Catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Saturday, 12 February 2011 at 21:18
Beberapa waktu yg lalu teman2x mendiskusikan di Jl. Pettarani tentang kebenaran ilmiah mengenai "ramalan" zodiak dalam astrologi yang terbit di halaman remaja salah satu koran terbesar di Makassar. Di catatan ini saya tidak bermaksud untuk menulis tentang hasil diskusi pada saat itu, saya hanya mencoba mengkaji secara sederhana pengaruh benda langit tersebut terhadap kehidupan manusia di atas bumi, mengambil sampel terdekat dulu dengan bumi yaitu BULAN. Teringat waktu SD dulu (thn 90-an), membaca sebuah artikel tentang pengaruh bulan di majalah 'mekatronika' terbitan 1981 (kalau tidak salah) trus saat SMP saya coba membacanya lagi, dan sekarang memanfaatkan kumpulan referensi dari internet coba saya rampungkan sedikit dalam catatan ini.
Bulan purnama penuh dengan cahayanya yang penuh memang memberikan kesan romantisme yang luar biasa, bahkan bagi mereka yang menggali sisi melankolisnya mampu melahirkan kata-kata puitis yang indah. Bagi petualang alam bebas, mengamati sinar purnama diatas puncak tertinggi atau lembah gunung akan menjadi kisah yang akan terus diceritakan. Selain itu kisa seram dari legenda manusia serigala hingga mitos manusia vampire dikaitkan dengan bulan purnama.
MENTAL PSIKOLOGIS
Menurut pskiater Arnold Lieber dalam bukunya Lunar Effect, adanya bulan purnama membuat emosi orang menjadi tidak stabil. Hal ini dikarenakan tubuh manusia yang 80 % merupakan cairan (lemak, darah, darah putih, getah bening, enzym dll) ikut tertarik gravitasi bulan. Lieber menemukan bahwa setiap terjadi bulan purnama jumlah kejahatan semakin bertambah daripada ketika bulan tidak sedang purnama (Dalam Akutahu edisi No: 60, Feb 1988).
Arnold Lieber, seorang psikolog dari University of Miami, melakukan penelitian tentang anggapan bulan purnama menambah kriminalitas dan Hasilnya gan Selama 15 tahun terjadi sekitar 1887 kasus pembunuhan di Miami. Angka tersebut meningkat saat mendekati bulan purnama dan berkurang di hari-hari lainnya!
sebuah laporan berjudul The Effect of the Full Moon on Human Behaviour dari American Institute of Medical Climatology yang mengulas efek bulan purnama. Laporan pun bilang kalau bulan purnama jadi saksi sejumlah kejadian kriminal seperti pembunuhan, pelanggaran lalu-lintas, pembakaran dan kleptomania. Bisa dibilang, orang-orang jadi lebih “gila” pada masa ini. Dari data Utah Bureau of Criminal Identification, tercatat kenaikan sebesar 220% pada kasus pembunuhan saat purnama. Operator telepon 911 (emergency number di Amerika) juga mengatakan bahwa setiap bulan purnama, panggilan 911 selalu mengalami peningkatan dan gigitan anjing meningkat.
Masih ada hubungannya dengan darah, ketika bulan purnama tiba, luka memang lebih banyak mengeluarkan cairan merah ini dimana hal ini dibuktikan oleh Dr. Edson J. Andrews dalam Journal of the Florida Medical Association. Ia menulis bahwa dari 1000 operasi amandel yang dilakukan mendekati bulan purnama, 82 persen-nya mengalami pendarahan pasca-operasi. Akhirnya, banyak dokter yang memilih untuk menunda operasi jika kebetulan bertepatan dengan siklus bulan purnama.
GEOLOGI
Bagi seorang berlatar belakang geografi sudah jelas saya yakini hubungan pasang surut air laut terhadap posisi bulan dalam kajian oseanografi. Namun bagaimana dengan wacana geologi utamanya vulkanologi?
