Prediksi Besarnya Erosi

Prediksi Besarnya Erosi

Arsyad (1983) dalam Sjahrullah (1987), mengemukakan bahwa prediksi erosi sangat bermanfaat untuk menentukan cara pencegahan erosi atau sistem pengelolaan tanah pada umumnya, sehingga kerusakan tanah oleh erosi dapat ditekan sekecil mungkin.

Dalam menentukan jumlah tanah yang mungkin tererosi dari sebidang tanah di bawah suatu sistem pengelolaan tertentu, perlu ditetapkan berapa besarnya erosi dari tanah tersebut yang masih dapat diperkenangkan/diperbolehkan. Untuk memprediksi erosi tanah, soil conservation service USDA memperhitungkan lima faktor yang mempengaruhi erosi yaitu iklim, topografi, vegetasi, tanah dan manusia, yang dikenal dengan rumus Universal Soil Loss Equation (Kartasapoetra, 2000).


Gabriels dalam Kartasapoetra, (2000) menyederhanakan faktor-faktor yang mempengaruhi erosi menjadi dua, yaitu erositivitas dan erodibilitas. Jika faktor-faktor kriteria USDA dan yang ditemukan Hudson dalam Kartasapoetra (2000) digabungkan dalam bentuk bagian yang nampak dalam Gambar 2.2. Faktor –faktor penyebab erosi.

Gambar 2.2 faktor-faktor Penyebab erosi (Kartasapoetra, 2000).

Untuk memprediksi besarnya erosi dari sebidang tanah tertentu pada suatu kecuraman lereng dengan pola hujan tertentu untuk setiap macam penanaman dan tindakan pengelolaan yang mungkin dilakukan atau yang sedang dilakukan atau yang sedang dipergunakan, digunakan Persamaan Umum Kehilangan Tanah (PUKT) atau Universal Soil Loss Equation (USLE) (Wischmeier dan Smith, 1978 dalam Arsyad 1989) dan rumusnya adalah sebagai berikut


A = R. K. L. S. C.P

Dimana:


A = Banyaknya tanah tererosi dalam (ton/ha/tahun)
R = Faktor hujan dan aliran permukaan (ton/ha/tahun)
K = Faktor erodibilitas tanah merupakan kehilangan tanah persatuan luas untuk; indeks erosivitas hujan dari tanah terbuka dengan kelerengan 9% dan panjangnya 22,14 m.
L = Faktor panjang lereng (m)
S = Faktor kecuraman lereng (%)
C = Faktor pengelolaan Tanaman
P = Faktor praktek pengendalian erosi secara mekanis (Wichmeier dan Smith, 1978 dalam Asdak, 1995).

Persamaan tersebut oleh Wischmeier (1979) dianggap memiliki kegunaan sebagai berikut :
  1. Meramalkan kisaran kehilangan tanah tahunan lahan yang khusus;
  2. Memberikan petunjuk dalam memilih sistem pengelolaan pertanaman dan praktek konservasi secara mekanis yang cocok pada suatu lahan yang miring;
  3. Meramalkan perubahan kehilangan tanah yang akan dihasilkan akibat adanya perubahan sistem pengolahan pertanaman dan praktek konservasi secara mekanis pada suatu lahan;
  4. Menentukan bagaimana praktek-praktek konservasi harus dilakukan agar dapat diperoleh cara pengelolaan lahan yang lebih intensif;
  5. Meramalkan kehilangan tanah dari penggunaan lahan diluar pertanian (Ananta, 1991 dalam Nasiah, 2000).
Asdak, (1995) mengemukakan kelemahan dari persamaan tersebut yakni sebagai berikut :
  1. Persamaan Umum Kehilangan Tanah (PUKT) bersifat empiris dan secara matematik tidak mewakili proses erosi yang sebenarnya.
  2. Persamaan Umum Kehilangan Tanah (PUKH) dirancang untuk memperkirakan besarnya kehilangan tanah rata-rata tahunan.
  3. Persamaan Umum Kehilangan Tanah (PUKT) hanya memperkirakan erosi.
  4. Persamaan Umum Kehilangan Tanah (PUKT) tidak memperhitungkan endapan sedimen.
Daftar Pustaka

Kartasapoetra, dkk. 1985. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Rineka Cipta. Jakarta.
Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nasiah. 2000. Evaluasi Kemampuan Lahan dan Tingkat Bahaya Erosi Untuk Prioritas Konservasi Lahan di Daerah Aliran Sungai Takapala Kabupaten Dati II Gowa Propinsi Sulawesi Selatan. Tesis. Program Pasca sarjana, UGM. Yogyakarta.
Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. UGM Press. Yogyakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

[Informasi Tracking Satelit Aqua (Modis) Secara Real Time]