PROSES PEMBENTUKAN TANAH

PROSES PEMBENTUKAN TANAH

Pembentukan tanah diawali oleh proses pelapukan batuan induk menjadi bahan induk. Dengan bekerjanya faktor-faktor pembentuk tanah terutama iklim dan organisme maka terjadi perubahan ukuran bahan induk menjadi lebih kecil, serta terjadi perubahan mineral primer menjadi mineral sekunder akibat pelapukan kimia. Mineral-mineral yang berasal dari pelapukan bercampur dengan bahan organik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan yang telah mati dan mengalami dekomposisi, selanjutnya menjadi humus. Humus-humus yang berukuran koloid dengan mengandung muatan negatif terutama asam-asam organik sehingga mampu menjadi pengikat antara mineral membantuk agregat tanah. Masukan atau input dari air hujan akan menyebabkan terjadinya reaksi kimia (hidrolisis) antara air dan bahan penyusun tanah. Disisi lain dengan adanya air hujan yang mengalami infiltrasi maka terjadi ikatan antara fraksi tanah dan air. Apabila kemampuan tanah mengikat air sudah tidak ada lagi (jenuh) maka air yang ada dalam pori tanah akan mengalir ke bawah oleh pengaruh gaya gravitasi. Air yang mengalir membawa unsur-unsur yang terlarut dalam air. Unsur-unsur yang terbawa sebagian mengalami alih tempat, juga ada yang keluar dari sistim tanah masuk kedalam sungai dan terus ke laut, terutama unsur-unsur basa yang disebut dengan pencucian (leaching). Dengan adanya proses pelapukan, yang diikuti pancampuran bahan organik, pencucian, pembentukan agregat (struktur), alih tempat dan alih rupa bahan tanah maka terbentuklah horison tanah. Harison tanah adalah lapisan-lapisan tanah yang terbentuk sejajar dengan permukaan bumi sebagai hasil dari proses pembentukan tanah.


Apabila kita menggali lapisan-lapisan horison tanah mulai dari permukaan sampai dengan batuan induk maka akan terlihat suatu penampang vertikal yang terdiri dari susunan-susunan horison tanah yang disebut dengan profil tanah. Pada tanah-tanah yang perkembangan horisonnya sempurna maka akan nampak mulai dari atas ke bawah adalah horison O, A, B, dan C. Sedangakn khusus horison A dan B disebut solum tanah. Adapun penjelasan dan pembagian dari masing-masing horison adalah sebagai berikut:

1. Horison O

Horiosn ini ditemukan terutama pada daerah hutan yang belum terganggu tanahnya. Horison O dapat dibagi atas :

a. O1 horison yang bentuk asli sisa-sisa tanaman masih jelas kelihatan.

b. O2 horison yang bentuk asli sisa tanaman sudah tidak bisa kelihatan.

2. Horison A

Horison A merupakan horison dipermukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral. Merupakan harison yang proses eluviasi terjadi yaitu proses pencucian unsur-unsur dan bahan-bahan halus seperti lempung. Horison ini dibagi atas tiga bagian yaitu:

a. A1: bahan mineral campur dengan humus, berwarna gelap

b. A2: horison dimana terdapat pencucian (eluviasi) maksimum terhadap lempung, Fe dan bahan organik.

c. A3: horison peralihan ke B, lebih menyerupai A.

3. Horison B

Horison iluviasi (penimbunan) dari bahan-bahan yang tercuci di atasnya (lempung, Fe, Al, bahan organik)

a. B1 horison perlaihan dari A ke B, tetapi lebih menyerupai B.

b. B2 horison penimbunan (iluviasi) maksimum liat, Fe dan Al oksida, kadang-kadang bahan organik.

c. B3 horison peralihan ke C, tetapi lebih menyerupai B.

4. Horison C

Horison C merupakan horison yang masih sedikit mengalami pelapukan, horison C biasa juga disebut dengan horison isovolumetrik. Yaitu harison dimana volume batuan belum mengalami perubahan tetapi berat jenis batuan telah mengalami perubahan akibat adanya unsur-unsur penyusun batuan yang keluar dari batuan induk.