Penelitian terhadap 52 letusan gunung berapi di Hawaii sejak Januari 1832 menunjukkan pola yang sama. "Hampir dua kali lebih banyak letusan terjadi di dekat waktu pasang maksimum (bulan purnama) daripada waktu pasang minimum."Para peneliti dari Hawaiian Volcano Observatory telah menandai bahwa pola periode letusan kawah Pu'u 'O'o di Hawaii sangat dekat dengan waktu pasang maksimum sampai akhirnya berhenti meletus hingga beberapa hari, yakni pada 1990.
Walaupun ini merupakan korelasi yang menarik, tapi pada penelitian terhadap 52 letusan gunung di Hawaii sejak 1832 itu, secara statistik memang sedikit peluang letusan gunung berapi yang dipicu oleh bulan purnama yakni cuma 1 persen. Dari total 3900 kali pasang maksimum bulan purnama, 3.850 di antara kejadian bulan purnama tidak berefek apa-apa.
Bagaimana di Indonesia? berikut ini adalah daftar letusan gunung berapi di Indonesia yang terkait dengan bulan purnama, diambil dari catatan blog Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin.
Letusan Gunung Tanggal Kejadian Bulan Baru/Purnama
Tambora (korban 92.000 orang) 10 – 12 April 1815 Bulan baru (10 April 1815)
Krakatau (korban 36.000 orang) 26-28 Agustus 1883 Bulan baru (1 September 1883)
Kelud (korban 10.000 orang) 19 Mei 1919 Purnama (15 Mei 1919)
Papandayan (korban 3000 orang) 12 Agustus 1772 Purnama, (13 Agustus 1772)
Selain fakta vulkanik sebenarnya ada beberapa fakta catatan tektonik juga yang membahasnya secara kebetulan atau kajian husus, tapi untuk malam ini saya rasa cukup dulu. nanti di lanjutkan dalam pembahasan husus.
SEJARAH DAN ISLAM
Bangsa Babilonia kuno menyebut pasien penyakit jiwa dengan nama lunatike (lunar = bulan dalam bahasa Latin). Sampai sekarang gan, bangsa Amerika juga masih memakai istilah ini (lunatic). Soalnya, percaya atau nggak, banyak dari penderita penyakit jiwa tersebut yang kambuh dan mengamuk saat bulan purnama tiba! Purnama dipercaya bisa membuat orang menjadi nggak tenang, tegang, risau dan mengkhayal.
Buku kuno dari Cina berjudul Shu Wen, Ba Zheng Shen Min Lun juga menegaskan bahwa kuat atau lemahnya tubuh manusia, darah dan energi memang mempunyai hubungan khusus dengan bulan purnama. Salah satu contohnya adalah komplikasi batuk darah akibat penyakit tuberculosis (TBC) yang kebanyakan terjadi 7 hari menjelang bulan purnama.
Orang-orang Arab yang menggunakan kalendar yang berdasarkan peredaran bulan (disebut kalender Arab – Qomariyah, Qomar artinya bulan, kalendar ini mempunyai 12 bulan seperti: Muharam, Shafar, Rajab, Syawal dsb) mempunyai kebiasaan melakukan puasa 3 hari berturut-turut setiap tanggal 13,14 dan 15 setiap bulannya pada bulan Qomariyah itu (saya tidak tahu pasti apakah kebiasaan puasa ini telah dipraktekan sejak masa Nabi Ibrahim-Ismail, yang hidup sekitar 1.000-2.000 SM ataukah hanya setelah masa Nabi Muhammad yang hidup sekitar tahun 600 M).
Sebagai informasi pada tanggal 13, 14, 15, 16 dan 17 terjadi bulan purnama penuh dengan puncak pada tanggal 15 atau 16 nya (cobalah anda keluar rumah pada tanggal tsb setiap bulan). Dengan puasa berarti mengurangi makan dan minum hingga sejumlah 50-75% dari saat normal, cairan tubuh pun berkurang drastis. Dengan berkurangnya cairan tubuh nampaknya orang-orang Arab berharap pengaruh (gravitasi) bulan dapat dikurangi sehingga lebih mudah mengontrol / mengendalikan diri.
