Bapakku bicara tentang ospeknya...

Dekade Tahun 1960-an: Mencabut Hak Kemanusiaan

Di depan barisan cama-cami (panggilan untuk mahasiswa/I baru) ketua seksi acara Perpeloncoan (penerimaan mahasiswa baru), sambil memegang mike/megafon mengumumkan (antara lain),

“Mulai malam ini hak kalian sebagai manusia dicabut. Cama-cami diharuskan tertunduk di depan senior/seniorita, dilarang menatap mata dan muka senior/seniorita. Tatapan mata kalian ke bawah, ke tanah, ke atas tidak boleh lebih tinggi dari mata kaki senior dan seniorita. Kalian dengaaaar???!”. “Dengaaaar!!!”, sambut cama-cami serentak. Sementara di luar barisan cama-cami, berdiri para senior/seniorita dengan tampang dibengis-bengiskan, turut pula teriak, “Dengaaar itu!!!”. Ketua Seksi Acara melanjutkan, “Jika ada senior/seniorita lewat di depan kalian, semuanya harus tunduk terbungkuk hormat ala hormat Jepang. Semua cama-cami harus tunduk patuh pada perintah senior/seniorita. Barang siapa yang melanggar perintah, akan dihukum dengan hukuman yang berat”. Senior/seniorita pun teriak, “Dengaar itu!”. Sang Ketua Seksi Acara melanjutkan, “Sebagai acara pertama, yaitu acara pemanasan, maka corong saya serahkan kepada Seksi Olah Raga”.

Ketua Seksi Olah Raga maju mengambil bendera Pelonco untuk dijadikan tongkat komando. “Dengar kalian semuanya. Bila bendera ini diangkat naik-turun tinggi-tinggi, maka kalian harus pula ikut lompat-lompat di tempat tinggi-tinggi; bila bendera diangkat miring ke kiri atau ke kanan, ke depan atau ke belakang, maka lompat-lompatan kalian harus miring pula sama dengan ke arah mana miringnya bendera. Sekarang kita mulai, satu-dua, satu-dua, satu dua tiga empat, teruuuus …teruuus……”, dan seterusnya.

“Acara pemanasan dilanjutkan dengan acara kereta api berjalan. Semuanya duduk, tangan kiri dimasukkan ke bawah pantat sambil tangan kanan memegang tangan kiri teman yang ada di depannya; …. segera …. laksanakan. Senior koordinator masing-masing Jurusan diminta memegang tangan cama/cami yang paling depan sebagai lokomotifnya. Kereta api berjalan keliling lapangan ini; mulai, …. ayo mulai jalan”. Setelah tampak semua rata-rata kecapean, kereta api pun dihentikan. Selanjutnya cama-cami diperintahkan mengambil buku tulis masing-masing untuk acara perkenalan dengan senior/seniorita, disebut acara senior/seniorita.
Acara malam itu berlangsung sampai jam 02.00 dinihari. Dan besoknya, cama-cami wajib apel paling lambat pada jam 04.30 pagi. Demikian seterusnya hingga berjalan 3 minggu atau 1 bulan penuh.

Ada 3 (tiga) buah buku tulis yang disiapkan oleh cama-cami. Satu buku catatan tentang ceramah, satu buku perkenalan dengan dosen dan pejabat lembaga, dan satu buku lagi untuk perkenalan dengan mahasiswa senior (senior/seniorita). Pada buku catatan sudah dibuatkan tabel dengan kolom-kolom nama, jurusan, alamat dan tanda tangan. Buku catatan harus rapi dan bersih, bila tidak harus diganti baru. Cama-cami diwajibkan mengumpul sekian ratus tanda tangan dari senior/seniorita dan panitia, dan 100% dari jumlah dosen jurusan, serta tanda tangan pimpinan fakultas dan universitas.

Tanda tangan senior/seniorita dapat diperoleh di kampus, tapi tanda tangan dosen dan pimpinan fakultas/ institut/universitas harus diperoleh di rumahnya, atau diruang kerjanya. Dengan segala macam hambatan (bentuk tugas) yang harus dilalui, barulah tanda tangan itu dapat diperoleh satu per satu. Hambatan/tugas yang diberikan bermacam-macam; yang paling ringan adalah jika disuruh menyanyi, baca puisi, menterjemahkan kalimat bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah masing-masing. Tugas-tugas lainnya berupa membersihkan got/WC, menyapu halaman, mengangkat/ memindahkan barang, memijit-mijit kaki dan punggung senior/seniorita. Perintah-perintah senior/seniorita dilakukan dengan sikap serba bentakan yang tidak nyaman didengar. Hukuman kengkreng, push-up …x, bahkan ada diantaranya buku tandatangan dirobek.

Ringkasnya perpeloncoan di tahun-tahun 1960-an, dengan pencabutan hak sebagai manusia, berarti pembentukan mental penjajah.
Ada kelompok yang berperan sebagai penjajah dan ada kelompok yang berperan terjajah.
Dengan berlindung dibalik mengubah kebiasaan perilaku dunia SLTA untuk masuk ke kebiasaan perilaku baru di dunia kampus perguruan tinggi; sesungguhnya acara-acara yang ditampilkan mengarah kepada pembentukan perilaku penjajahan.

Senior/seniorita sebagai penjajah dan cama-cami sebagai kelompok terjajah. Hasilnya ialah, ketika para mahasiswa itu menjadi alumni dan memegang jabatan atau pemimpin masyarakat, maka mental mereka terbawa ke masyarakat menjadi mental penjajah yang selalu mau dilayani oleh mereka yang bernama rakyat atau bawahan dan bukan sebagai pejabat yang berkewajiban melayani kepentingan rakyat.

1 komentar:

  1. Variety Bathtub Taps everywhere, each one is addictive, and often people do not know how to choose. Which is a good Taps UK? But we can start with the material from the bathtub, Pull Out Kitchen Taps different materials are very different

    BalasHapus

[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]