Dalam pembentukan tanah terjadi berbagai proses pembentukan tanah. Proses pembentukan tanah menyangkut beberapa hal yaitu:

1. Penambahan bahan-bahan dari tempat lain ke tanah misalnya:

a. Penambahan air hujan

b. Penambahan O2 dan CO2 dari atmosfer

c. Penambahan N, Cl, S dari atmosfer dan curah hujan

d. Penambahan bahan organik dari sisa-sisa tanaman dan hewan.

e. Bahan endapan (baik bahan dari proses aluvial maupun volkanik)

2. Kehilangan bahan-bahan yang ada dalam tanah, misalnya

a. Kehilangan air melalui penguapan (evapotranspirasi)

b. Kehilangan N melalui proses denitrifikasi

c. Kehilangan C (bahan organik) sebagai CO2, karena dekomposisi bahan organik.

d. Kehilangan tanah kerena erosi

e. Kehilangan energi karena radiasi.

3. Perubahan bentuk (transformation) misalnya:

a. Perubahan bahan organik kasar menjadi bahan organik halus.

b. Penghancuran pasir menjadi debu, kemudian menjadi liat.

c. Pembentukan struktur tanah

d. Pelapukan mineral dan pembentukan mineral liat

e. Pembentukan konkresi.

4. Pemindahan dalam solum, misalnya:

a. Pemindahan liat, bahan organik, Fe, Al dari lapisan atas ke lapisan bawah.

b. Pemindahan unsur hara dari lapisan bawah ke lapisan atas melalui siklus kegiatan vegetasi.

c. Pemindahan tanah dari lapisan bawah ke atas melalui kegiatan heawan seperti tikus, rayap, cacing dsb.

d. Pemindahan garam-garam dari lapisan bawah ke atas melalui air kapiler.

Tabel. Beberapa contoh Proses Pembentukan Tanah

No

Proses

Penjelasan

1

a. Eluviasi

b. Iluviasi

(4)* Pemindahan bahan-bahan tanah dari satu horison ke horison lain.

(4) Penimbunan bahan-bahan tanah dalam suatu horison

2.

a. Leaching

b. Enrichment

(2) Pencucian basa-basa (unsur hara) dari tanah

(1) Penambahan basa-basa (unsur hara) dari tempat lain.

3

a. Dekalsifikasi

b. Kalsifikasi

(4) Pemindahan CaCO3 dari tanah atau suatu horison tanah.

(4) Penimbunan CaCO3 dalam suatu horison tanah

4

a. Desalinisasi

b. Salinisasi

(4) Pemindahan garam-garam mudah larut dari tanah atau suatu horison tanah.

(4) Pemindahan garam-garam mudah larut dalam suatu horison tanah

5

a. Dealkalinisasi (solodisasi)

b. Alkalinisasi (solonisasi)

(4) Pencucian ion-ion Na dalam suatu horison tanah.

(4) Akumulasi ion-ion Na dalam suatu horison tanah

6

a. Lessivage

b. Pedoturbasi

(4) Pencucian (pemindahan) liat dari suatu horison ke horison lain dalam bentuk suspensi (secara mekanik). Dapat terbentuk tanah ultisol (podsolik) atau alfisol.

(4) Pencampuran secara pisik atau biologik beberapa horison tanah sehingga horison-horison tanah yang telah terbentuk menjadi hilang, terjadi pada tanah-tanah vertisol (grumosol)

7

a.Podzolisasi (Silikasi)

b. Desilikasi (feralisasi, laterisasi, latolisasi

(3,4) Pemindahan Al an Fe dan atau bahan organik dari suatu horison ke horison lain secara kimia. Si tidak ikut tercuci sehingga pada horison yang tercuci meningkat konsentrasinya. Dapat terbentuk tanah spodosol (podzol)

(3,4) Pemindahan silika secara kimia keluar dari solum tanah sehingga konsentrasi Fe dan Al meningkat secara relatif. Terjadi di daerah tropika dimana curah hujan dan suhu tinggi sehingga Si mudah larut. Dapat terbentuk tanah oxisol (laterit, latosol)

8

a. Melanisasi

b. Leusinasi

(1,4) Pembentukan warna hitam (gelap) pada tanah karena pencampuran bahan organik dengan bahan mineral. Dapat terbentuk tanah Mollisol.

(4) Pembentukan horison pucat karena pencucian bahan organik.

9

a. Braunifikasi, rubifikasi, Feruginasi

b. Gleisasi

(3,4) Pelepasan besi dari mineral primer dan disperdi partikel-partikel besi oksida yang makin meningkat. Berdasar besarnya oksida dan hidrasi dari besi oksida tersebutmaka dapat menjadi coklat(braunifikasi), coklat kemerahan (rubifikasi) dan merah (feruginasi).