Dari Abu Hurairah r.a (mirip nama anaknya dosenku di Geografi Dzaky Hurairah) berkata “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada saya untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dluha dan sholat witir sebelum saya tidur” [HR. Bukhori dan Muslim]. kemudian Dari Abu Dzarr r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda “Apabila kamu berpuasa tiga hari dalam suatu bulan maka berpuasalah pada tanggal 13, 14 dan 15″ [HR. At Turmudzy]. Jadi sebnarnya hal ini sebnarnya sudah diketahui dan disadari sejak 14 abad yg lalu oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Dianjurkannya berpuasa pada tanggal-tanggal tersebut karena pada saat itu Bumi, Bulan dan Matahari berada pada 1 GARIS LURUS, dan mana saat terjadi gaya tarik menarik (gravitasi) dan gaya sentifugal (keseimbangan) TERBESAR dibanding pada waktu yg lain, yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap BUMI DENGAN SEGALA ISINYA (Air laut saja bisa terpengaruh dengan terjadinya pasang tertinggi pada waktu ini, apalagi air (maksudx cairan: lemak, darah, darah putih, getah bening, enzym dll) pada tubuh Manusia itu juga akan meningkat, peningkatan cairan inilah tentunya akan brdampak pada mental dan perilaku manusia. Melalui puasa tersebut akan dapat mengurangi peningkatan/kinerja cairan tadi sehingga manusia dapat mengontrol diri.
POSISI BULAN
Sesungguhnya istilah BULAN PURNAMA hanyalah efek dari POSISI dari benda2 langit Bulan-Bumi-Matahari. Jadi ketika kita berbicara pengaruh benda2 langit terhadap bumi dan segala isinya termasuk utamanya manusia, maka yang selalu menjadi acuan/dasar adalah POSISI dari benda2 langit tersebut.
Pada waktu tertentu posisi bulan terhadap bumi berada pada jarak terdekat diantara keduanya (istilah astronomi-nya perigee), sedangkan jika bulan dan bumi berada pada saat jarak terjauh disebut dengan apogee. Jika cuaca cerah (clear sky) maka kita akan melihat bulan dengan ukuran lebih besar dari biasanya. Sebagai ilustrasi perigee dan apogee bisa dilihat dari gambar dibawah ini.
Di bulan februari ini, posisi Purnama akan terjadi pada 18 Februari 2011 GMT 08:37 / WITA 16:37. Sekedar saran jadikan momen untuk memberikan hal terbaik pada mereka yang disayangi ^_^ sebuah romantisme cinta, kasih sayang dan do'a namun tetap waspadai potensi bencana di daerah rawan dan tindakan kriminalitas di sekitar kita.
PENUTUP
Bagaimanapun bulan tidak hanya memberi dampak kepada alam dan ekosistem di bumi, dengan pemahaman yang cukup tentang gejala alam dan posisinya di univers inilah bagi sebagian orang memanfaatkannya untuk menjadikan pertimbangan dalam memenangkan negosiasi, melakukan ritual kepercayaan sampai mengungkapkan perasaan cintanya. Semoga di lain waktu tulisan singkat ini dapat saya lanjutkan dengan lebih baik...
[dari berbagai sumber]
Catatanku yang tersisa dari Blok M... tentang JAKARTA
catatan ini di facebook
by Jalaluddin Rumi Prasad on Friday, 20 May 2011 at 05:31
Blok M, jakarta 27 okt 2010
Jakarta sesungguhnya sebuah kota yang ingin dituju oleh hampir semua orang di Indonesia, apa lagi jika ada peluang bisnis atau harapan masa depan yang menjanjikan. Banyak hal yang mendasari, diantaranya karena jakarta sebagai ibu kota negara yang otomatis menjadi pusat pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Investasi terus bertumbuh seperti jamur di musim hujan, layaknya keseuaian lahan yang luar biasa gedung dan infrastruktur terus tumbuh seperti tanpa hambatan.
Kemacetan dan kebingungan
Pesatnya pertumbuhan infrastruktur menjadi magnet yang mengantarkan arus urbanisasi luar biasa. Kendaraan juga bertambah sebagai konsekuensi logis mobilitas yang tinggi bagi masyarakatnya. Selain pertambahan kendaraan pribadi, pertambahan sarana transportasi umumpun juga tak dapat di hentikan.
