kerja kerasnya. Mereka menggunakan barang (harta) secara wajar, tidak boros, tetapi juga tidak kikir. Tetapi ada pula yang tidak wajar, yaitu mereka yang menkonsumsi barang hanya untuk pamer. Di Amerika misalnya, seperti yang dilukiskan oleh seorang ahli ekonomi Amerika, Thorstein Bunde Veblen dalam bukunya yang terkenal berjudul The Theory of the Leisure Class (1899); yang diperhatikan masyarakat sekarang adalah uang. Segala sesuatu juga dinilai dengan uang. Sekarang orang tidak peduli apakah perilaku ekonominya itu merugikan orang lain atau tidak. Orang beramai-ramai mencari dan meperebutkan harta tanpa peduli akan cara. Hal ini tidak lain karena adanya anggapan bahwa hanya harta yang mampu menaikkan status, harga diri atau gengsi seseorang dalam masyarakat.

Jika harta telah terkumpul, orang punya banyak waktu untuk bersenang-senang (leisure). Dengan demikian pada masa sekarang, kemampuan utnuk hidup bersenang-senang juga dijadikan sebagai alat untuk memperlihatkan derajat atau status seseorang. Makin mampu ia tidak bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan produktif (leisure), makin tinggi derajatnya dalam masyarakat. Penyakit pamer banyak berjangkit terutama di kalangan perempuan-perempuan kita, tulis Veblen, banyak dapat kita saksikan mereka memakai gaun mode mutakhir berharga mahal, bahan-bahan kosmetik dari merek yang dipamer di TV oleh para selebriti kenamaan. Kehalusan wajah, kulit tubuh dan kehalusan jari-jemarinya seakan mengumumkan bahwa ia tidak pantas atau tidak cocok lagi untuk bekerja di sawah atau pada pekerjaan-pekerjaan produktif lainnya. Perhiasan emasnya seakan toko emas berjalan, dan terkadang harus minum obat antalgin dulu agar beratnya gelang emas di tangan dan kaki serta kalung di leher tidak terasa mengganggu gaya penampilannya.

Dengan harta melimpah orang berlomba-lomba membeli barang-barang mahal yang digunakan untuk pamer. Kecenderungan perilaku konsumsi seperti itu disebut Veblen dengan istilah conspicuous consuption dan oleh Duesenberry dengan istilah demontration effects.
Apa dampak perilaku konsumer seperti itu bagi pengelolaan sumberdaya alam? Seperti telah disebutkan di atas, dampaknya ialah melahirkan pengusaha-pengusaha predator; yaitu pengusaha yang tidak peduli lingkungan, tidak peduli sumber-sumber daya bumi ini adalah titipan anak-cucu yang harus dijaga kelestariannya, keberlangsungannya. Yang ia pedulikan adalah uang atau modal untuk mengeksploitasi sumber-sumber daya yang ada. Mereka adalah pengusaha yang membunuh pengusaha-pengusaha sungguhan yang bekerja keras dalam produksi dan distribusi yang juga menikmati dengan penuh rasa syukur setiap barang dan jasa yang diperolehnya dari hasil kerja kerasnya sendiri. Sementara di kalangan penguasa memunculkan pejabat-pejabat koruptor sebagai rekanan dan mitra usaha para pengusaha predator tersebut.

Jika kemudian lahan-lahan DAS, sumber-sumber daya alam lebih banyak di kuasai oleh segelintir orang dari kelas pengusaha predator, sementara para petani mayoritas pekerja keras berubah status menjadi buruh tani saja, maka kelak Insya Allah, akan terjadi kecemburuan sosial, akan terjadi pertentangan kelas dalam tragedi pertumpahan darah. Dan pada gilirannya negeri ini akan berkeping-keping dalam kerusuhan berkelanjutan seperti pada masyarakat Maluku, masyarakat Aceh, masyarakat Papua, Kalimantan, Poso dan lain-lain.

2 komentar:

  1. itulah konsekwensi Investor luar.
    Ibarat seorang berduit datang tinggal sementara digubuk kita, lalu ia bangun dapur kita dengan bentuk dan peralatan canggih... dimasaknya ayam-ayam yang kita pelihara lepas dihalaman, lalu dijual dengan harga tinggi. penghuni rumah kecipratan 1.Wah rumah yang cantik dapurnya; 2.Sang ayah dapat duit karena memberi izin; 3.anak-anak kita bisa makan dari bekerja mencabut bulu-bulu ayam.
    Waktu berselang,...dapur telah rongsok, ayam telah punah...sang investor mencari rumah lain.
    Kita tinggal digubuk tak bersemangat lagi.

    BalasHapus
  2. ayo kita bangun gubuk kita ini dan jangan biarkan tamu seperti itu datang lagi.....

    BalasHapus

[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]