(3,4) Reduksi besi karena keadaan anaerobik (tergenang air) sehingga terbentuk warna kebiruan atau kelabu kehijauan.

10

a. Littering

b. Humifikasi

(1) Akumulasi bahan organik setebal kurang dari 30 cm dipermukaan tanah mineral.

(3) Perubahan bahan organik kasar menjadi humus

Keterangan *

(1): Penambahan bahan ke tanah

(2) kehilangan bahan dari tanah

(3) Perubahan bentuk (transformasi)

(4) Pemindahan dalam tanah (translokation)

Simbol Baru Horison

Penamaan horison tanah mengalami perubahan yang dilakukan oleh Soil Survey Staff (1987). Adapun perubahan tersebut adalah sebagai berikut:

Nama Lama

Nama Baru

Penjelasan

O

O

Hoison organik yang selalu jenuh air atau tidak pernah jenuh air. Kandungan bahan organik > 20% (pasir) atau 30 % (lempung)

O1

Oi, Oe

Tingkat dekomposisi bahan organik kasar (fibrik= i) atau sedang (hemin= e)

O2

Oa, Oe

Tingkat dekomposisi bahan organik halus (saprik = a) atau sedang (hemik = e)

A1

A

Horison mineral di permukaan, campuran bahan mineral dan bahan organik.

A2

E

Horiosn eluviasi maksimum

A3

AB

EB

Perlaihan A1(A) ke B lebih menyerupai A1(A)

Perlaihan dari A2 (E) ke B, lebih menyerupai A2 (E)

B1

BA

BE

Peralihan dari A1(A) ke B, lebih menyerupai B

Peralihan dari A2 (E) ke B, lebih menyerupai B

B2

B

a. horison iluviasi (penimbunan) liat, Fe, Al atau humus

b. konsentrasi (penimbunan) relatif dari seskuioksida (Fe, Al) karena Si tercuci

c. terdapat perubahan (alterasi) dari bahan induk misalnya (terbentuk mineral liat, oksida-oksida dibebaskan sehingga warnah menjadi lebih merah, terbentuk struktur tanah granuler, gumpal (blocky), prismatik dan lain-lain.

B3

BC

CB

Perlihan dari B ke C lebih menyerupai B

Peralihan dari B ke C lebih menyerupai C

C

C

Bahan induk (regolit), lunak

R (D)

R

Batuan induk, keras

Horison Peralihan

Horison peralihan diberi simbol dengan dua huruf besar dari masing-masing horison utama yang beralih sifat.

1. Horison AB (nama lama A3): yaitu horison peralihan dari A ke B, tetapi lebih menyerupai A

2. Horison EB (nama lama A3): horison peralihan dari E ke B tetapi lebih menyerupai E.

3. Horison BA (nama lama B1): horison peralihan dari E ke B, tetapi lebih menyerupai B.

4. Horison BC (nama lama B3): horison peralihan dari B ke C, tetapi lebih menyerupai B

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa horison utama yang dominan selalu ditulis lebih dahulu. Selain itu perlu dijelaskan bahwa simbol horison peralihan tetap digunakan meskipun salah satu horison utamanya sudah tidak ada. Misalnya simbol horison AB tetap digunakan meskipun horison A telah hilang tererosi. Demikian pula simbol horison BC tetap digunakan meskipun horison C telah hilang berubah menuju ke horison B.

Kadang-kadang ditemukan horison peralihan yang terdiri dari dua horison utama misalnya akibat salah satu horison menyusup ke dalam horison yang lain. Untuk horison seperti ini simbol khusus perlu diberikan dengan garis miring di antara dua simbol horison yang bersangkutan.

1. Horison E/B: horison peralihan terdiri dari horison E dan horison B , volume horison E lebih banyak daripada horison B.

2. Horison B/E: horison peralihan terdiri dari horison B dan horison E, volume horison B lebih banyak daripada horison E.

3. Horison B/C: horison peralihan terdiri dari horison B dan horison C volume horison B lebih banyak dari pada horison C.

Simbol Tambahan

Simbol tambahan untuk menunjukkan sifat-sifat khusus harison utama atau lapisan, adalah berupa huruf kecil yang dituliskan di belakang simbol horison atau lapisan yang bersangkutan.