Hampir semua jenis transportasi darat umum di wilayah ibukota negara ini ada; kereta api, angkot, metro mini, mini bus, bus, bajay, ojek, bus way, taxi, dll. Hanya kendaraan umum yang tidak bermesin saja yang tidak akan kita temui seperti becak, delman dan kereta kuda lainnya.
Transportasi umum tersebut tentu lahir dari peran investasi yang menuntut keuntungan namun berhadapan dengan tantangan persaingan sesama rekan penyedia jasa angkutan lainnya. Persaingan memang memberikan dampak positif bagi konsumen, yaitu murahnya harga angkutan umum namun bukan berarti terlepas dari dampak negatif. Rendahnya biaya beban yang di berikan kepada penumpang dan tingginya nilai setoran yang harus di berikan kepada pemilik usaha jasa tersebut memaksa para supir dan kondektur untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya.
Tuntutan mendapatkan penumpang inilah yang kemudian memunculkan ketidak nyamanan bagi calon penumpang yang belum menguasai jalur dan arah transportasi umum di kota Jakarta. Terkadang penumpang diarahkan untuk asal naik saja sehingga harus menyambung angkutan lain untuk sampai ketujuan walaupun ada angkutan lain yang memang mengarah ke tempat yang ingin di tuju. Namun demi ingin mendapatkan penumpang, sang konduktor menyembunyikannya dari penumpang tersebut.
Taksi dan bajay juga memiliki trik yang berbeda. Hanya dengan menebak logat (dialek) sang supir sudah mengetahui bahwa penumpangnya tersebut tidak berasal dari Jakarta atau seseorang yang memang baru berkunjung ke jakarta. Hal ini menjadi kesempatan bagi sopir taksi dan bajay dengan cara mengarah ke berbagai jalan yang menambah jarak tempuh dan melalui jalur macet atau bahkan pura-pura pusing dan bingung mengenai lokasi yang akan dituju di tengah perjalanan.
Walaupun sebelum naik tetap ada komunikasi antara penumpang dan supir, namun ditengah perjalanan biasanya supir akan menanyakan kembali ke penumpang bahkan untuk dapat lebih natural sang supir akan singgah bertanya ke orang di pinggir jalan. Supir bajay jauh lebih “sakti” lagi untuk urusan ini, mereka malah singgah di pangkalan ojek-nya dan bertanya ke rekanannya yang lagi parkir dan dengan cekatan rekan-rekan supir bajay tersebut langsung tanggap dan berdiskusilah mereka tentang jalur (yang sesungguhnya telah mereka kuasai) hingga suaranya di dengarkan oleh penumpang yang hanya bisa menganga di bajay.
Trik ini tidak lain untuk dapat meningkatkan terus argo pembayaran karena lamanya waktu diatas taksi ataukah bagi supir bajay menjadi kesempatan meminta pertambahan biaya dari yang telah disepakati sebelumnya dengan alasan jauh. Jika kejadian ini terus berlanjut, sungguh tidak bermoral dan profesional.
Banjir
Memang benar jika jakarta sejak masih bernama batavia dulu sudah menjadi langganan banjir, namun sangat aneh jika di era kecanggihan sains dan teknologi saat ini kota sekelas Jakarta masih juga harus terendam banjir. Jangankan warga jakarta yang merasakan banjir tersebut, di daerah lainpun tetap dapat menonton kondisi jakarta yang direndam banjir melalui media televisi, namun belum ada upaya solutif yang bisa dihadirkan oleh pemda setempat dan pemerintah nasional untuk mampu membebaskan wilayah ini dari banjir.
Ayo kita bersama-sama menyalahkan kondisi morfologi dan topografi kota Jakarta yang memang tidak stabil rata, namun bukan berarti analisis arah dan drainase tidak bisa di jadikan solusi. Bukankah Belanda telah memberi contoh yang baik, bagaimana kotanya yang berada di cekungan yang ketinggiannya lebih rendah di bawah permukaan lautpun bisa terbebas dari genangan air sejak jaman dahulu.