1. a : bahan organik dengan pelapukan lanjut (saprik). Simbol tambahan untuk horison atau lapisan O

2. b : horison genetik yang tertimbun. Hanya untuk horison mineral. Tidak digunakan untuk tanah organik maupun membedakan lapisan organik dengan mineral.

3. c : konkresi atau nodul dengan bahan utama besi, mangan, aluminium atau titanium. Tidak digunakan untuk konkresi atau nodul dolomit, kalsit, atau garam lain yang lebih mudah larut.

4. d : lapisan yang memadat (kerapatan lindak tinggi) sehingga tidak dapat ditembus akar tanaman, misalnya lapisan tapak bajak.

5. e : bahan organik dengan tingkat pelapukan sedang (hemik). Hanya untuk horison atau lapisan organik.

6. f : tanah yang membeku. Horison yang mengandung es permanen, bukan hanya pada waktu dingin.

7. g : gleisasi kuat. Gleisasi kuat ditunjukkan oleh warna tanah dengan kroma rendah dan banyak yang berkarat. Tidak untuk bahan induk yang memang kromanya rendah seperti shale/serpih ataupun horison E, kecuali kalau proses gleisasi benar terjadi. Simbol “g” digunakan untuk horison B hanya jika gleisasi.

8. h : akumulasi iluvial bahan organik. Untuk horison B dengan iluviasi kompleks organik-seskuioksida, terutama Al tetapi jumlahnya sedikit. Bila seskuioksida cukup banyak tetapi tetapi warna tanahnya gelap gelap (bahan organik tinggi) dengan value dan kroma 3 atau kurang maka diberi simbol Bhs.

9. i : bahan organik kasar (fibrik). Digunakan untuk horison O.

10. k : akumulasi karbonat, biasanya kalsium karbonat.

11. m : pemadasan yang kontinyu, dan lebih dari 90 persen memadas. Tidak dapat ditembus akar kecuali melalui bidang-bidang patahan. Bila digabungkan dengan bahan perekatnya maka dituliskan sebagai berikut

- km : padas dengan bahan perekat karbonat

- qm : padas dengan perekat silika

- sm : padas dengan perekat besi

- ym : padas dengan perekat gipsum

- kqm : padas dengan perekat kapur dan silika

- zm : padas dengan perekat garam yang lebih mudah larut dari pada gipsum.

12. n : akumulasi natrium dapat ditukar

13. o : akumulasi resiual seskuioksida. Simbol ini berbeda dengan simbol “s” yang menunjukkan akumulasi seskuioksida (kompleks dengan humus) karena proses iluviasi, sedangkan simbol “o” merupakan akumulasi residual seskuioksida akibat pencucian silika.

14. p : pengolahan tanah, untuk tanah-tanah yang diolah baik tanah organik (Op) maupun tanah mineral (Ap). Horison E, B atau C yang muncul di permukaan kemudian diolah, semuanya di beri simbol Ap.

15. q : akumulasi silika sekunder. Bila memadas dan kontinyu, simbolnya adalah qm.

16. r : batuan melapuk atau lunak. Simbol tambahan untuk horison C, misalnya batuan beku yang melapuk, batu pasir, batu serpih. Akar tanaman tidak dapat menembus, kecuali lewat bidang patahan. Dapat digali dengan cangkul.

17. s : akumulasi iluvial seskuioksida dan bahan organik. Digunakan untuk horison B, misalnya dengan akumulasi iluvial kompleks seskuioksida bahan organik, dan mempunyai warna dengan value dan kroma lebih dari 3. Bila baik bahan organik maupun seskuioksida jumlahnya cukup banyak dan value serta kroma 3 atau kurang maka simbolnya hs.

18. ss: terdapat bidang kilir. Ditemukan pada tanah yang mempunyai sifat mengembang (kalau basah) dan mengkerut (kering).

19. t: akumulasi liat silikat, baik akibat iluviasi atau pembentukan dan pemindahan dalam horison yang bersangkutan (in situ) atau kedua-duanya. Lempung dapat ditemukan dalam bentuk selaput lempung dipermukaan butir struktur tanah, dalam pori-pori lamela, atau sebagai penghubung butir-butir mineral tanah.

20. v : plintit. Digunakan untuk horison yang banyak mengandung bahan berwarna merah, kaya besi, miskin humus, teguh atau sangat teguh bila lembab dan mengeras tidak balik bila terbuka di udara dan mengalami basah dan kering berulang-ulang.