Saat ini pemerintah masih salaing tuding dengan masyarakatnya tentang kondisi tersebut. Bagi pemerintah, masyarakatnyalah yang sering membuang sampah sembarangan sehingga menutup aliran air di saluran drainase dan disisi lain masyarakat menyalahkan balik pemerintah yang tidak memiliki kerja solutif untuk antisipasi banjir itu sebagai tanggungjawabnya untuk memberikan rasa nyaman bagi masyarakat.
Ribuan Mall
Teman saya yang sudah lama berdomisili di kota Jakarta mengatakan kepada saya saat ngopi di Kopi Luwak Plaza Blok M, “Rumi, kalau di kota kita Makassar di juluki kota ribuan Mall, maka Jakarta ini dapat kita juluki kota ribuan Mall dan plaza".
Memang benar, hampir di setiap kecamatan bahkan kelurahan di DKI jakarta ini memiliki mall, plaza ataupun square.
Entah ini sebuah kesengajaan dalam penataan ruang kotanya ataukah karena tuntutan para pengusaha yang ingin menanamkan investasinya di bidang jasa perdagangan modern dengan memanfaatkan kepadatan penduduk yang ada di setiap kecamatan sampai kelurahan di kota Jakarta ini. Bagaimanapun ini hanya kesimpulan sementara dalam perjalanan kali ini yang membuatku rindu dengan kedamaian dan kejujuran di kota makassar.
Makassar boleh di katakan rusuh di televisi atau media, tapi Jakarta adalah sebuah kota yang memperlihatkan kekejaman yang terselubung di balik gedung-gedung megahnya yang akan saya coba bahas dalam kesempatan lain jika 'mood' nulisku lagi datang.
by Jalaluddin Rumi Prasad on Friday, 20 May 2011 at 05:31
Blok M, jakarta 27 okt 2010
Jakarta sesungguhnya sebuah kota yang ingin dituju oleh hampir semua orang di Indonesia, apa lagi jika ada peluang bisnis atau harapan masa depan yang menjanjikan. Banyak hal yang mendasari, diantaranya karena jakarta sebagai ibu kota negara yang otomatis menjadi pusat pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Investasi terus bertumbuh seperti jamur di musim hujan, layaknya keseuaian lahan yang luar biasa gedung dan infrastruktur terus tumbuh seperti tanpa hambatan.
Kemacetan dan kebingungan
Pesatnya pertumbuhan infrastruktur menjadi magnet yang mengantarkan arus urbanisasi luar biasa. Kendaraan juga bertambah sebagai konsekuensi logis mobilitas yang tinggi bagi masyarakatnya. Selain pertambahan kendaraan pribadi, pertambahan sarana transportasi umumpun juga tak dapat di hentikan.
Hampir semua jenis transportasi darat umum di wilayah ibukota negara ini ada; kereta api, angkot, metro mini, mini bus, bus, bajay, ojek, bus way, taxi, dll. Hanya kendaraan umum yang tidak bermesin saja yang tidak akan kita temui seperti becak, delman dan kereta kuda lainnya.
Transportasi umum tersebut tentu lahir dari peran investasi yang menuntut keuntungan namun berhadapan dengan tantangan persaingan sesama rekan penyedia jasa angkutan lainnya. Persaingan memang memberikan dampak positif bagi konsumen, yaitu murahnya harga angkutan umum namun bukan berarti terlepas dari dampak negatif. Rendahnya biaya beban yang di berikan kepada penumpang dan tingginya nilai setoran yang harus di berikan kepada pemilik usaha jasa tersebut memaksa para supir dan kondektur untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya.
Tuntutan mendapatkan penumpang inilah yang kemudian memunculkan ketidak nyamanan bagi calon penumpang yang belum menguasai jalur dan arah transportasi umum di kota Jakarta. Terkadang penumpang diarahkan untuk asal naik saja sehingga harus menyambung angkutan lain untuk sampai ketujuan walaupun ada angkutan lain yang memang mengarah ke tempat yang ingin di tuju. Namun demi ingin mendapatkan penumpang, sang konduktor menyembunyikannya dari penumpang tersebut.
Taksi dan bajay juga memiliki trik yang berbeda. Hanya dengan menebak logat (dialek) sang supir sudah mengetahui bahwa penumpangnya tersebut tidak berasal dari Jakarta atau seseorang yang memang baru berkunjung ke jakarta. Hal ini menjadi kesempatan bagi sopir taksi dan bajay dengan cara mengarah ke berbagai jalan yang menambah jarak tempuh dan melalui jalur macet atau bahkan pura-pura pusing dan bingung mengenai lokasi yang akan dituju di tengah perjalanan.
Walaupun sebelum naik tetap ada komunikasi antara penumpang dan supir, namun ditengah perjalanan biasanya supir akan menanyakan kembali ke penumpang bahkan untuk dapat lebih natural sang supir akan singgah bertanya ke orang di pinggir jalan. Supir bajay jauh lebih “sakti” lagi untuk urusan ini, mereka malah singgah di pangkalan ojek-nya dan bertanya ke rekanannya yang lagi parkir dan dengan cekatan rekan-rekan supir bajay tersebut langsung tanggap dan berdiskusilah mereka tentang jalur (yang sesungguhnya telah mereka kuasai) hingga suaranya di dengarkan oleh penumpang yang hanya bisa menganga di bajay.
Trik ini tidak lain untuk dapat meningkatkan terus argo pembayaran karena lamanya waktu diatas taksi ataukah bagi supir bajay menjadi kesempatan meminta pertambahan biaya dari yang telah disepakati sebelumnya dengan alasan jauh. Jika kejadian ini terus berlanjut, sungguh tidak bermoral dan profesional.
Banjir
Memang benar jika jakarta sejak masih bernama batavia dulu sudah menjadi langganan banjir, namun sangat aneh jika di era kecanggihan sains dan teknologi saat ini kota sekelas Jakarta masih juga harus terendam banjir. Jangankan warga jakarta yang merasakan banjir tersebut, di daerah lainpun tetap dapat menonton kondisi jakarta yang direndam banjir melalui media televisi, namun belum ada upaya solutif yang bisa dihadirkan oleh pemda setempat dan pemerintah nasional untuk mampu membebaskan wilayah ini dari banjir.
Ayo kita bersama-sama menyalahkan kondisi morfologi dan topografi kota Jakarta yang memang tidak stabil rata, namun bukan berarti analisis arah dan drainase tidak bisa di jadikan solusi. Bukankah Belanda telah memberi contoh yang baik, bagaimana kotanya yang berada di cekungan yang ketinggiannya lebih rendah di bawah permukaan lautpun bisa terbebas dari genangan air sejak jaman dahulu.
Saat ini pemerintah masih salaing tuding dengan masyarakatnya tentang kondisi tersebut. Bagi pemerintah, masyarakatnyalah yang sering membuang sampah sembarangan sehingga menutup aliran air di saluran drainase dan disisi lain masyarakat menyalahkan balik pemerintah yang tidak memiliki kerja solutif untuk antisipasi banjir itu sebagai tanggungjawabnya untuk memberikan rasa nyaman bagi masyarakat.
Ribuan Mall
Teman saya yang sudah lama berdomisili di kota Jakarta mengatakan kepada saya saat ngopi di Kopi Luwak Plaza Blok M, “Rumi, kalau di kota kita Makassar di juluki kota ribuan Mall, maka Jakarta ini dapat kita juluki kota ribuan Mall dan plaza".
Memang benar, hampir di setiap kecamatan bahkan kelurahan di DKI jakarta ini memiliki mall, plaza ataupun square.
Entah ini sebuah kesengajaan dalam penataan ruang kotanya ataukah karena tuntutan para pengusaha yang ingin menanamkan investasinya di bidang jasa perdagangan modern dengan memanfaatkan kepadatan penduduk yang ada di setiap kecamatan sampai kelurahan di kota Jakarta ini. Bagaimanapun ini hanya kesimpulan sementara dalam perjalanan kali ini yang membuatku rindu dengan kedamaian dan kejujuran di kota makassar.
Makassar boleh di katakan rusuh di televisi atau media, tapi Jakarta adalah sebuah kota yang memperlihatkan kekejaman yang terselubung di balik gedung-gedung megahnya yang akan saya coba bahas dalam kesempatan lain jika 'mood' nulisku lagi datang.
Langganan:
Postingan (Atom)