21. w : ada perkembangan warna atau struktur. Digunakan untuk horison B yang baru ada perkembangan warna atau struktur, atau kedua-duanya, dengan sedikit atau tanpa akumulasi iluvial bahan tanah tertentu. Tidak digunakan untuk horison peralihan.

22. x : fragipan. Menunjukkan adanya lapisan padas (kerapatan lindak tinggi), teguh tetapi rapuh.

23. y : akumulasi gipsum (CaSO4)

24. z : akumulasi garam yang lebih mudah larut daripada gipsum

Aturan Penggunaan Simbol Tambahan

Horison atau lapisan utama dapat mempunyai satu atau lebih simbol tambahan dengan aturan sebagai berikut:

1. Simbol tambahan ditulis langsung dibelakang simbol horison atau lapisan utama..

2. Umunya tidak lebih dari tiga simbol tambahan.

3. Horison permukaan yang diolah hanya diberi simbol tambahan p kecuali ada akumulasi kalsium karbonat (kp), kalsium sulfat (py) atau garam mudah larut.

4. Bila diperlukan lebih dari satu simbol tambahan, maka hruf-huruf berikut harus ditulis paling dulu: a, d, e h, I, r, s, t dan w. Kombinasi huruf-huruf tersebut hanya dapat dilakukan untuk Bhs atau ct.

5. Bila diperlukan lebih dari satu simbol tambahan dan bukan merupakan horison tertimbun, maka huruf-huruf berikut harus ditulis paling akhir c, f, g, m, v dan x.

6. Untuk horison tertimbun huruf b harus ditulis paling akhir. Huruf b hanya digunakan untuk tanah mineral yang tertimbun.

7. Horison B yang mempunyai akumulasi liat tinggi (t) dan juga menunjukkan perkembangan warna atau struktur atau kedua-duanya (w) di beri simbol Bt ( t diutamakan terhadap w, s dan h). Untuk horison B yang mempunyai sifat g, k, n, q, y, z atau o dan juga mempunyai akumulasi liat (t) maka huruf t harus di tulis lebih dahulu, misalnya Bto, Btg, Btn, dsb.

8. Simbol h, s, dan w tidak dapat digunakan bersama-sama dengan simbol g, k, n, q, y, z atau o kecuali hanya untuk tujuan penjelasan.

9. Kecuali yang disebutkan diatas, maka simbol horiosn tambahan dituliskan menurut abjad.

Pembagian Vertikal

Horison yang telah diuraikan di atas, kadang-kadang perlu di bagi lebih lanjut karena adanya perbedaan beberapa sifat morfologi misalnya struktur tanah, warnah, tekstur dll. Untuk horison C, misalnya dapat dibagi menjadi C1-C2-C3 dan seterusnya atau kalau bagian bawah mengalami gleisasi maka pembagiannya menjadi C1-C2-Cg1-Cg2, atau C- Cg1-Cg2-R. Penomoran selalu dimulai dengan angka 1 untuk horison apapun. Contoh lain misalnya Bt, dapat dibagi menjadi Bt1-Bt2-Btk1-Btk2 bukan Bt1-Bt2-Btk3-Btk4, karena Bt dan Bk adalah horison yang berbeda meskipun sama-sama horison iluviasi lempung.

Diskontinuitas

Diskontinuitas menunjukkan adanya horison berasal dari bahan induk yang berbeda di dalam satu profil tanah. Perbedaan tersebut ditunjukkan oleh perbedaan susunan besar butir atau susunan mineralogi yang nyata atau perbedaan umur, kecuali kalau perbedaan umur tersebut telah diberi simbol b. Lapisan-lapisan pada bahan aluvial tidak termasuk bahan diskontinuitas, kecuali bila terdapat perbedaan besar butir yang nyata,

Simbol diskontinuitas hanya digunakan pada tanah mineral dan ditunjukkan dengan angka arab di depan simbol horison, pada bahan induk yang kedua dan seterusnya, misalnya: Ap-E-Bt1-2Bt2-2Bt3-3Bt4-3BC. Contoh diatas menunjukkan bahwa horison Ap, E dan Bt1 berasal dari bahan induk pertama (angka 1 tidak perlu ditulis di depan simbol horison), Bt2 dan Bt3 berasal dari bahan induk kedua, Bt4 dan Bc berasal dari bahan induk ketiga.

7 komentar:

[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]